MENGAJAK BUKAN MENGEJEK
Oleh :
YUSUP, S.Pd, MM.
Khutbah Pertama
Bismillaahirrahmaanirrahiim.Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ.
قَالَ تَعَالَى
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا
اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا
رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ
تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
}
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ
كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ
وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي اْلأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ
عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ {159}
Hadirin sidang sholat
jum’at rokhimakumullah……..
Banyak orang sesak
dadanya tersiksa ia karena ia selalu merasa sakit hati dengan omongan orang
yang mencoba mengkritisi,oleh karena itu sedikit sekali orang yang mempunyai
jiwa yang besar menerima pendapat dan pikiran orang lain,persoalan yang perlu
didudukan pada posisi yang sebenarnya adalah bahwa Islam mengajarkan kita
mengontrol sistem kehidupan atau sistem
kerja.jadi mengritisi itu sah dan halal dilarang oleh ajaran islam adalah memfitnah
dan atau menginakan orang
Mengkritisi itu harus
dengan fakta kejadian yang menyimpang yang dilakukan orang atau kelompok ,atau
rezim yang merugikan orang atau merugikan umat islam
Marilah Kita
Perhatikan Surat Al Imron ayat 159
}
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ
كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ
وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي اْلأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ
عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ {159}
Maka disebabkan rahmat
dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka
menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah
ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. 3:159)
Hadirin
Sidang Sholat jum’at yang dimulyakan
Allah SWT
Pada
hakekatnya naluri setiap manusia tidak ingin didikte atau digurui,oleh
karenannya kita harus hati-hati di dalam berda’wah jangan mengejek tetapi mengajak .
Cobalah kita lihat anak balitapun tak mau diatur didikte dan diajari apalagi
kita orang dewasa,inilah yang kurang disadari umat islam bagaimana berda’wah
sasran da’wah tanpa dia sadari kalau dia sedang di da’wahi .ketidakluwesan
inilah yang akhirnya diantara kita sering urusan kita terganjal
karenanya.pengajianpun menjadi rapuh,karena merasa tidak nyaman berada di
situ,persahabatan tak lagi mesra dan harmonis karena perkataan yang menyinggung
bukan kehormatan yang dijunjung .Lalu bagaimana kita kita harus berda’wah ?
yang mengajak bukan mengejek :
Yang
pertama : kita harus menghargai eksistensi orang lain mengapa kita harus menghargai eksistensi orang
lain ? karena sekecil apapun status social seseorang dia memiliki potensi yang
dibekali oleh Allah,walaupun dalam pandangan manusia potensi seseorang sering
tidak terlihat,karena kadar potensi yang diberikan Allah kepada manusia tidak
sama.Contoh seseorang yang hanya berpendidikan rendah,bahkan SD pun ia tidak
sampai lulus ,tetapi ia punya tenaga maka hargai eksistensi yang ia miliki
tersebut untuk manfaat bagi dirinya dan manfaat bagi kepentingan umum,disamping
itu seseorang yang berpendidikan rendah tersebut bisa jadi punya potensi
keterampilan otodidak yang lahir dari lingkungannya karena keterampilan kasar
dapat dipelajari tanpa tanpa pendidikan formal,marilah kita hargai eksistensi
potensi yang ada pada dirinya, marilah kita mengajak mereka bukan mengejek
Hadirin
sidang jum’at rokhimakumullah….
Ada
sesorang yang berpendidikan tinggi tetapi dia tak pandai mengutarakannya
melalui personifikasi kata dan kalimat,marilah kita hargai eksistensi potensi
yang ada pada dirinya dengan mengajak berbuat dan beramal sholeh,kita berusaha mengajak
bukan mengejek. Seseorang yang telah berusia lanjut,marilah kita
menghargai eksistensi potensi dirinya dengan menghormati dan menggali
pengalaman hidupnya lagi-lagi kita harus berusaha mengajak bukan
mengejek.Sesorang yang masih muda dia punya semangat dia punya
idia;isme,cita-cita dan harapan marilah kita menghargai mereka dengan
membimbing mengarahkan dan menyayangi mereka dengan penuh cinta dan kasih
sayang tetapi yang sering terjadi karena anak muda sering bersikap instan dengan
semangatnya yang luar biasa kita menanggap mereka berambisi dan menguasai
,justru marilah kita mengajak mereka bukan mengejek
Seseorang
yang hidupnya sederhana kurang mampu,marilah kita hargai eksistensi mereka
dengan memberikan confidence (kepercayaan diri) mereka dengan mengajak mereka
bergabung dengan kita memberikan bantuan berufa financial dan pekerjaan yang
dapat meringankan beban hidupnya
,kemudian mereka CURHAT (Curahan perhatian) yang mereka harapkan tetapi
yang terjadi mereka mendapat tamparan
kata-kata yang kurang sedap terdengar ditelinga “payah kamu” punya masalah
begitu saja tidak semangat,bahkan lebih kasar kata- kata itu dirangkaikan mati
aja kamu tidak usah hidup terlukailah hatinya,larilah dia dari komunitas.
Hadirin
sidang shiolat jum’at rokhimakumullah
Seseorang
yang kayapun mempnyai masalah-masalah hidup dia mengajukan keluhan dirinya akan
kesulitan pekerjaan,malah kita mengatakan dengan kalimat yang tak pantas “payah
kamu’sudah punya kendaraan bagus,rumah bagus,jabatan bagus ,kamu tidak
bersyukur ? apakah kamu tidak percaya pada Tuhan ?dikemankan iman kamu ?
Yang
kedua Kita harus melembagakan Silaturahmi apa yang dimaksud khotib melembagakan
silaturahmi ? seringkali kita terbentur pada peseolan-perseolan dimana
persoalan-persolan tersebt ditangani secara liar atau spontanitas tanpa ada
aturan yang digunakan sebagai pedoman,kita harus memiliki semacam pedoman hidup
islami yang dapat mengatur kehidupan sehari-hari yang mengacu pada AlQur’an dan
Hadits jadi dalam kehidupan berjamaah sering terjadi bentrok
mulut,ketidaksepahaman,saling curiga,etika dilanggar,tidak menghormati orang
lain,hal-hal seperti itu sering diantara kita berbeda menanfsirkannya siapa
yang salah ? siapa yang benar ? kita perlu membuat kesepakatan-kesepakatan
dalam berjamaah secara detil .Misalkan dalam hal pengangkatan Kepala sekolah
AlQuran dan Hadits masih bersipat abstrak mengatur mengenai memilih
pemimpin,lalu organisasi membuat aturan dan prosedur berupa Qoidah tetapi di
lapangan pasti ada persoalan –persoalan yang tidak terakomodasi oleh Qoidah dan
aturan secara detil dan tepat oleh karena di akar rumput perlu ada
kesepakatan-kesepakatan lanjutan. Pada bidang yang lain dalam berumah tangga
dalam kehidupan berjamaah,dalam bidang ekonomi,politik,bertetangga,berbudaya,berdagang,berkesenian
semuanya sudah ada rambu-rambunya .hanya persoalannya di lapangan hal-hal
tersebut sering terjadi bentrok yang menimbulkan suasana tidak nyaman maka
khotib mengajak marilah kita ikat dengan silaturahmi yang kita buat dan kita
lembagakan secara rinci sampai urusan yang sekecil apapun hendak kita mencoba
mengaturnya dalam prilaku kita
Hadirin
sidang shiolat jum’at rokhimakumullah
Banyak
cara menuju syurga, namun di balik itu banyak jalan justru membawa manusia
menuju ke neraka. Niatnya baik, tapi cara atau metodenya salah, niatnya
mengajak orang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, tapi cara yang
digunakannya mencaci maki, menghina dan memburuk-burukan pihak lain yang tak
sepaham dengannya.
Seakan
syurga dia yang punya dan pihak lain yang tak sepaham dengannya masuk neraka
semuanya. Jadi kebenaran ada di tangannya sendiri, pihak lain yang sama-sama
muslim ketika berbeda pendapat dengannya justru dimaki-maki, dihina dijadikan
bahan gunjingan yang mengaksyikan, dengan kata-kata kasarnya saudaranya sesama
muslim”dibantainya!” dipermalukan di depan umum. Menyedihkan, dakwahnya
bukan mengajak, tapi mengejek!
Maka
dari itu Yahya Ar Razi pernah mengatakan,” hendaknya orang mukmin
mendapat keuntungan dari anda minimal tiga hal:
- Apabila anda tidak memberikan manfaat padanya, janganlah anda merugikannya.
- Apabila anda tak dapat membahagiakannya, maka janganlah menyusahkannya.
- Apabila anda tak memujinya, maka janganlah mencelanya.
Itulah pedoman singkat bagi kita ummat Islam untuk menghormati
saudara sesama muslim yang tidak sepaham atau tidak sejalan dengan pemikiran
atau pendapat kita, agar dalam naungan Islam, manusia dapat menjadi permata
hati, selamat hatinya, terlepas dari rasa iri dan dengki, serta bersih dari
sikap hasud dan benci, apalagi sampai mencaci maki, mecela dan menyakiti.
Islam adalah agama pertengahan yang selalu menjaga diantara
yang radikal dengan yang lemah, Islam adalah agama pertengahan, agama yang
selalu menjujung tinggi kebaikan dan tak mudah menyelahkan pihak lain atau
orang lain yang seiman.
Nabi adalah semulia-mulia manusia, Beliau
mengajarkan kepada kita semua untuk berlaku lemah lembut dan tak mudah
mengkafirkan sesama muslim, apapun perbedaan pendapat dan mazhabnya.
Islam disebarkan dengan kelembutan bukan dengan kekerasan dan menghina paham
orang lain atau kelompok lain yang berbeda pendapat.
Nabi tak pernah mengajarkan untuk memaki pihak lain,
menghina pihak lain dan mudah mengkafirkan orang lain yang sama-sama akidahnya,
sama-sama syahadatnya, sama dalam gerakan dan bacaan sholatnya, sama iman dan
Islamnya, sama dengan tata cara zakat, puasa dan hajinya. Bila seandainya pun
berbeda, mereka juga punya dalil sendiri, yang bisa saja benar. Tak mengklaim
kebenaran milik pribadi, kebenaran datangnya dari allah SWT. Dan yang
mutlak benar hanya Allah SWT dan rosulnya, sedangkan kebenaran manusia itu
relative adanya.
Abu Bakar Siddiq ketika dilantik menjadi khalifah berkata: “
Aku telah diangkat oleh kalian menjadi pemimpin kalian, dan aku tak
lebih baik dari kalian, maka bila aku benar ikutilah aku, dan bila aku salah
luruskan aku” sebuah sikap yang mata bijaksana dari seorang pemimpin
yang rendah hati, yang tak merasa paling benar sendiri, yang tak merasa hebat
sendiri dan dengan rendah hati minta diluruskan bila melakukan kesalahan.
Bukan merasa diri paling hebat dan menyalahlan pihak lain
yang tak sepaham dengannya, bahkan berani mengklaim diri paling benar penuh
dengan emosional, menghantam pihak lain yang tak sependapat dengannya. Islam
adalah agama buat semua orang, buat semua golongan dan pada awalnya
Islam tak bermazhab. Dan bilapun ada mazhab yang empat itu, bukan malah
saling menyalahkan, tapi saling melengkapi dan saling mengisi penuh dengan
simpati, toleransi dan empati. Kalau sesama muslim saja saling bermusuhan,
bagaimana dengan pihak lain akan menghormati ummat Islam? Pantas saja
Islam tak maju-maju, karena ummatnya sering kali berseteru.
Islam disebarkan oleh nabi dengan kelembutan, bukan dengan
kekerasan dan kebencian. Jikapun dapat dibenci dan dicaci maki, Nabi
terus saja berdakwah dengan penuh kelembutan dan tidak dengan caci
maki dan penghinaan, dan yang tidak mengikuti ajaran nabi, didoakan agar
mendapat hidayah. Nabi selalu optimis jika bukan sekarang, mungkin
nanti di masa akan datang anak cucu mereka akan mengikuti ajaran Islam dan
beriman kepada Beliau. Dan ternyata benar, ingat kisah penyebaran
Islam di Thaif, Nabi bukan disambut tapi disambit dengan batu, namun Nabi bukan
mengutuk mereka, tapi mendoakannya.
Nabi telah mencotohkan dalam penyebaran Islam dengan kasih
sayang, bukan dengan kekerasan dan pedang terhunus, apa lagi dengan cara
anarkis dan sebentar-sebentar merusak dan menghancurkan, wah ini jauh dari
akhlak yang diajarkan Nabi. Sesungguhnnya Islam adalah agama kasih sayang,
agama yang penuh dengan kelembutan dan cara mengajaknyapun dengan lemah lembut,
bukan dengan kekerasan. Dan bilapun ada yang iri, dengki maka dihadapi
dengan tabah, sabar dan ikhlas. Beliau kembalikan seluruh urusan
kepadaNya, Sang Penguasa Alam Semesta, Penguasa langit dan bumi, Dialah Allah
SWT.
Orang bijak pernah berkata:
Bersabarlah terhadap kedengkian orang yang dengki
Karena sesungguhnya kesabaranmu akan memadamkannya
Api akan memakan dirinya sendiri
Apabila tidak menemukan sesuatu yang dimakannya.
Itulah yang dikatakan orang bijak dan Bilau bersabda:” Janganlah
kalian saling mendengki, saling membenci, mancari cacat orang lain, dan
janganlah membujuk rayu dengan tipuan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang
bersaudara” ( HR Bukhori dan Muslim).
Seorang pendengki dan pencaci maki apabila melihat anda,
maka dia akan mendengki anda. Apabila anda tidak ada, maka dia akan
menggunjingkan anda. Kedengkian terkadang muncul dalam kritikan, dan membuka
aib orang lain. Orang-orang yang dengki akan merasakan nikmat yang luar biasa
dengan menyebarkan cacat dan membuka aib orang lain di tengah orang banyak dan
tertawa dengan senangnya. Seakan kebenaran adalah miliknya sendiri, orang lain
salah semua! Seperti syurga dia yang punya, orang lain semua masuk
neraka, karena tak sepaham dengannya!
Sesama muslim dikafirkannya. Orang yang sama-sama
mengucapkan syahadatpun disalahkannya, Orang belum sholat bukan diajaknya
sholat tapi dihinakan, ya dia kabur! Semua orang salah, salah dan salah, semua
orang Islam yang tak sejalan dengan pemikirannya disalahkan. Padahal para imam
Mazhab pun yang benar-benar ahli dalam bidang fiqih tak berani menyalahkan
mazhab lainnya, mereka tetap rendah hati, baik imam Syafi’I, Imam Maliki, Imam
Hanafi maupun imam Hambali.
Mereka para imam mazhab punya sifat rendah hati yang luar
biasa, tak mengklaim mazhabnya paling benar sendiri, tak mengklaim hasil
pemikirannya benar sendiri, bahkan mereka berkata:” pendapatku benar,
tapi bisa saja salah, dan pendapat mereka mungkin salah, tapi bisa juga benar” karena
memang kebenaran yang hakiki hanya milik Allah SWT, bukan milik manusia.
Penadapat manusia bisa benar, bisa juga salah, kebenaran manusia
bersifat relative, tidak mutlak!
Dan orang lain tidak bisa dihina dan dicaci maki karena
pendapatnya berbeda dengan anda. Bagaimanapun sesama muslim bersaudara dan
sebuah tuduhan yang keji, bila sesama muslim dikafirkan hanya karena berbeda
pendapat, beda mazhab, beda pemikiran, beda aliran, kecuali aliran sesat,
beda pemahaman dan lain sebagainya.
Lagipula bila sesama muslim masih hidup, tak boleh divonis
dia akan masuk neraka! Mengapa? Karena Allah SWT yang membolak balik hati
manusia, Allah yang mengetahui kesucian hati manusia, dan Allah pula
yang memberikan hidayah pada seseorang dan kita tidak tahu akhir perjalan hidup
orang lain.
Bisa saja terjadi, dan ini banyak terjadi, orang yang
tadinya penjahat, lalu bertobat dan ketika meninggal dalam keadaan khusnul
khotimah. Bisa saja orang yang tadinya baik bisa menjadi penjahat, dan
sebaliknya seorang yang tadi penjahat kemudian tobat lalu “menjahit” imannya
yang koyak-koyak hingga utuh kembali. Dan bisa saja terjadi orang yang tadinya
sholeh bisa salah, dan orangnya yang tadinya salah menjadi sholeh, lalu mati
dalam keadaan khusnul khotimah, mati dalam keadaan baik.
KH Saifudin Amsir, Rs Suriah PBNU ketika ditanya tentang
orang yang berdakwa melalui mimbar Jum’at mengatakan” Khutbah Jum’at bukan
kendaraan untuk meluapkan emosi. Gunakan khutbah Jum’at sebagai sarana
pendidikan Islam, perbanyak nasehat, menguatkan keimanan dan mengajak
ketaqwaan. Jangan mengatakan yang tak pantas dalam khutbah Jum’at,
seorang khotib tak boleh membawa urusan politiknya, kepentingan pribadinya dan
kelompoknya di atas mimbar Jum’at. Kalau ada orang yang mudah
menyalahkan kelompok lain di mimbar khutbah, dia telah gegabah membaca agama.
Ini Bahaya! Bila khutbahnya berisi serangan pada mazhab lain, itu perilaku
absurd, baik dari sisi syariat ataupun metode dakwah”
Jadi mengajak orang kepada Islam lagi-lagi harus dengan
kelembutan, kalimat disampaikan adalah ajakan, bukan ejekan, amanah
bukan amarah, rendah hati bukan emosi, berbagi bukan mengusili, menyejukan
bukan membuat hati panas dan seterusnya. Itulah dakwah yang hakiki,
dakwah yang membuat orang menjadi sejuk di dalam masjid, mushollah atau di dalam
pengajian, sehingga ketika mereka pulang kerumah, mereka makin dekat kepada
Allah SWT, bukan malah lari dari Allah, karena salah metode yang menyampaikan.
Islam
adalah agama rakhmatan lil alamin, rakhmat bagi seluruh alam. Kalimat ini akan
menjadi boomerang manakala cara mendakwahkannya penuh dengan amarah, caci maki,
penuh hinaan pada pihak lain dan dengan punuh dengan kata-kata mengkafirkan
pada sesama muslim yang tidak sepaham. Bila cara ini terus berlanjut, pantas
saja Islam tidak maju-maju, karena ummatnya tak mau bersatu dan membatu!
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.
Khutbah kedua:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ
عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى:
{وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ
يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}. ثُمَّ اعْلَمُوْا
فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ:
{إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا
وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا
اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ
رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar