Minggu, 06 September 2015

Mengajak bukan Mengejek



MENGAJAK BUKAN MENGEJEK
Oleh : YUSUP, S.Pd, MM.
Khutbah Pertama
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. قَالَ تَعَالَى
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
} فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي اْلأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ {159}

Hadirin sidang sholat jum’at rokhimakumullah……..
Banyak orang sesak dadanya tersiksa ia karena ia selalu merasa sakit hati dengan omongan orang yang mencoba mengkritisi,oleh karena itu sedikit sekali orang yang mempunyai jiwa yang besar menerima pendapat dan pikiran orang lain,persoalan yang perlu didudukan pada posisi yang sebenarnya adalah bahwa Islam mengajarkan kita mengontrol sistem kehidupan atau  sistem kerja.jadi mengritisi itu sah dan halal dilarang oleh ajaran islam adalah memfitnah dan atau menginakan orang
Mengkritisi itu harus dengan fakta kejadian yang menyimpang yang dilakukan orang atau kelompok ,atau rezim yang merugikan orang atau merugikan umat islam
Marilah Kita Perhatikan Surat Al Imron ayat 159
} فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي اْلأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ {159}
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. 3:159)

Hadirin Sidang Sholat jum’at  yang dimulyakan Allah SWT
Pada hakekatnya naluri setiap manusia tidak ingin didikte atau digurui,oleh karenannya kita harus hati-hati di dalam berda’wah jangan mengejek tetapi mengajak . Cobalah kita lihat anak balitapun tak mau diatur didikte dan diajari apalagi kita orang dewasa,inilah yang kurang disadari umat islam bagaimana berda’wah sasran da’wah tanpa dia sadari kalau dia sedang di da’wahi .ketidakluwesan inilah yang akhirnya diantara kita sering urusan kita terganjal karenanya.pengajianpun menjadi rapuh,karena merasa tidak nyaman berada di situ,persahabatan tak lagi mesra dan harmonis karena perkataan yang menyinggung bukan kehormatan yang dijunjung .Lalu bagaimana kita kita harus berda’wah ? yang mengajak bukan mengejek :
Yang pertama : kita harus menghargai eksistensi orang lain  mengapa kita harus menghargai eksistensi orang lain ? karena sekecil apapun status social seseorang dia memiliki potensi yang dibekali oleh Allah,walaupun dalam pandangan manusia potensi seseorang sering tidak terlihat,karena kadar potensi yang diberikan Allah kepada manusia tidak sama.Contoh seseorang yang hanya berpendidikan rendah,bahkan SD pun ia tidak sampai lulus ,tetapi ia punya tenaga maka hargai eksistensi yang ia miliki tersebut untuk manfaat bagi dirinya dan manfaat bagi kepentingan umum,disamping itu seseorang yang berpendidikan rendah tersebut bisa jadi punya potensi keterampilan otodidak yang lahir dari lingkungannya karena keterampilan kasar dapat dipelajari tanpa tanpa pendidikan formal,marilah kita hargai eksistensi potensi yang ada pada dirinya, marilah kita mengajak mereka bukan mengejek
Hadirin sidang jum’at rokhimakumullah….
Ada sesorang yang berpendidikan tinggi tetapi dia tak pandai mengutarakannya melalui personifikasi kata dan kalimat,marilah kita hargai eksistensi potensi yang ada pada dirinya dengan mengajak berbuat dan beramal sholeh,kita berusaha mengajak bukan mengejek. Seseorang yang telah berusia lanjut,marilah kita menghargai eksistensi potensi dirinya dengan menghormati dan menggali pengalaman hidupnya lagi-lagi kita harus berusaha mengajak bukan mengejek.Sesorang yang masih muda dia punya semangat dia punya idia;isme,cita-cita dan harapan marilah kita menghargai mereka dengan membimbing mengarahkan dan menyayangi mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang tetapi yang sering terjadi karena anak muda sering bersikap instan dengan semangatnya yang luar biasa kita menanggap mereka berambisi dan menguasai ,justru marilah kita mengajak mereka bukan mengejek  
Seseorang yang hidupnya sederhana kurang mampu,marilah kita hargai eksistensi mereka dengan memberikan confidence (kepercayaan diri) mereka dengan mengajak mereka bergabung dengan kita memberikan bantuan berufa financial dan pekerjaan yang dapat meringankan beban hidupnya  ,kemudian mereka CURHAT (Curahan perhatian) yang mereka harapkan tetapi yang  terjadi mereka mendapat tamparan kata-kata yang kurang sedap terdengar ditelinga “payah kamu” punya masalah begitu saja tidak semangat,bahkan lebih kasar kata- kata itu dirangkaikan mati aja kamu tidak usah hidup terlukailah hatinya,larilah dia dari komunitas.
Hadirin sidang shiolat jum’at rokhimakumullah
Seseorang yang kayapun mempnyai masalah-masalah hidup dia mengajukan keluhan dirinya akan kesulitan pekerjaan,malah kita mengatakan dengan kalimat yang tak pantas “payah kamu’sudah punya kendaraan bagus,rumah bagus,jabatan bagus ,kamu tidak bersyukur ? apakah kamu tidak percaya pada Tuhan ?dikemankan iman kamu ?
Yang kedua Kita harus melembagakan Silaturahmi  apa yang dimaksud khotib melembagakan silaturahmi ? seringkali kita terbentur pada peseolan-perseolan dimana persoalan-persolan tersebt ditangani secara liar atau spontanitas tanpa ada aturan yang digunakan sebagai pedoman,kita harus memiliki semacam pedoman hidup islami yang dapat mengatur kehidupan sehari-hari yang mengacu pada AlQur’an dan Hadits jadi dalam kehidupan berjamaah sering terjadi bentrok mulut,ketidaksepahaman,saling curiga,etika dilanggar,tidak menghormati orang lain,hal-hal seperti itu sering diantara kita berbeda menanfsirkannya siapa yang salah ? siapa yang benar ? kita perlu membuat kesepakatan-kesepakatan dalam berjamaah secara detil .Misalkan dalam hal pengangkatan Kepala sekolah AlQuran dan Hadits masih bersipat abstrak mengatur mengenai memilih pemimpin,lalu organisasi membuat aturan dan prosedur berupa Qoidah tetapi di lapangan pasti ada persoalan –persoalan yang tidak terakomodasi oleh Qoidah dan aturan secara detil dan tepat oleh karena di akar rumput perlu ada kesepakatan-kesepakatan lanjutan. Pada bidang yang lain dalam berumah tangga dalam kehidupan berjamaah,dalam bidang ekonomi,politik,bertetangga,berbudaya,berdagang,berkesenian semuanya sudah ada rambu-rambunya .hanya persoalannya di lapangan hal-hal tersebut sering terjadi bentrok yang menimbulkan suasana tidak nyaman maka khotib mengajak marilah kita ikat dengan silaturahmi yang kita buat dan kita lembagakan secara rinci sampai urusan yang sekecil apapun hendak kita mencoba mengaturnya dalam prilaku kita
Hadirin sidang shiolat jum’at rokhimakumullah
Banyak cara menuju syurga, namun di balik itu banyak jalan justru membawa manusia menuju ke neraka. Niatnya baik, tapi cara atau metodenya salah, niatnya  mengajak orang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, tapi cara yang digunakannya mencaci maki, menghina dan memburuk-burukan pihak lain yang tak sepaham dengannya.
Seakan syurga dia yang punya dan pihak lain yang tak sepaham dengannya masuk neraka semuanya. Jadi kebenaran ada di tangannya sendiri, pihak lain yang sama-sama muslim ketika berbeda pendapat dengannya justru dimaki-maki, dihina dijadikan bahan gunjingan yang mengaksyikan, dengan kata-kata kasarnya saudaranya sesama muslim”dibantainya!” dipermalukan di depan umum. Menyedihkan, dakwahnya bukan mengajak, tapi mengejek!
Maka dari itu Yahya Ar Razi pernah mengatakan,” hendaknya orang mukmin mendapat keuntungan dari anda minimal tiga hal:
  1. Apabila anda tidak memberikan manfaat padanya, janganlah anda merugikannya.
  2. Apabila anda tak dapat membahagiakannya, maka janganlah menyusahkannya.
  3. Apabila anda tak memujinya, maka janganlah mencelanya.
Itulah pedoman singkat bagi kita ummat Islam untuk menghormati saudara sesama muslim yang tidak sepaham atau tidak sejalan dengan pemikiran atau pendapat kita, agar dalam naungan Islam, manusia dapat menjadi permata hati, selamat hatinya, terlepas dari rasa iri dan dengki, serta bersih dari sikap hasud dan benci, apalagi sampai mencaci maki, mecela dan menyakiti.
Islam adalah agama pertengahan yang selalu menjaga diantara yang radikal dengan yang lemah, Islam adalah agama pertengahan, agama yang selalu menjujung tinggi kebaikan dan tak mudah menyelahkan pihak lain atau orang lain yang seiman.
Nabi adalah semulia-mulia manusia, Beliau mengajarkan kepada kita semua untuk berlaku lemah lembut dan tak mudah mengkafirkan sesama muslim, apapun perbedaan pendapat dan mazhabnya. Islam disebarkan dengan kelembutan bukan dengan kekerasan dan menghina paham orang lain atau kelompok lain yang berbeda pendapat.
Nabi tak pernah mengajarkan untuk memaki pihak lain, menghina pihak lain dan mudah mengkafirkan orang lain yang sama-sama akidahnya, sama-sama syahadatnya, sama dalam gerakan dan bacaan sholatnya, sama iman dan Islamnya, sama dengan tata cara zakat, puasa dan hajinya. Bila seandainya pun berbeda, mereka juga punya dalil sendiri, yang bisa saja benar. Tak mengklaim kebenaran milik pribadi, kebenaran datangnya dari allah SWT. Dan yang mutlak benar hanya Allah SWT dan rosulnya, sedangkan kebenaran manusia itu relative adanya.
Abu Bakar Siddiq ketika dilantik menjadi khalifah berkata: “ Aku telah diangkat oleh kalian menjadi pemimpin kalian, dan aku tak lebih baik dari kalian, maka bila aku benar ikutilah aku, dan bila aku salah luruskan aku” sebuah sikap yang mata bijaksana dari seorang pemimpin yang rendah hati, yang tak merasa paling benar sendiri, yang tak merasa hebat sendiri dan dengan rendah hati minta diluruskan bila melakukan kesalahan.
Bukan merasa diri paling hebat dan menyalahlan pihak lain yang tak sepaham dengannya, bahkan berani mengklaim diri paling benar penuh dengan emosional, menghantam pihak lain yang tak sependapat dengannya. Islam adalah agama buat semua orang, buat semua golongan dan pada awalnya Islam tak bermazhab. Dan bilapun ada mazhab yang empat itu, bukan malah saling menyalahkan, tapi saling melengkapi dan saling mengisi penuh dengan simpati, toleransi dan empati. Kalau sesama muslim saja saling bermusuhan, bagaimana dengan pihak lain akan menghormati ummat Islam? Pantas saja Islam tak maju-maju, karena ummatnya sering kali berseteru.
Islam disebarkan oleh nabi dengan kelembutan, bukan dengan kekerasan dan kebencian. Jikapun dapat dibenci dan dicaci maki, Nabi terus saja berdakwah dengan penuh kelembutan dan tidak dengan caci maki dan penghinaan, dan yang tidak mengikuti ajaran nabi, didoakan agar mendapat hidayah. Nabi selalu optimis jika bukan sekarang, mungkin nanti di masa akan datang anak cucu mereka akan mengikuti ajaran Islam dan beriman kepada Beliau. Dan ternyata benar, ingat kisah penyebaran Islam di Thaif, Nabi bukan disambut tapi disambit dengan batu, namun Nabi bukan mengutuk mereka, tapi mendoakannya.
Nabi telah mencotohkan dalam penyebaran Islam dengan kasih sayang, bukan dengan kekerasan dan pedang terhunus, apa lagi dengan cara anarkis dan sebentar-sebentar merusak dan menghancurkan, wah ini jauh dari akhlak yang diajarkan Nabi. Sesungguhnnya Islam adalah agama kasih sayang, agama yang penuh dengan kelembutan dan cara mengajaknyapun dengan lemah lembut, bukan dengan kekerasan. Dan bilapun ada yang iri, dengki maka dihadapi dengan tabah, sabar dan ikhlas. Beliau kembalikan seluruh urusan kepadaNya, Sang Penguasa Alam Semesta, Penguasa langit dan bumi, Dialah Allah SWT.
Orang bijak pernah berkata:
Bersabarlah terhadap kedengkian orang yang dengki
Karena sesungguhnya kesabaranmu akan memadamkannya
Api akan memakan dirinya sendiri
Apabila tidak menemukan sesuatu yang dimakannya.
Itulah yang dikatakan orang bijak dan Bilau bersabda:” Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, mancari cacat orang lain, dan janganlah membujuk rayu dengan tipuan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” ( HR Bukhori dan Muslim).
Seorang pendengki dan pencaci maki apabila melihat anda, maka dia akan mendengki anda. Apabila anda tidak ada, maka dia akan menggunjingkan anda. Kedengkian terkadang muncul dalam kritikan, dan membuka aib orang lain. Orang-orang yang dengki akan merasakan nikmat yang luar biasa dengan menyebarkan cacat dan membuka aib orang lain di tengah orang banyak dan tertawa dengan senangnya. Seakan kebenaran adalah miliknya sendiri, orang lain salah semua! Seperti syurga dia yang punya,  orang lain semua masuk neraka, karena tak sepaham dengannya!
Sesama muslim dikafirkannya. Orang yang sama-sama mengucapkan syahadatpun disalahkannya, Orang belum sholat bukan diajaknya sholat tapi dihinakan, ya dia kabur! Semua orang salah, salah dan salah, semua orang Islam yang tak sejalan dengan pemikirannya disalahkan. Padahal para imam Mazhab pun yang benar-benar ahli dalam bidang fiqih tak berani menyalahkan mazhab lainnya, mereka tetap rendah hati, baik imam Syafi’I, Imam Maliki, Imam Hanafi maupun imam Hambali.
Mereka para imam mazhab punya sifat rendah hati yang luar biasa, tak mengklaim mazhabnya paling benar sendiri, tak mengklaim hasil pemikirannya benar sendiri, bahkan mereka berkata:” pendapatku benar, tapi bisa saja salah, dan pendapat mereka mungkin salah, tapi bisa juga benar” karena memang kebenaran yang hakiki hanya milik Allah SWT, bukan milik manusia. Penadapat manusia bisa benar, bisa juga salah, kebenaran manusia bersifat relative, tidak mutlak!
Dan orang lain tidak bisa dihina dan dicaci maki karena pendapatnya berbeda dengan anda. Bagaimanapun sesama muslim bersaudara dan sebuah tuduhan yang keji, bila sesama muslim dikafirkan hanya karena berbeda pendapat, beda mazhab, beda pemikiran, beda aliran, kecuali aliran sesat,  beda pemahaman dan lain sebagainya.
Lagipula bila sesama muslim masih hidup, tak boleh divonis dia akan masuk neraka! Mengapa? Karena Allah SWT yang membolak balik hati manusia, Allah yang mengetahui kesucian hati manusia, dan Allah pula yang memberikan hidayah pada seseorang dan kita tidak tahu akhir perjalan hidup orang lain.
Bisa saja terjadi, dan ini banyak terjadi, orang yang tadinya penjahat, lalu bertobat dan ketika meninggal dalam keadaan khusnul khotimah.  Bisa saja orang yang tadinya baik bisa menjadi penjahat, dan sebaliknya seorang yang tadi penjahat kemudian tobat lalu “menjahit” imannya yang koyak-koyak hingga utuh kembali. Dan bisa saja terjadi orang yang tadinya sholeh bisa salah, dan orangnya yang tadinya salah menjadi sholeh, lalu mati dalam keadaan khusnul khotimah, mati dalam keadaan baik.
KH Saifudin Amsir, Rs Suriah PBNU ketika ditanya tentang orang yang berdakwa melalui mimbar Jum’at mengatakan” Khutbah Jum’at bukan kendaraan untuk meluapkan emosi. Gunakan khutbah Jum’at sebagai sarana pendidikan Islam, perbanyak nasehat, menguatkan keimanan dan mengajak ketaqwaan. Jangan mengatakan yang tak pantas dalam khutbah Jum’at, seorang khotib tak boleh membawa urusan politiknya, kepentingan pribadinya dan kelompoknya di atas mimbar Jum’at. Kalau ada orang yang mudah menyalahkan kelompok lain di mimbar khutbah, dia telah gegabah membaca agama. Ini Bahaya! Bila khutbahnya berisi serangan pada mazhab lain, itu perilaku absurd, baik dari sisi syariat ataupun metode dakwah”
Jadi mengajak orang kepada Islam lagi-lagi harus dengan kelembutan, kalimat disampaikan adalah ajakan, bukan ejekan, amanah bukan amarah, rendah hati bukan emosi, berbagi bukan mengusili, menyejukan bukan membuat hati panas dan seterusnya. Itulah dakwah yang hakiki, dakwah yang membuat orang menjadi sejuk di dalam masjid, mushollah atau di dalam pengajian, sehingga ketika mereka pulang kerumah, mereka makin dekat kepada Allah SWT, bukan malah lari dari Allah, karena salah metode yang menyampaikan.
Islam adalah agama rakhmatan lil alamin, rakhmat bagi seluruh alam. Kalimat ini akan menjadi boomerang manakala cara mendakwahkannya penuh dengan amarah, caci maki, penuh hinaan pada pihak lain dan dengan punuh dengan kata-kata mengkafirkan pada sesama muslim yang tidak sepaham. Bila cara ini terus berlanjut, pantas saja Islam tidak maju-maju, karena ummatnya  tak mau bersatu dan membatu!
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.
Khutbah kedua:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}. ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar