Kamis, 09 Oktober 2014

Pendidikan Anti Korupsi



MODEL PEMBELAJARAN GOOD NEWS CLASS MEETING
BAGAIMANA MEN-ERICHMENT/MEMPERKAYA KE LANGKAH-LANGKAH SCIENTIFIC
( materi ini di ambil dari Diklat di Puncak Bogor Pemateri                 Bpk Supandi,M Pd)
1. Model Good News Class Meeting.
Menurut Prof. Dr. UdinWiranataputra, 2007, PertemuanKelasMembahasBeritaBaru (Good News Class Meeting),merupakan model pembelajaranmelaluipertemuankelasgunamembahasmasalah (problem) beritaaktual,  menarikuntukdipelajaridanbermaknabagisiswa yang  ada di media massasepertisuratkabar, televisi, radio atau internet
Tujuan model pembelajaraniniadalahuntukmembangunsiswaakan rasa ingintahudanpekaterhadapmasalahaktual yang terjadi di lingkungannya.
Langkah-langkahpembelajaran:
            1.     Memilihberitabaru yang aktualdanmenarikuntuk di bahasberasaldari media massa, sepertisuratkabar, berita di televisi, radio dsb. MisalkasusSAMPAH, kerusakanlingkungan, bencanabanjir, pencemaran air sungai, dsb.
            2.     Siswadikelompokkan, danmasing-masingkelompokbebasmembahasdarisudutpandangmasing-masing, misalnya: “ Kerusakanlingkungan “ bisadarisudutpandangmengidentifikasikerusakanlingkungan, faktorpenyebab, dampakkerusakanterhadapmasyarakat, upayapenanggulangan, responmasyarakatdalamupayapenanggulangan, dsbTiapkelompokmempresentasekanhasilmelaluiwakilkelompoknya, sedangkankelompok lain memperhatikandanmeresponsibiladiperlukan
            3.     Guru mengamatidanmengklarifikasibilaterjadikesalahan
            4.     Membuat kesempakatan rangkuman hasil pembahasan kelas
            5.     Penutup.
Misal :
KD
3.4  Memahami norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara
4.4  Menyaji hasil pengamatan tentang norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa
1.1      MenghargaiperilakuberimandanbertaqwakepadaTuhan YME danberakhlakmuliadalamkehidupan di sekolahdanmasyarakat
2.2  Menghargai perilaku sesuai norma-norma dalam berinteraksi dengan kelompok sebaya        dan masyarakat sekitar
1.Amatidambardanbacalahwacanaberikutinidancatathal-hal yang pentingdanbermaknabagi kalian. (mengamati)
 


LautanSampah di PesisirPantaiBuktiPemkabTangerangTakCakap
Model pembelajaran
GOOD NEWS CLASS MEETING
REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Tumpukansampahdisepanjang 51 Kilometer garispantaiTangerangmenimb..
REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Tumpukansampahdisepanjang 51 Kilometer garispantaiTangerangmenimbulkanreaksidaripengamatlingkungan.PemerintahKabupatenTangerangharusbertanggungjawabmengatasimasalahini.Inibisajadibukti, ngurus yang sepertiinisajatidakbisa," kata KepalaDepartemenAdvokasiWahanaLingkunganHidup Indonesia (WALHI) MukriPriyatna, Rabu (27/2) Mukri.



Kader PKS Kundur Bersihkan Pantai Lubuk - PKS KARIMUN

2.Buatlah/munculkanpertanyaan-pertanyaanterkaitdengangambardanwacana  di atas. Sebanyak-banyaknya.(MENANYA)
Buatlahkelompokdanjawabanpertanyaan yang kalian ajukan (MENALAR)
3.Kumpulkaninformasi/data yang dapatmenjawabpertanyaan yang diajukanolehsiswa(mengumpulkaninformasi/data)
4.Siswadimintauntukmengasosiasi/mengolahhasilinformasi(menalar)
Jateng Time - SampahMenumpuk, Ratusan PNS BrebesBersihkanPantai




MODEL PEMBELAJARAN
Disusun: Drs. Supandi, M.Pd

Naskah ini disajikan pada Diklat Guru PKn Tingkat Nasional 2008
Di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Kependidikan PKn dan IPS Malang.


A. Pendahuluan

Pengembangan instruksional adalah terminologi yang berkembang sejak kurang lebih dua puluh lima tahun yang lalu. Penerapannya di Indonesia mulai populer dengan penggunaan Prosedur Pengembangan Sistem Intrsuksional (PPSI) pada permulaan tahun 1970, khususnya dalam mengiringi munculnya Kurikulum 1975. Dalam perkembangannya, PPSI tidak hanya diikuti di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, di lembaga-lembaga Diklat, baik di bawah departemen maupun swasta telah berkembang pula kegiatan yang serupa. Tenaga pengajar, pelatih, pengembang kurikulum ditambah tenaga khususyang mereka miliki memberikan perhatian lebih besar terhadap kegiatan pengembangan instruksional.
Demikian juga, Kurikulum 2004 yang menjadi perhatian utama dalam pembelajaran yang berbasis kompetensi adalah bagaimana perencanaan dan kesiapan pengajar untuk mengelola pembelajarannya agar tercapai kompetensi yang diinginkan dalam diri siswa, diperlukan model pengembangan instruksional atau model pembelajaran.
Secara konseptual barangkali kurikulum berbasis kompetensi  dapat diakui sebagai salah satu sarana bagi persekolahan untuk memberikan dan memperluas wawasan siswa tentang pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai dasar lainnya dengan harapan dapat direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Akan tetapi siswa mempunyai ketergantungan yang sangat kuat tentang bagaimana ia diperlakukan oleh pengajar (guru). Artinya keberhasilan siswa menguasai kompetensi berkenaan dengan bagaimana pengajar (guru) mempraktekkan sistem pembelajaran di sekolah yang berdasarkan kompetensi.
Secara umum model atau tipe pembelajaran yang berlangsung di sekolah dapat dibagi dua: yaitu pembelajaran berorientasi guru (teachers oriented) dan pembelajaran berorientasi siswa (learners oriented). Kurikulum berbasis kompetensi menggunakan konsep berkenaan dengan kemampuan dan kehandalan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks melalui proses pembelajaran agar mampu mencapai suatu standar yang terukur melalui kinerjanya. Hal ini berarti bahwa selama proses pembelajaran berlangsung siswa memegang peran utama (learners oriented) sementara pengajar (guru) menjadi fasilitator, dinamisator ataupun pengarah serta evaluator.
Di sisi lain Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.

Menjadi warga negara Indonesia dan warga dunia yang efektif merupakan tantangan berat karena masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Untuk itulah, Pengetahuan Sosial dirancang untuk membangun dan merefleksikan kemampuan (competence) siswa dalam kehidupan bermasyarakat,  yang selalu berubah dan berkembang secara terus menerus (Kurikulum 2004:5-6).
Pada hakikatnya, PKn sebagai suatu mata pelajaran yang menjadi wahana dan alat untuk menjawab pertanyaan–pertanyaan antara lain: Siapa saya? Pada masyarakat apa yang berada? Persyaratan–persyaratan apa yang diperlukan diri saya untuk menjadi anggota suatu kelompok masyarakat dan bangsa? Apakah artinya menjadi anggota suatu kelompok masyarakat bangsa dan dunia? Bagaimanakah kehidupan manusia dan masyarakat berubah dari waktu ke waktu? (Kurikulum 2004:6)
Pertanyaan–pertanyaan di atas perlu dijawab oleh setiap siswa dan menjawabnya telah dirancang dalam Pengetahuan Sosial secara sistematis dan komprehensif. Dengan demikian, Pengetahuan Sosial diperlukan bagi keberhasilan siswa dalam kehidupan di masyarakat dan proses menuju kedewasaan.
Johnson dalam Suparno, 2000:22 menyatakan bahwa pengajaran berdasarkan kompetensi merupakan suatu sistem di mana siswa baru dianggap menyelesaikan pelajaran apabila ia telah melaksanakan tugas yang dipelajari, untuk melakukannya.
Johnson memandang kompetensi sebagai perbuatan (performance) yang rasional yang secara memuaskan memenuhi tujuan dalam kondisi yang diinginkan. Dikatakan performance yang rasional, karena orang yang melakukannya harus mempunyai tujuan atau arah dan ia tahu apa dan mengapa ia berbuat demikian? (Suparno, A. S, 2000:23)
Untuk melakukan suatu kompetensi seseorang memerlukan pengetahuan khusus, ketrampilan proses, dan sikap. Setiap kompetensi yang satu berbeda dengan kompetensi yang lain dalam hal jumlah dan bagian–bagiannya. Ada kompetensi yang lebih tergantung pada pengetahuan (knowledge), ada yang lebih tergantung pada proses (process). Johnson memberi contoh, untuk menjalankan proyektor film  tidak diperlukan keragaman pengetahuan,  seperti misalnya pada kompetensi
Dengan demikian disimpulkan semakin kompleks kompetensi yang diharapkan dikuasai dan dimiliki siswa semakin sulit dan kompleks pula pencapaiannya. Mungkin sangat tergantung pada pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang dipersyaratkan. Atas dasar itulah diperlukan standar kompetensi agar dapat diamati dan diukur hasil belajar. Untuk mengukur ketercapaian standar kompetensi digunakan indikator hasil belajar. Oleh karena itulah standar kompetensi di SD dan MI telah kelas berbeda, sesuai dengan tingkat perkembangan dan karakteristik  siswa.
Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaaan berpikir dan bertindak (Depdiknas, 2002). Menurut Burke, 1995 dalam Efendi, 2003 mengemu-kakan ada 3 kriteria kompetensi, yaitu: 1) mampu melaksanakan keseluruhan tugas–tugas pekerjaan yang sifatnya spesifik; 2) sesuai dengan standar yang diharapan dalam pembelajaran; 3) dalam lingkungan pekerjaan nyata yang memberi tekanan dan berkaitan dengan seluruh pekerjaan dan variasi–variasi pekerjaan yang sebenarnya.
Standar kompetensi mata pelajaran adalah kompetensi yang harus dikuasai siswa setelah melalui proses pembelajaran Pengetahuan Sosial (Kurikulum 2004:9). Standar Kompetensi Pengetahuan Sosial, harus dijabarkan lebih lanjut menjadi Kompetensi Dasar. Kompetensi Dasar adalah kompetensi yang minimal yang harus dikuasai dan dimiliki siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.
B.  Pengertian Model Pembelajaran
Istilah model pembelajaran dikembangkan dari strategi instruksional. Menurut Degeng, 2000, ada tiga macam strategi, yaitu strategi mengorganisasi isi pembelajaran, strategi penyampaian dan strategi pengelolaan. Model pembelajaran terkait dengan ketiga strategi tersebut.
Dengan penyusunan model pembelajaran yang tepat, dapat membantu ketercapaian tujuan atau kompetensi dasar  yang ditetapkan. Menurut Joice (1992) dalam Efendi (2003), mengemukakan model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat–perangkat pembelajaran serta mengarahkan kita dalam mendesain pembelajaran untuk membantu siswa sedemikain rupa hingga tujuan atau kompetensi  pembelajaran yangtelah ditetapkan dapat tercapai.
Sedangkan menurut Richey (1986) model adalah gambaran yang ditimbulkan dari kenyataan yang mempunyai susunan dari urutan tertentu. Oleh karena itu rancangan pembelajaran yang dipersiapkan oleh guru juga merupakan model pembelajaran, dimana di dalamnya terdapat urutan tertentu yang telah dipilih dan ditetapkan mulai dari pendahuluan, kegiatan inti dan penutup.
Clarence Schauer (1971) menyebutnya model instruksional atau model pembelajaran sebagai perencanaan secara akal sehat untuk mengidentifikasi masalah belajar dan mengusahakan pemecahan tersebut dengan menggunakan suatu rencana terhadap pelaksanaan, evaluasi, uji coba, umpan balik dan hasilnya. (dalam Suparman, 2001:29).
Hamreus (1971) menyebutkan secara singkat model instruksional atau model pembelajaran sebagai proses yang sistematis untuk meningkatkan kualitas kegiatan pembelajaran atau instruksional. Sedangkan Buhl (1975) menyebutnya sebagai suatu set kegiatan yang bertujuan meningkatkan kondisi belajar bagi siswa atau mahasiswa (dalam Sumparman, 2001:30).
Twelker, Urbach dan Buck (1972) mendefinisikan sebagai cara yang sistematis untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengevaluasi satu set bahan dan strategi belajar dengan maksud mencapai tujuan atau kompetensi tertentu (Suparman, 2001:30)
Sedangkan American Telephone & Telegraph (ATT) mendefinisikan desain instruksional sebagai resep dalam menyusun peristiwa dan kegiatan yang diperlukan untuk memberikan petunjuk ke arah pencapaian tujuan atau kompetensi belajar tertentu.
Bila memperhatikan beberapa pendapat ahli tersebut di atas, model pembelajaran atau model instruksional merupakan suatu siklus lengkap kegiatan instruksional yang terdiri dari tahap-tahap, yaitu: tahap pengembangan instruksional – tahap pelaksanakan kegiatan instruksional dan tahap evaluasi instruksional ( Sumparman, 2001:33)
Lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan berikut ini.

Evaluasi  instruksional
 
Pengembangan instruksional
 
Pelaksanaan kegiatan  instruksional
 
Tahap I                                    Tahap II                                              Tahap III














 



Umpan balik 
Gbr. Siklus lengkap Kegiatan Instruksional (Diadopsi dari Suparman, 2001:33)
Dengan demikian, rencana pembelajaran (instructional design) yang dibuat oleh guru atau team kerja guru merupakan model pembelajaran, yang tidak lain disusun dan dikembangkan berasarkan model pengembangan instruksional serta tahap-tahap tersebut di atas dan berfungsi sebagai pedoman, arah, petunjuk dalam rangka mencapai tujuan atau kompetensi dasar pembelajaran yang telah ditetapkan.
Ketika Rencana Pembelajaran dilaksanakan oleh guru, tentu guru juga mengevaluasi kekurangan atau kendala-kendala  yang dihadapi guna memperbaiki kegiatan pembelajaran berikutnya (feedback). Sebaliknya umpan balik (feedback) yang ditemukan berupa kendala-kendala dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, dapat digunakan sebagai acuan pengembangan atau penataan kembali penyusunan rencana pembelajaran berikutnya.
C   Kedudukan Model Pembelajaran
Oval: KONDISIReigeluth dan Stein (1983 dalam Degeng, 1997) mengemukakan bahwa variabel pembelajaran meliputi kondisi (conditions), metode (methods) dan hasil pembelajaran (outcomes). Berikut ini akan digambarkan ketiga variabel pembelajaran:



 






 Kondisi adalah faktor yang berbeda yang mempengaruhi pemilihan metode atau cara-cara pembelajaran yang berbeda (termasuk pemilihan model pembelajaran) dalam rangka mencapai kompetensi dasar pembelajaran yang telah ditetapkan. Yang termasuk di dalam kondisi antara lain meliputi tujuan atau kompetensi pembelajaran, motivasi belajar, minat belajar, status sosial , keadaan ekonomi orang siswa, tingkat kecerdasan, dan sebgainya
Metode adalah cara-cara yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda dalam rangka mencapai kompetensi dasar pembelajaran yang telah ditetapkan. Yang termasuk metode seperti penggunaan  media, penggunaan metode pembelajaran, penggunaan sumber belajar, penggunaan cara mengajar, dan sebagainya.
Hasil belajar adalah efek yang timbul akibat penggunaan metode yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda, antara lain prestasi belajar, nilai tes, hasil pengamatan terhadap perilaku, dan sebagainya.
Sedangkan menurut Brigss, pengembangan model pembelajaran berawal dari pemikiran pokok terhadap pertanyaan yaitu ”mau kemana”?,  ” dengan apa ” dan ” bila mana sampai ”. Pertanyaan ”mau kemana” terkait dengan tujuan atau kompetensi pembelajaran. Pertanyaan ” dengan apa” terkait dengan materi, media dan kegiatan yang akan dilakukan dalam pembelajaran, serta  pertanyaan ” bila mana sampai” terkait dengan penilaian.
Kedudukan model pembelajaran berada dalam konteks penataan cara-cara /metode yang tepat dalam pembelajaran (Reigeluth dan Stein dalam Degeng, 1997) serta bagaimana sudah memikirkan alat ukur yang digunakan untuk mengetahui ”bilama mana sampai” (Briggs dalam Suparman, 2001) terkait dengan tujuan atau kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
Konteks variabel metode/cara-cara terkait dengan strategi mengorganisasi materi, pemilihan media, evaluasi, kondisi pembelajaran atau aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa, baik di kelas, di luar kelas bahkan di luar sekolah. Penataan urutan yang sistematis (setting) tersebut dituangkan dalam bentuk rencana pembelajaran (instructional design).
Dengan demikian kedudukan model pembelajaran sangat penting dalam kegiatan pembelajaran, yang selalu memperhatikan ketiga variabel kondisi, metode dan hasil pembelajaran. Model inilah yang akan dijadikan pedoman dan acuan bagi guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.
observasi, tes.
E.   Macam-Macam Model Pembelajaran.
1.  Model Jigsaw
Model pembelajaran  kooperatif teknik JIGSAW (Model Tim Ahli) dikemukakan oleh Aronson, Blanney, dan Stephen, Sikes dan Snapp, tahun 1978
1)    Pengertian
Pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw adalah suatu pembelajaran kooperatif dimana dalam proses pembelajaran setiap siswa dalam kelompok disilang dan memperoleh tugas yang berbeda. Anggota kelompok yang memperoleh tugas sama dikumpulkan jadi satu dan membahas tugas tersebut (kelompok kooperatif). Tiap anggota setelah selesai mengerjakan harus kembali ke kelompok semula untuk menyampaikan hasil pembahasan (ahli informasi), sehingga kelompok pembahas kembali ke kelompok semula dengan membawa berbagai permasalah yang berbeda untuk disampaikan kepada teman sejawat dalam kelompok.
2)    Langkah–langkah Pembelajaran
(1). Siswa dibagi dalam kelompok kecil, @ 3 – 5 orang siswa.
(2). Setiap anggota kelompok diberi tugas yang berbeda.
(3). Tiap siswa dalam kelompok membaca bagian tugas yang diperolehnya.
(4). Guru memerintahkan siswa yang mendapat tugas yang sama berkumpul membentuk kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan tugas tersebut.
(5). Setiap siswa kelompok-kelompok baru mencatat hasil diskusinya untuk di laporkan pada kelompk semua (kelompok lama).
(6). Selesai diskusi sebagai tim ahli, masing-masing kembali ke kelompok asal (semula) untuk menyampaikan hasil diskusi ke anggota kelompok asal dan  secara bergilir atau bergantian dari tim ahli yang berbeda tugasnya.
(7). Setelah seluruh siswa selesai melaporkan, guru menunjukkan salah satu kelompok untuk menyampaikan hasilnya, dan siswa lain diberi kesempatan untuk menanggapinya.
(8)  Guru dapat mengklarifikasi permasalahan serta disimpulkan
2. Model Numbered Heads Together (Kepala Bernomor)
Spencer  Kagan, tahun 1992 mengembangkan pembelajaran kooperatif tteknik Number Head Together (NHT) atau kepala bernomor. Artinya setiap siswa dalam berkelompok diberi kartu nomor
Langkah-langkah Pembelajaran:
1)   Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor kepala.
2)   Guru memberikan tugas, diupayakan setiap kelompok mendapat tugas yang berbeda, dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
3)   Kelompok mendiskusikan jawaban, tiap anggota kelompok mencatat hasil diskusi.
4)   Setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab dan kesempatan yang sama untuk melaporkan hasil diskusinya.
5)   Guru memanggil salah satu nomor siswa dalam kelompok untuk melaporkan hasil diskusinya di depan kelas.
6)   Kemudian kelompok lain dapat memberikan masuikan/meresponsi dari hasil diskusinya  (menyempurnakan);.
7)   Guru selanjutnya dapat mengulangi beberapa kali dari kelompok yang berbeda.
8)   Guru mengklarifikasi apabila timbul permasalahan dan menarik kesimpulan.
3.  Model Pembelajaran Think Pair And Share
 Frank Lyman, tahun 1985  telah mengembangkan pembelajaran kooperatif teknik Think Paire and Sharre (berpikir berpasang-pasangan dan curah pendapat).
1)  Pengertian
Model pembelajaran kooperatif dimana siswa dalam satu kelas dibagi dalam kelompok kecil (4-6 orang) atau lebih saling berpasangan untuk tukar pendapat serta saling membantu satu sama lain dalam rangka mencapai kompetensi yang ditetapkan.
Kurikulum 2004 menitikberatkan pada pencapaian kompetensi dasar  yang harus dimiliki dan dikuasai siswa. Kompetensi tersebut dapat diukur dan diamati berdasarkan indikator pembelajaran. Indikator pembelajaran akan dicapai dan dikuasai melalui pengalaman pembelajaran. Pengalaman pembelajaran berdasarkan tuntutan kurikulum 2004 lebih menekankan pada aktivitas siswa yang konkret dalam proses belajar, karena itu guru harus pandai menciptakan kondisi belajar seoptimal mungkin. Peran guru hanya sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu model pembelajaran demikian itu memerlukan  strategi pembelajaran (instruction  strategic) yang tepat. Salah satu strategi yang dipandang mendekati harapan tersebut adalah pembelajaran kooperatif. Banyak ragam pembelajaran kooperatif, diantaranya adalah tehnik Think Pair- Share.
Slavin (dalam Arends, 1997) hasil penelitian sebanyak 45 kali terhadap pembelajaran kooperatif menunjukkan bahwa  hasil belajar akademik lebih tinggi, dibanding kelas kontrol.
Johnson & Johnson (dalam Lie, 2000) mengemukakan bahwa suasana belajar kooperatif menghasilkan prestasi belajar lebih tinggi, hubungan positif dan penyesuaian psikologis dan suasana belajar yg penuh persaingan
Selanjutnya Johnson dan Johnson (1996), juga menekankan bahwa cooperative learning  (CL) sebagai pembelajaran dalam kelompok-kelompok kecil di mana siswa belajar dan bekerjasama untuk mencapai tujuan seoptimal mungkin. Esensinya terletak pada tanggung-jawab individu sekaligus kelompok, sehingga dalam diri setiap siswa tumbuh dan berkembang sikap-laku saling ketergantungan (interdependensi) secara positip. Dengan demikian menjadikan belajar melalui kerjasama dalam kelompok akan berjalan seoptimal  mungkin. Kondisi ini dapat mendorong siswa untuk belajar, bekerja dan bertanggung-jawab secara sungguh-sungguh sampai tujuan dapat diwujudkan.

2).  Tujuan

¨  Meningkatkan hasil belajar akademik
¨  Meningkatkan kesadaran untuk menerima terhadap keragaman
¨  Mampu meningkatkan dan mengembangkan ketrampilan sosial
3)    Manfaat
Pembelajaran dengan cooperative learning akan memberikan manfaat bagi siswa dalam:
·         Meningkatkan kemampuannya untuk bekerjasama dan berso–sialisasi
·         Melatih kepekaan diri, empati melalui variasi perbedaan sikap-laku selama bekerjasama
·         Upaya mengurangi rasa kecemasan dan menumbuhkan rasa percaya diri
·         Meningkatkan iklim belajar siswa yang lebih aktif dan membangun masyarakat belajar yang saling ketergantungan dan bekerjasama.
·         Meningkatkan motivasi belajar (partisipasi dan minat), harga diri dan sikap-laku yang positip
·         Memupuk rasa tanggung jawab baik individu maupun kelompok.
4.   Langkah-Langkah Pembelajaran:
1)   Guru menyampaikan pokok materi dan kompetensi yang ingin dicapai.(konfirmasi)
2)   Siswa diminta membentuk kelompok pasngan kecil @ 2 orang (usahakan genap, karena akan dipasang-pasangkan)
3)   Siswa diminta untuk berpikir dan memecahkan permasalahan yang disampaikan guru terkait dengan pokok materi.(eksplorasi)
4)   Siswa diminta untuk berpasang-pasangan saling mengemukakan hasil pemikiannya terhadap permasalahan yang diberikan oleh guru..(elaborasi)
5)   Kemudian setelah selesai memecahkan masalahan secara pasangan, selanjutnya disiswa diminta memilih pasangan hingga terbentuk kelompok kecil @ 4 orang
6(  Tiap anggota kelompok kecil diminta untuk saling berbagi pendapat atau curah pendapat hasil pemecahan masalah secara pasangan. (elaborasi)
6)   Guru memimpin pleno diskusi dan tiap kelompok diberi kesempatan untuk mengemukakan hasil diskusinya. (konfirmasi)
7)   Berawal dari kegiatan tersebut mengarah pada pembicaraan pokok permasalahan dan guru dapat menambah materi yang belum diungkap para siswa.(konfirmasi)
8)   Guru memberi kesimpulan.


4.   Model Pembelajaran Student Teams Achievment Divisions (STAD)
1) Pengertian
Model pembelajaran Student Teams Achivement Devissions (STAD) atau tim Siswa Kelompok Berprestasi dikembangkan oleh Slavin tahun 1994. Di dalam kelompok belajar, pasti ada murid pandai dan kurang pandai atau siswa berprestasi dan kurang berprestai. Menyadari kondisi seperti Slavin mengembangkan model pembelajaran, di mana tiap-tiap kelompok tim belajar terdapat siswa yang memiliki prestasi lebih dibanding dengn teman sejawatnya.
Di dalam proses pembelajaran, bagi siswa yang sudah menguasai atau memahami bahan/materi  pembelajaran yang sedang di bahas dalam kelompok, diharapkan mampu membelajarkan kepada teman sejawat dalam  satu tim, sehingga timbul proses interaksi di antara siswa..
Pembelajaran kooperatif teknik STAD adalah model pembelajaran kooperatif, dimana proses pembelajaran siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok kecil (4 - 6 ) berdasarkan kelompok siswa berprestasi. Dalam berkelompok diantara temannya saling bertukar pendapat, sehingga siswa yang merasa kurang, akan bisa belajar melalui teman sebaya dalam kelompok tersebut.

2)      Langkah-Langkah Pembelajaran

(1)   Membentuk kelompok  @ 3 – 5 orang siswa secara heterogen (menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dsb).
(2)   Guru menyajikan/menyampaikan  materi pembelajaran.
(3)   Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan. Anggota kelompok yang sudah menguasai diminta menjelaskan pada anggota kelompoknya sampai anggota dalam kelompok itu mengerti atau memahami.
(4) Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis teman kelompok tidak boleh membantu.
(5)      Guru memberi evaluasi.

5.  GROUP INVESTIGATION
Sharan tahun 1992 mengembangkan model pembelajaran kooperatif teknik investigasi kelompok . Pembelajaran ini dimaksudkan untuk membina sikap tanggung jawab dan bekerjasama dalam kelompok, dan membina sikap saling menghargai pendapat anggota kelompok serta membiasakan untuk berani mengemukakan pendapat
Langkah-langkah Pembelajaran:
1)   Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang heterogen.
2)   Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok yang harus dikerjakan.
3)   Guru memanggil ketua-ketua kelompok untuk mengambil materi tugas yang berbeda untuk dikerjakan
4)   Masing-masing kelompok membahas materi tugas secara kooperatif dalam kelompoknya.
5)   Setelah selesai, lewat juru bicara (missal ketua kelompoknya) menyampaikan hasil pembahasan di kelompoknya.
6)   Kelompok lain dapat memberikan tanggpan terhadap hasil pembahasannya.
7)   Guru memberikan penjelasan singkat (klarifikasi) bila terjadi kesalahan konsep dan memberikan kesimpulan.
8)   Evaluasi
6.  Cooperative Script
Dansereau, dkk, 1985 mengembangkan Model pembelajaran Cooperative Script: merupakan cara-cara belajar dimana siswa bekerjasama berpasang-pasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi pelajaran yang dipelajari.
Langkah-langkah Pembelajaran:
1).  Guru membagi siswa untuk berpasang-pasangan.
2).  Guru membagikan wacana/materi kepada setiap pasangan untuk dibaca dan membuat ikhtisar (ringkasan).
3).  Guru dan siswa menetapkan pasangan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
4).  Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide dalam ringkasannya.
      Sementara pendengar (anggota pasangannya):
=  Memperhatikan, mengoreksi, menunjukkan ide-ide yang kurang lengkap.
 =Membantu mengingat, menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan  materi sebelumnya atau dengan materi lain.
5).  Bertukar peran, semula sebagai pembicara, sebaliknya pendengar sebagai pembicara dan dilakukan seperti di atas.
6).  Guru menyimpulkan pokok-pokok  hasil pembahasan
7).  Penutup.
7. Make  A Match (Mencari Pasangan)
Dalam rangka membina ketrampilan menemukan informasi dan  kerjasama dengan orang lain serta membina tanggung jawab untuk memecahkan masalah yang dihadapi melalui kartu permasalahan, maka Lorna Curran,  tahun 1994 mengembangkan model pembelajaran kooperatif teknik “ make a match “ atau mencari pasangan.
Langkah-langkah Pembelajaran:
1).  Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review. sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
2).  Setiap siswa mendapat satu buah kartu.
3).  Tiap siswa memikirkan jawaban soal dari kartu yang dipegang.
4).  Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartu jawabannya.
5).  Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi point. Hadiah.
6).  Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya.
7).  Demikian seterusnya.
8).  Guru menyimpulkan secara keseluruhan dari isi materi pembelajaran melalui kartu-kartu tersebut.
 9). Penutup.
8.   Model Pembelajaran Debate
Dalam rangka mendorong siwa untuk berani mengemukakan pendapat dan mempertahankan pendapatnya serta membina tanggung jawab kebersamaan dalam mempertahankan ide-ide/gagasannya perlu dibelajarkan model pembelajaran debat.
Langkah-langkah pembelajaan:
1).  Guru membagi dua kelompok peserta debat, yaitu kelompok dan kelompok kontra.
2).  Guru memberikan tugas untuk membaca materi yang akan didebatkan oleh ketua kelompok debat.
3).  Setelah selesai membaca materi, guru menunjuk salah satu anggota kelompok pro untuk berbicara dan kelompok kontra menannggapinya. Begitu seterusnya kelompok pro merespon balik tanggapan kelompok kontra sampai sebagian besar siswa bisa mengemukakan pendapatnya.
4).  Sementara siswa menyampaikan gagasannya, guru menulis inti dari ide-ide dari setiap pembicaraan di papan tulis, sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi.
5).  Guru menambahkan konsep, ide yang belum terungkap serta mengklarifikasikannya.
6).  Dari ide/gagasan tertulis di papan tersebut, guru mengajak siswa untuk membuat kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada topik materi/kompetensi yang ingin dicapai.

9    Model Pembelajaran Role Playing
Model pembelajaran Role playing atau bermain peran, dilakukan dalam rangka membina tanggung jawab individu sebagai pemeran, dan membina tanggung jawab bersama dalam memerankan pelakonan  serta membina sikap emosional atau karakter siswa dalam memerankan pelakonan
Langkah-langkah Pembelajaran Model Role Playing:
1)   Guru menyusun/menyiapkan scenario yang akan ditampilkan.
2)   Guru menunjukkan beberapa siswa sebagai pemeran untuk mempelajari scenario tersebut dua atau tiga hari sebelum pemeranan dimulai.
3)   Guru memberikan penjelasan singkat tentang kompetensi yang ingin dicapai dalam pembelajaran.
4)   Guru membentuk kelompok siswa @  5 orang untuk mengamati pelakonan yang ditampilkan oleh kelompok pemeran.
5)   Memanggil para pemeran yang telah ditunjuk untuk melakonkan scenario yang sudah dipersiapkan.
6)   Selesai penampilan para pemeran, kemudian masing-masing siswa (kelompok) diberikan lembar kerja untuk di bahas.
7)   Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil pembahasan terhadap tampilan pemeran.
8)   Guru memberikan kesimpulan secara umum, terkait dengan topik materi yang dilakonkan.
9)   Evluasi

9.   Model Pembelajaran Kooperatif Tehnik Think Paire Share And Talking Chip

Model pembelajaran berpikir berpasangan dan curah pendapat melalui kartu bicara bertujuan untuk membina ketrampilan berpikir dan bekerjasama dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya melalui kartu-kartu bicara.
Langkah-langkah pembelajaran:
1)   Guru membagi siswa dlm kelompok kecil (4 org)
2)   Setiap kelompok mendapatkan tugas dan mengerjakan tugas tsb.
3)   Setiap siswa mengamati/mengkaji tentang tugas tersebut
4)   Siswa berpasangan dgn rekan kelompoknya mengecek pemahaman berdasarkan hasil pengamatan/kajian
Contoh Kartu bicara/permasalahan.(disiapkan guru dan dikerjakan siswa)
Oval: Permasalahan:
• Masalah pengangguran
• Masalah kesehatan
• Masalah keamanan
• Masalah pendidikan
• Dsb.
(kartu bagian belakang)
Oval: Perpindahan penduduk dari desa ke kota menimbulkan kepadatan penduduk di kota, dan akibatnya timbul berbagai permasalahan. Identifikasi permasalahan dimaksud
( kartu bagian depan)
Kartu Bicara disiusun dan harus relevan dengan materi yang dibahas dalam mata pelajaran.











10.  Model Pembelajaran Pencapaian Konsep.
Model pembelajaran pencapaian konsep (concept attaiment) difungsikan untuk menemukan konsep dan perumusan pengertian tentang suatu konsep.
1)   Pengertian
Model pembelajaran pencapaian konsep adalah cara pembelajaran dimana siswa dalam pembelajaran mampu menemukan suatu  konsep (concept attaiment) atau mengembangkan konsep (concept development) sehingga pada kegiatan proses selanjutnya hingga akhir suatu pelajaran seorang siswa akan mampu berpikir kritis dalam menyikapi fenomena disekitarnya.
Berdasarkan naskah kerjasama antara UNICEF melalui Global Dialogue Institute dengan Direktorat Pendidikan Dasar Depdiknas, (2000) dan Bahan Penataran Instruktur tentang Pendekatan dan Metode Pembelajaran, (M. Rianto, 1999/2000) disebutkan bahwa dalam mengimplementasikan pembelajaran pencapaian konsep (concept attainment/CA) dimaksudkan agar siswa terlatih dalam membangun sekaligus mengembangkan konsep sendiri dalam kerangka berpikirnya berdasarkan realita yang di alami dan atau ciri-ciri suatu peristiwa.  
Kurikulum 2004 menitik beratkan pada pencapaian kompetensi dasar yang harus dimiliki dan dikuasai siswa. Kompetensi tersebut dapat diukur dan diamati berdasarkan indikator pembelajaran. Indikator pembelajaran akan dicapai dan dikuasai melalui pengalaman pembelajaran. Pengalaman pembelajaran berdasarkan tuntutan kurikulum 2004 lebih menekankan pada aktivitas siswa yang konkret dalam proses belajar, karena itu guru harus pandai menciptakan kondisi belajar seoptimal mungkin. Peran guru hanya sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu model pembelajaran demikian itu memerlukan  strategi pembelajaran (instructional  strategic) yang tepat.
Banyak bahan ajar yang berupa konsep-konsep, namun tidak semua siswa memahami konsep-konsep tersebut. Oleh karena itu pembelajaran konsep merupakan strategi pembelajaran yang tepat untuk membelajarkan dimana bahan kajian berupa konsep-konsep. Artinya melalui pembelajaran konsep siswa menemukan sendiri konsep yang dimaksud sesuai topik materi pembelajaran.

Dengan demikian model pembelajaran pencapaian konsep, digunakan manakala kita menduga secara konseptual siswa belum memahaminya.

2).   Tujuan pembelajaran Pencapaian konsep.

Tujuan pembelajaran Pencapaian konsep, tentu hasil belajar yang diharapkan adalah pemahaman suatu konsep, Disamping itu dalam rangka pengembangan konsep–konsep lain.

3).   Keuntungan Pembelajaran Konsep

Keuntungan yang diperoleh dari model pembelajaran pencapaian konsep antara lain:
¨    Pembelajaran menjadi aktif, dimana siswa secara cermat mengidentifikasi ciri–ciri khusus sebagai paramteri dari konsep
¨    Membangun ketrampilan sosial dalam mengembangkan konsep
¨    Membina berpikir kritis, melalui tukar pendapat antar teman belajar (sharring) dengan teman
¨   Tanggung jawab individual dan kelompok
4)   Langkah-langkah pembelajaran pencapaian konsep:
(1)     Guru memajang gambar-gambar yang memiliki cirri-ciri yang mendukung konsep dan tidak mendukung konsep yang akan dipelajari siswa..
(2).    Siswa diminta untuk mengamati gambar dan kemudian menyebutkan atau mengemukakan kata yang ditemukannya dari hasil pengamatan
(3)     Siswa diminta untuk menggali kata-kata atau cirri-ciri  dari gambar yang mendukung konsep diberi kode “ ya “ , sedangkan yang tidak mendukung cirri-ciri konsep diberi kode “tidak “.
(4)     Siswa diminta untuk mengelompokkn kata-kata  atau cirri-ciri yang memiliki kode “ ya ”.
(5)     Selanjutkan siswa diminta merangkai kata-kata dari cirri-ciri yang diberi kode “ ya “ dalam suatu kalimat menjadi sebuah pengertian, atau definisi.
(6)     Penutup.
11. Model Pembelajaran Kontektual (Contextual Teaching and Learning)
1)   Pengertian CTL
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning – CTL ) sebagai model pembelajaran untuk membangun pengetahuan dan ketrampilan berpikir melalui bagaimana belajar dikaitkan dengan situasi nyata  di lingkungan sekitar siswa, sehingga hasilnya  lebih bermakna. Pengembangan model pembelajaran ini mengakomodasi motto belajar (CTL Academy Fellow, 1999) bahwa cara belajar terbaik apabila siswa mengkonstruksikan sendiri secara aktif pemahamannya. 
Pembelajaran CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong mereka untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupannya sehari-hari, (Direktorat PLP Ditjen Dikdasmen Depdiknas, 2003).  Pembelajaran yang dikembangkan menggunakan pendekatan substansi (content) pelajaran dikontekskan pada situasi kehidupan di sekitar siswa ini dengan pertimbangan akan memperlancar proses belajar mereka sekaligus memahami dan menyadari bahwa pengetahuan yang didapatkan di sekolah sesuai dengan apa yang dibutuhkan, sehingga akan memberikan manfaat bagi kehidupannya. Hal ini akan menjadikan pendorong mereka untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam kapasitasnya sebagai anggota keluarga dan warga masyarakat.
Pembelajaran kontekstual ini disamakan dengan pembelajaran berdasarkan pengalaman (experiencial learning), pendidikan dunia nyata (real worlf education), pembelajaran aktif (active learning), pembelajaran berpusat pada siswa (learner centered instruction), dan pembelajaran dalam konteks (learning in context).
2)  Tujuan CTL
Pembelajaran kontekstual dirancang dengan tujuan untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar, di samping membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan/ditransfer antar permasalahan dan antar konteks. 
3)  Komponen CTL
Ada tujuh komponen utama pembelajaran yang melandasi penerapan pembelajaran kontekstual, yaitu (1) konstruktivistik, (2) bertanya, (3) menemukan, (4) masyarakat belajar, (5) permodelan, (6) refleksi, (7) penilaian yang sebenarnya.(Nurhadi, dkk: 2003:33)
3)  Prinsip Pembelajaran CTL
Untuk melaksanakan pembelajaran kontekstual menurut Zahorik (1995) ada lima elemen yang perlu diperhatikan, yaitu:
·         Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge)
·         Pemerolehan pengetahuan baru (aquiring knowledge) dengan mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan detailnya        
·         Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) dengan
·         cara menyusun konsep sementara (hipotesis), melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan (validasi), dan atas dasar tanggapan suatu konsep direvisi dan dikembangkan
·         Mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge)
·         Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.
4)    Karakateristik CTL
Karakteristik pembelajaran berbasis CTL menurut Blanchard (2001),  meliputi:
·         Menekankan pada pentingnya pemecahan masalah (problem solving)
·         Kegiatan pembelajaran perlu dilakukan dalam berbagai konteks, seperti rumah, masyarakat dan tempat kerja
·         Selama pembelajaran perlu memantau dan mengarahkan siswa  agar dapat belajar mandiri
·         Pembelajaran perlu ditekankan pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda
·         Mendorong siswa untuk dapat belajar dari temannya dan belajar bersama dalam kelompok
·         Menggunakan penilaian autentik yang mencakup proses maupun hasil.
Kata kunci pembelajaran berbasis CTL, meliputi: kerjasama, saling menunjang, menyenangkan/tidak membosankan, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi antar disiplin, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, sharing dengan teman, siswa kritis dan guru kreatif, dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa (seperti: peta-peta, gambar, artikel, humor, dan sebagainya), dan laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa (seperti: laporan hasil praktikum, karangan, dan sebagainya).
5). Langkah-langkah Pembelajaran CTL
Gambaran sederhana penerapan ketujuh kompoen pembelajaran kontekstual dalam kelas adalah sebagai berikut:
a)   Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja, menemukan, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya. Filosofi konstruktivisme ini yang melandasi CTL, yaitu pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Selama pembelajaran siswa dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Untuk itu mereka sendiri yang harus mengkontruksikan pengetahuan dibenaknya, menemukan dan mentransformasikan suatu informasi ke situasi lain. Dalam pembelajaran menurut pandangan konstruktivis bahwa strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Selama pembelajaran guru tugasnya menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa, memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
b)   Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik. Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Apapun bahan ajar yang disajikan, guru hendaknya menciptakan kegiatan yang memungkinkan siswa dapat menemukan melalui siklus kegiatan, yaitu merumuskan masalah, observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hiphotesis), pengumpulan data (data gathering), dan penyimpulan (conclusion).
c)   Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu berawal dari bertanya. Dalam pembelajaran kegiatan bertanya yang produktif amat berguna untuk menggali informasi, mengecek pemahaman siswa, membangkitkan respon siswa, mengetahui sejauhmana sifat keingintahuan siswa,  mengetahui hal-hal yang sudah diketahui oleh siswa, memfokuskan perhatian siswa, membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, dan menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
d)   Ciptakan masyarakat belajar (learning community) atau belajar dalam kelompok-kelompok. Melalui masyarakat belajar, maka hasil belajar diperoleh melalui cara kerjasama, sharing antar teman baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
e)   Hadirkan model, pemodelan (modeling) sebagai contoh pembelajaran, sehingga siswa dapat meniru sebelum melakukan atau bertanya segala hal yang ingin diketahui dari model dan guru bukanlah satu-satunya model.
f)   Lakukan refleksi di akhir pertemuan. Hal ini merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari, karena siswa akan mengendapkan pengetahuan ke dalam kerangka berpikirnya untuk kepentingan jangka panjang (long term memory) sebagai pengayaan atau revisi atas pengetahuan sebelumnya.
g)   Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) dengan berbagai cara untuk memberikan gambaran tentang perkembangan belajar siswa. Hasil penilaian ini yang lebih penting untuk membantu agar siswa mampu belajar (learning how to learn), bukannya diperolehnya sebanyak mungkin informasi. Adapun karakteristik penilaian autentik, meliputi: dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran; bisa digunakan untuk tes formatif dan sumatif; yang diukur ketrampilan dan performansi, bukannya mengingat fakta; berkesinambungan, dan dapat digunakan sebagai feed back. Sedangkan hal-hal yang dnilai, antara lain: proyek/kegiatan dan laporannya, PR, kuis, presentasi/penampilan, demonstrasi, laporan, jurnal, hasil tes tertulis, karya tulis, dan sebagainya.
F.   Kriteria Pemilihan Model Pembelajaran.
Untuk memilih suatu model pembelajaran yang dirancang oleh guru  diperlukan kriteria-kriteria tertentu. Reigeluth dan Merril, 1978; 1979; Reigeluth, 1979a; 1983, mengklasifikasi variabel yang saling terkait dan saling mempengaruhi menjadi tiga, yaitu  kondisi pembelajaran, metode pembelajaran dan hasil pembelajaran (dalam Degeng 1997)
1.   Kondisi Pembelajaran,
            Kondisi pembelajaran adalah faktor yang mempengaruhi efekt metode dalam meningkatkan hasil pembelajaran. Ia berinterkasi dengan metode pembelajaran, dan hakekatnya tidak dapat dimanipulasi. Model pembelajaran yang dipilih dan disusun guru yang kemudian dituangkan dalam Rancangan Pembelajaran (RP), harus selalu memperhatikan dan mempertimbangkan kriteria kondisi pembelajaran.
      Reigeluth dan Merril 1979 mengelompokkan variabel kondisi pembelajaran menjadi tiga kelompok, yaitu
(1) Tujuan atau kompetensi pembelajaran serta karakteristik bidang studi/ mata pelajaran, sangat erat kaitannya dengan strategi pengorganisasian isi/materi pembelajaran.
(2) Kendala atau kterbatasan sumber, waktu, media dan personalia sangat erat kaitanyya dengan pemilihan strategi penyampaian
(3)  Karakteristik si belajar atau aspek/kualitas perseorangan si belajar seperti bakat, motivasi, dan hasil belajar yang telah dimiliki sebelumnya.. Hal ini sangat erat kaitannya dengan pemilihan strategi pengelolaan pembelaajran.

2.   Metode Pembelajaran
            Metode pembelajaran adalah cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda. Pada dasarnya semua cara dapat dimanipulasi oleh perancang pembelajaran. Bila dalam suatu situasi, metode pembelajaran tidak dapat dimanipulasi, maka ia berubah menjadi kondisi, sebaliknya bila suatu kondisi dapat dimanipulasi, ia menjadi metode.
            Apapun model pembelajaran yang akan dipilih, harus selalu memperhatikan cara-cara yang akan digunakan dalam pembelajaran. Cara-cara yang digunakan pada Kelas A akan berbeda dengan Kelas B atau C. Hal ini disebabkan karena kondisi yang berbeda.
Degeng, 1997 mengelompokkan variabel metode pembelajaran menjadi tiga jenis, yaitu:
(1)  Strategi pengorganisasian pembelajaran (organizational strategy)
(2) Strategi penyampaian pembelajaran (delivery strategy)
(3)  Strategi pengelolaan pembelajaran (management strategy)
3.   Hasil Pembelajaran
            Hasil pembelajaran adalah semua efek yang timbul  yang dapat dijadikan indikator terhadap penguasaan dan penampilan perilaku si-belajar dari suatu tujuan atau kompetensi yang telah ditetapkan. Karena itu hasil pembelajaran dapat berupa hasil nyata (actual outcomes) dan hasil yang diinginkan (disired outcomes)
Actaul outcomes dapat berupa prestasi belajar dalam bentuk nilai hasil tes atau ujian hasil dari pengukuran. Sedangkan disired outcomes berupa harapan-harapan yang di kelak kemudian dapat ditampilkan si – belajar dalam perilaku sehari-hari.
Juga oleh Degeng, 1997, bahwa variabel hasil pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu
(1)  Keefektifan (effectiveness)
      Biasanya diukur dengan tingkat pencapaian si-belajar. Ada empat aspek yang dapat dijadikan indikator keefektifan pembelajaran, yaitu:
(a) kecermatan penguasaan perilaku yang dipelajari,
(b) kecepatan unjuk kerja (ketrampilan yang ditunjukkan)
(c)  tingkat alih belajar (transfer) pengetahuan yang dipelajari
(d) tingkat retensi (daya tahan ingatan) dari apa yang dipelajari
(2)  Efisiensi pembelajaran.
      Biasanya diukur dengan rasio antara keefektifan dan jumlah waktu yang dipakai si belajar dan/atau jumlah biaya pembelajaran yang digunakan.
(3)  Daya tarik.
      Biasanya diukur dengan mengamati kecenderungan siswa untuk tetap/terus belajar.
Secara tegas dan jelas, hasil belajar dapat dilihat pada Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial Sekolah Dasar. Melalui indikator-indikator yang dituntut untuk ditampilkan oleh si-belajar,  berarti kompetensi dasar telah dicapai.

F.   Contoh Penerapan Model Pembelajaran dalam Rancangan Pembelajaran
1.   Teknik Pencapaian Konsep (Concept Attaiment)
Model Rancangan pembelajaran (RP) pencapaian konsep ini, disusun berdasarkan langkah-langkah pembelajaran pencapaian konsep. Dasar pemikiran yang melatar belakangi penyusunan model ini adalah guru dalam mengaplikasikan Kurikulum berbasis kompetensi selalu berpedoman pada Rancangan Pembelajaran (RP). Oleh karena itu sebelum pembelajaran di mulai, guru harus mendesain atau merancang pembelajaran yang akan diciptakan di dalam kelas, di luar kelas, bahkan di luar sekolah.
RENCANAPEMBELAJARAN
Nomor 1

I. Identitas matapelajaran

1. Matapelajaran                        : Pengetahuan Sosial

 2. Materi Pokok                        : Penduduk & Sistem   Pemerintahan

 3. Topik Bahasan                      : Konsep Penduduk Di Indonesia

 4. Kelas/Semester                     : V/I

 5. Pertemuan Minggu Ke          : 3

 6. Waktu                                   : 2 X 40 menit

II    Standar Kompetensi:

     Kemampuan memahami wawasan nusantara,  keadaan penduduk dan pemerintahan serta kerja keras para tokoh kemerdekaan.

III.    Kompetensi dasar

Kemampuan Memahami Keadaan Penduduk & Pemerintahan Di Indonesia

IV.    Indikator

¨   Menjelaskan pengertian, perkembangan jumlah, penggolongan, persebaran dan kepadatan penduduk.

¨   Mengintepretasikan berbagai grafik penduduk
¨   Menjelaskan permasalahan penduduk di Indoensia

V    langkah-langkah pembelajaran

§   Konsep Penduduk dan pengembangannya

A.   PENDAHULUAN

1   Menyajikan lagu “Satu Nusa Satu Bangsa”

2      Menyampaikan topik pembahasan hari ini

3.  Coba amati gambar yang ada pada lembar informasi di bawah ini  Catat dan pikirkan hal-hal penting terkait dengan tugas-tugas berikutnya.

B.    KEGIATAN INTI.

1.   Tanya jawab tentang lagu Nusa Satu Bangsa untuk diidentifikasi  ciri   konsep penduduk sebagai parameter (ya)

2.   Tanya jawab tentang asal-usul, suku bangsa untuk mendata ciri /parameter konsep penduduk (ya).

4.      Tanya jawab tentang lagu tersebut untuk mendata ciri-ciri dari konsep yang bukan termasuk konsep penduduk sebagai parameternya (tidak). 

5.      Meminta siswa untuk membedakan antara ciri-ciri konsep penduduk ( ya) dan bukan (tidak) cirri-ciri konsep penduduk.

6.      Meminta siswa untuk menyusun ciri-ciri dari konsep penduduk sebagai parameter menjadi suatu kalimat (DEFINISI)

7.   Kembangkan konsep teersebut dengan sub konsep lain, seperti penduduk menurut penggolongan menurut jenis kelamin, tempat tinggal, usia, persebaran penduduk, perpindahan penduduk dsb.

5.      Memberi penguatan dan mengklarifikasi (pembenaran) agar tidak terjadi salah konsep.

C.   PENUTUP

1.    Menyimpulkan dan mengadakan evaluasi.

2.    PR. Secara kelompok (4 orang) untuk mendapat keberadaan penduduk menurut ia, jumlah, usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan.

3.    Salam penutup

VI.    Sarana/Alat Dan Sumber Pembelajaran

1.   Lembar Informasi

2.   Lembar Tugas

3.   Lembar Pengamatan

4.   Peta Indonesia

VII. Penilaian & Tindak Lanjut

1.   Penilaian Kognitif melalui tes lisan dan tugas.

2.   Penilaian Afektif melalui pengamatan

3.   Penilaian Tugas

Mengetahui                                                                    …………………………….
Kepala SD…..                                                               Guru PS/KN Kelas  V
………………………..                                                 ………………………….
NIP.                                                                               NIP
Lampiran:

LEMBAR INFORMASI

1.    Amatilah gambar kelompok orang–orang dan gambar burung dibawah ini. Kemudian identifikasi ciri–ciri khusus dari masing-masing gambar tersebut.











Gambar kelompok orang-orang
 
Text Box:       
           

TUGAS KELOMPOK

Berdasarkan lembar informasi di atas, maka bahas/kajilah beberapa permasalahan berikut ini:

1.  Tentukan ciri-ciri masing-masing gambar dengan menggunakan format berikut ini:
No
Ciri-ciri burung
No.
Ciri-ciri penduduk
1



2



3



4



5



6



7




2.  Identifikasi ciri-ciri khusus yang mendukung pada konsep penduduk,

3. Ciri-ciri tersebut kemudian rangkaikan dalam bentuk kalimat menjadi suatu pengertian atau suatu definisi tentang konsep penduduk..

4.  Selanjutnya, pengembangkan konsep penduduk.
5. Bacalah dengan cermat data dan grafik di bawah ini,.

Perkembangan Jumlah Penduduk di 6 propinsi

Propinsi

1980

1990

2000

DKI Jakarta

     6.506.449

      8.254.035

    8.384.863

Jawa Barat

   27.453.525

    35.381.153

  43.552.923

Jawa Tengah

   25.372.889

    28.521.692

  30.856.825

Jawa Timur

   29.182.852

    32.503.815

  34.526.688

NTT

     2.737.166

      3.268.644

    3.929.039

Papua

     1.173.875

      1.641.430

    2.112.756

(Sumber: Badan Pusat Statistik Nasional: 2001









Penggolongan Penduduk Menurut Usia

Usia

Jumlah

0 - 4

20.896.607

5 - 9

23.080.610

11 -14

21.436.513

15 - 19

18.919.438

20 - 24

16.648.005

25 - 29

15.540.812

30 - 34

13.191.023

35 - 39

11.252.545

40 - 44

                          8.000.254

45 - 49

7.623.793

50 - 54

6.696.137

(Sumber: Badan Pusat Statistik Nasional: 2001)

 

Penggolongan Penduduk Menurut Tempat Tinggal

Tempat tinggal

Jumlah

Di Perkotaan

30,93% atau 55.460.466

Di Pedesaan

69,07% atau 123.861.175.

(Sumber: Badan Pusat Statistik Nasional: 2001)


4.  Akibat ledakan penduduk membawa dampat negatif. Identifikasi permasalahan yang ditimbulkan akibat ledakan penduduk yang cepat di Indonesia.

5.  Berdasarkan data di atas penduduk kebanyakan bertempat tinggal di pedesaan. Agar tidak terjadi urbanisasi, langkah-langkah apa yang perlu ditempuh?

6,  Persebaran penduduk yang tidak merata membawa dampak kurang             menguntungkan (dampat negatif) bagi pembangunan. Jelaskan menurut pendapatmu?

7.   Berdasarkan grafik diatas, maka prioritas pembangunan dibidang apa yang diperlukan dalam rangka mengatasi gejolak pertumbuhan penduduk?




Penilaian Kognitif
Penilaian kognitif, dapat dalam bentuk tes harian, tugas individu atau kelompok.
Penilaian afektif
Afektif secara spesifik ketika proses pembelajaran dilakukan melalui kelompok, individual, dan dapat digunakan format pengamatan sebagai berikut:
Format Lembar Pengamatan (Penilaian afektif)
No
     Indikator      
              sikap

Nama
Ketekun-an

(1)
Kerajin-
An

(2)
Kedisi-
Plinan

(3)
Kerja-
Sama

(4)
Ramah


(5)
Kepe-
Dulian

(6)
Tangg
Jawab

(7)
Homati
Pendpt
Teman
(8)
Nilai Rata-rata
(NRA)



























































































































































































Keterangan:
Nilai Rerata Afektif  (NRA) = (1) + (2) + (3) + (4) + (5) + (6) + (7) + (8)  :  8
A = Baik sekali (skor 4)
B = Baik (skor 3)
C = Cukup (skor 2)
   D = kurang (skor 1)

Model penilaian afektif ini bukan harga mati, artinya masih dapat dikembangkan sesuai dengan situasi dan kondisi serta kebutuhan sekolah serta evaluasi pembelajaran..
Penilaian Psykomotor
Khusus pada penilaian psykomotor, karena karakteristik materi adalah membangun suatu konsep, maka hasil belajar siswa yang diharapkan adalah memiliki kompetensi atau kemampuan untuk membangun pengetahuan tentang konsep, yaitu konsep penduduk. Maka aplikasi penilaian ranah psikomotor belum nampak. Sehingga tidak semua bahan pembelajaran harus ada penilaian psikomotor.
Namun karena setiap kompetensi dasar mengandung keutuhan dari kognitif, afektif dan psykomotor, maka penilaian psykomotor akan dapat dilakukan berdasarkan pada indikator berikutnya yang masih dalam satu kompetensi dasar
Tugas Pekerjaan Rumah
Bentuklah kelompok terdiri dari 4 orang, kemudian lakukan observasi di kantor Keluruhan/ Balai Desa tempat tinggal atau Ketua RW setempat untuk mendata keberadaan penduduk menurut : jumlah, usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan. Penilaian psykomotor dilakukan ketika anak melakukan observasi dan membuat laporan.
2.   Teknik Think Paire and Share

RENCANA PEMBELAJARAN
Nomor: …….
I. IDENTITAS MATA PELAJARAN:
1.   Mata Pelajaran               : Pengetahuan Sosial
2.   Materi Pokok                 : Penduduk dan sistem pemerintahan
4.   Kelas/Semester              : V/……
5.   Pertemuan ke                 :  3
6.   Waktu                            : 2 X 45 menit
II.  STANDAR KOMPETENSI:
Kemampuan memahami wawasan nusantara, penduduk, dan peme-rintahan serta kerja keras para tokoh kemerdekaan

III.  KOMPETENSI  DASAR:

Kemampuan memahami keadaan penduduk dan pemerintahan di Indonesia.

IV.  INDIKATOR

·         Menjelaskan permasalahan penduduk di Indonesia
·         Mengidentifikasi bentuk, sebab dan akibat perpindahan penduduk yang terjadi di Indonesia

V.   TUJUAN PEMBELAJARAN

·         Menjelaskan permasalahan penduduk di Indonesia dibidang social
·         Menjelaskan permasalahan penduduk di bidang kesehatan
·         Menjelaskan permasalahan penduduk di bidang pendidikan
·         Menjelaskan permasalahan penduduk di bidang keamanan
·         Mengidentifikasi bentuk perpindahan penduduk yang terjadi di Indonesia.
·         Mengidentifikasi sebab perpindahan penduduk yang terjadi di Indonesia
·         Mengidentifikasi akibat perpindahan penduduk yang terjadi di Indonesia


V.   LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

*   Kooperatif learning teknik Think Pair and  Share
A.    Pendahuluan
1.   Hening sejenak (berdo’a) untuk memusatkan pikiran
2.   Menyampaikan tujuan kegiatan hari ini
3.   Mari kita sejenak menyanyi bersama “ Rayuan Pulau Kelapa “.
4.   siswa mengamati gambar melalui lembar informasi yang dise-diakan guru.
B.     Kegiatan Inti
1.   Guru menyampaikan pokok materi  pembahasan
2.   Membagi siswa dalam bentuk pasangan (dua orang)
3.   Setiap pasangan siswa memikirkan dan mengerjakan tugas antara lain:
a.   Dampak/akibat ledakan (pertambahan yang cepat) penduduk dan upaya mengatasinya.
b.   Jenis-jenis migrasi/perpindahan penduduk dan faktor penyebabnya
c.       Dampak/akibat  negatif migrasi/perpindahan penduduk
d.      Upaya penanggulangan dampak negatif dari migrasi/perpin-dahakan penduduk.
3.   Kemudian selesai memikirkan dan mengerjakan tugas secara berpasangan, diperintahkan setiap pasangan mencari pasangan lain sehingga membentuk kelompok kecil terdiri dari 4 orang,
4.   Setiap anggota kelompok kecil saling bertukar pikiran (sharring) dari hasil tugas yang sudah dikerjakan siswa.
5.   Kemudian salah satu anggota kelompok kecil diminta mempersentasikan hasil diskusi yang telah dikerjakan secara bergiliran sedangkan kelompok lain memperhatikan, mendengarkan, mengamati dan bila diperlukan merespon hasil presentasi kelompok presenter.
6.   Siswa mempunyai kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat.
7.   Guru mengklarifikasi (memperjelas) bila terjadi kesalahan konsep, prosedur maupun prinsip.

C,  Penutup

1.   Klarifikasi tiap kelompok (Kesimpulan) dan evaluasi
2.   Tugas/PR secara kelompok 4 orang untuk mendata permasalahan penduduk yang pernah terjadi di lingkungan tempat tinggal melalui data di Desa/ Kelurahan setempat.
3.   Salam penutup

VI.   SARANA/ALAT DAN SUMBER PEMBELAJARAN

1.  Lembar informasi
2   Lembar Tugas
3.  Lembar pengamatan

VII.          PENILAIAN DAN TINDAK LANJUT

1.  Penilaian Kognitif (terlampir) melalui tes
2.  Penilaian afektif (terlampir) melalui observasi
3.  Penilaian tugas



Mengetahui                                                                      Malang, ...........................
Kepala SDN.....................                                                Guru PS

______________                                                             ____________
NIP                                                                                  NIP

Lembar informasi
Amati gambar dan catat hal-hal penting yang bisa kalian tangkap terkait dengan pembahasan materi pembelajaran hari ini.





Gbr Urbanisasi penduduk







 


Perpindahan penduduk dari desa ke kota.






 

 



 

























5.Tayangkan/presentasikanhasilpemecahanmasalahdankelompok lain dipersilahkanmemberirespon/tanggapanterhadaptayangan. (MENGKOMUNIKASIKAN DAN MEMBUAT JEJARING)
6.Buatlahkesimpulanbersama guru kalian. (MENYIMPULKAN)
7.Buatlahrencanaaksi demi kelestarianlingkungansekitarAnda.(MENCIPTA)
 









Langkah-langkahpembelajaran:
                 1.            Memilihberitabaru yang aktualdanmenarikuntuk di bahas (berartiterkaitdengan KD-3/pengetahuan) berasaldari media massa, sepertisuratkabar, berita di televisi, radio dsb. MisalKD3.4  Memahami norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara “ kaitkan dengan kontekstual di sekitar nya seperti SAMPAH, kasuskerusakanlingkungan, bencanabanjir, pencemaran air sungai, dsb. (mengamati)
                2.            Siswadikelompokkan, danmasing-masingkelompokbebasmembahasdarisudutpandangmasing-masing, misalnya: “ SAMPAH “bisadarisudutpandangMASING-MASING KELOMPOK inibisadilakukanmelaluipertanyaan-pertanyaan yang diajukananggotakelompoknya(melalui proses menanya) ttgidentifikasimasalahsampah, faktorpenyebab, dampakterhadapmasyarakatkesehatan, upayapenanggulangan, responmasyarakatdalamupayapenanggulangan, dsb..(menalarmelaluikerjakelompok).
                3.            Tiapkelompokditugaskanuntukmengumpulkaninformasi/data-data untukmenemukanjawabanterhadappertanyaan-pertanyaan  yangiaajukan. (mengumpulkaninformasi) danditeruskanuntukberdiskusikelompokmemecahkanpermasalahanmelaluipertanyaantersebut. (menalar/mengasosiasai/mengolahinformasi)
                4.            Tiapkelompokmempresentasekanhasilmelaluiwakilkelompoknya, (mengkomunikasikan) sedangkankelompok lain memperhatikandanmeresponsibiladiperlukan (membuatjejaring)..
                5.            Guru mengamatidanmengklarifikasibilaterjadikesalahan (penilaianaotentik).
                6.            Membuat kesempakatan rangkuman hasil pembahasan kelas (menyimpulkan).
                7.            Buatlah projek untuk melestarikan lingkungan sekolah misalnya membawa tanaman untuk penghijauan, keindahan di sekolah (mencipta)
                8.            Penutup.
Catatan:
Setiap model pasti ada sintak (urutan langkah-langkah model pembel, dan itu sudah given dari si pembuat model. Tinggal bagaimana memperkaya (me-erichment) model tsb sesuai dengan pendekatan scientifik.


HASIL KERJA
KELOMPOK GURU PKn SD 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK
DIINTEGRASIKAN DENGAN PENDIDIKAN ANTI KORUPSI

KELAS V
SEMESTER I

TEMA : HIDUP RUKUN



OLEH :

1.      SUPARDI,S.Pd.I
2.      SUBHAN, S.Pd.
3.      HERDIWATI NAPITU, S.Pd
4.      HARYANTI,S.S.Ag
5.      NURHAYATI,S.Pd.





WORKSHOP MODEL PENGINTEGRASIAN PENDIDIKAN ANTI KORUPSI
PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN SD DAN SMP
CISARUA, 26-29  AGUSTUS 2014




















 RPP PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
BERMUATAN PENDIDIKAN ANTIKORUPSI


Satuan Pendidikan               :    SDN PERCONTOHAN
Tema / Subtema                   :    Hidup rukun
Kelas/Semester                   :    V/I
Alokasi Waktu                      :    1 Hari ( 1 x pertemuan )

A. Kompetensi Inti:
1.       Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya
2.       Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya
3.       Memahami pengetahuan faktual dan konseptual dengan cara mengamati,  menanya dan mencoba berdasarkan rasa ingin tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya  di rumah, di sekolah dan tempat bermain
4.       Menyajikan pengetahuan faktual dan konseptual dalam bahasa yang jelas, sistematis, logis dan kritis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.

B. Kompetensi dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
PPKn.

2.1.Menunjukkan perilaku disipilin ,tanggungjawab,percaya diri,berani mengakui kesalahan,minta maaf dan memberi maaf yang djiwai keteladanan phlawan kemerdekaan ri dalam semangat perjuangan ,cinta tanah air,dan rela berkorban sebagai perwujuda nilai dan moral .

Bahasa Indonesia.

3.3. Menguraikan isi tek paparan iklan tentang ekpor impor sdebagai kegiatan ekonomi antara
       banggsa dengan bantuan guru dan teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulisa dengan
       memilih dan memilah kosa kata baku.
4.3. menyajikan tek paparan iklan tentang ekpor impor sebagai kegiatan ekonomi antar bangsa
       secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulisan dengan memilihmemilah kosa
       kata baku.

Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS )

3.2. Mengenal prubahan dan  berkelanjutan yang terjaadi dalam kehidupan manusia dan  
       masyarakat Indonesia pada masa penjajahan masa tumbuhnya rasa kebangsaan serta  
perubahan dalam aspek social,ekonomi, pendidikan dan budaya.
4.2. Menceritakan hasil pengamatan mengenai perubahan berkelanjutan yang terjadi dalam
       kehidupan manusia dan masyarakat Indonesia pada masa penjajahan ,masa tumbuhnya
    rasa kebangsaan serta perubahan dalam aspek social,ekonomi, pendidikan dan budaya
    dalam berbagai jenis media.                                                     

C. Indikator

PPKn.

v  Medefinisikan pengertian disiplin
v  Menunjukkan contoh perilaku disipilin  Dilingkungan sekolah.
v  Meunyebutkan  akibat perilaku  jika tidak disiplin dilingkungan sekolah
v  Menyebutkan manfaat disiplin disekolah.


Bahasa Indonesia.

v  Menjelaaskan isi tek poster atau iklan tentang kegiatan ekonomi atau peraturan disekolah .
v  Membuat contoh poster atau iklan tentang kegiatan ekonomi atau peraturan disekolah secara mandiri.

Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS )

v  Menyebutkan organisasi-organisasi yang ada sejak jaman penjajahan sampai sekarang.


D. TujuanPembelajaran.

1. Setelah berdiskusidiskusi siswa mampu menjelaskan pengertian disiplin.
2. Setelah berdiskusi,siswa mampu memberikan contoh perilaku disiplin disekolah.
3. Setelah berdiskusi, siswa mampu menunjukkan akibat dari perilaku tidak disiplin disekolah.
4. Setelah berdiskusi mengenai perilaku disiplin siswa mampu menyebutkan 2 manfaat perilaku disiplin.

E. Materi Pembelajaran
PPKn
1.       Pengertian disiplin
2.       Contoh perilaku disiplin disekolah
3.       Akibat tedak disiplin disekolah
4.       Manfaat perilaku disiplin.





Bahasa Indonesia.
1.       Poster.
2.       Iklan.

Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS)
1.       Organisasi-organisasi yang ada disekolah.

Pengembangan Materi Pendidikan Antikorupsi
IntegrasiPendidikanAntikorupsi
Di dalam kehidupan ini, manusia satu dengan lainnya pasti memiliki hak, kewajiban, dan tanggung jawab. Tahukah kalian, apa yang dimaksud dengan hak, kewajiban, dan tanggung jawab itu?


Ikutilah ilustrasi berikut ini :
Wawan, setiap sore selalu bermain bola dengan teman-temannya. Ia bemain bola di tanah lapang dengan teman-temannya sampai pukul 17.00.( kebersamaan, berbagi,disiplin, rajin, kerja keras).  Sepulang dari main bola, ia lalu mandi. Selesai mandi, setelah terdengar adzan Maghrib, ia menjalankan sholat jamaah dengan semua anggota keluarga dengan imam ayahnya. Setelah itu bersama semua anggota keluarga lalu makan bersama. (kebersamaan, kesetaraan, rajin, sportif,).  Mulai pukul 19.00 – 21.00 ia belajar. Ia mempelajari tema Peristiwa dalam kehidupan, sesuai dengan pelajaran yang ada pada esok pagi. Usai belajar dan setelah membenahi semua peralatan sekolah, ia  menuju kamar tidur untuk tidur.( disiplin, sportif. Komitmen, konsekuen, tanggung jawab, kerja keras, mandiri).  Esok paginya, setelah bangun tidur, menunaikan sholat Subuh, setelah sebelumnya membenahi tempat tidurnya agar tetap rapi. Selesai sholat, ia membantu ayah menyapu halaman, agar tetap bersih. Selanjutnya ia pergi mandi. ( tanggung jawab, rajin, sportif, disiplin, kerja keras, mandiri, peduli). Sementara itu ibu menyiapkan makanan untuk sarapan pagi. Setelah sarapan pagi selesai disiapkan ibu,  seluruh anggota keluarga siap di ruang makan untuk bersama-sama sarapan pagi.( tanggung jawab, kebersamaan, konsekuen, disiplin, kerja keras, peduli). Selesai sarapan pagi, Wawan berangkat ke sekolah. Ia berangkat agak pagi, karena hari itu ia bertugas piket. Sesampai di sekolah, Wawan masuk ke ruang kelasnya. Setelah meletakkan tasnya, wawan langsung membersihkan papan tulus, karena papan tulisnya masih penuh dengan tulisan. Jam pelajaran terakhir kemarin petugas piket lupa untuk menghapus papan tulis.  Selanjutnya dengan teman-teman yang bertugas piket, bersama-sama menyapu lantai, membuang sampah yang ada di kotak sampah ( komitmen, ihlas, berbagi, rajin, sportif, tanggung jawab, disiplin, kerja keras, mandiri, peduli). Setelah menyelesaikan tugas piketnya, karena waktu masih pagi, bersama teman-temannya bermain di halaman sekolah. ( kebersamaan, kesetaraan). Setelah tanda masuk berbunyi, semua siswa berbaris rapi di halaman sekolah sesuai dengan kelasnya. Kebetulan hari itu hari Senin, sebelum masuk kelas, selalu diadakan upacara. Sebelum upacara dsi mulai, Kepala Sekolah dan semua guru sudah hadir di lapangan, tidak ada seorang gurupun yang belum hadir. Memang di sekolah Wawan sudah menjadi kebiasaan, bahwa 15 menit sebelum masuk, semua guru sudah berada di sekolah.(kebersamaan, konsekuen, ihlas, rajin, sportif, tanggung jawab, disiplin),

Cobalah cermati ilustrasi di atas. Dari ilustrasi tersebut, carilah mana yang termasih hak, mana yang termasuk kewajiban, dan mana yang termasuk tanggung jawab.
Setelah kalian temukan, cobalah rumuskan apa pengertian hak, kewajiban, dan tanggung jawab.
Diskusikanlah dengan teman-teman kalian dalam satu kelompok:
1.    Apakah yang akan terjadi jika di sekolah atau di lingkungan rumah hak-hak seorang anggota tidakdiberikan sebagaimana mestinya?
2.    Apakah yang akan terjadi jika dalam  lingkungan sekolah atau lingkungan rumah salah satu anggota tidak bersedia menunaikan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya?
3.    Apakah yang akan terjadi jika dalam lingkungan rumah atau lingkungan sekolah salah satu anggotanya tidak menunaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya?

F.Pendekatan Dan Metode
Pendekatan                   : Scientific
Metode             : Ceramah, Tanya jawab, diskusi dan penugasan.
Strategi             : Cooperaqtif Learning ( inkuiri)

G.Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
Alokasi Waktu
Pendahuluan
1.    Untuk mengawali kegiatan pembelajaran siswa diajak berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing
2.    Siswa dipresensi guru dengan menyebutkan namanya
3.    Menanyakan tentang pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya
4.    Siswa diberi apersepsi oleh guru.
Guru bertanya pada siswa, “Anak-anak, apa kewajiban kalian sebagai pelajar?”
Anak mungkin menjawab, “belajar, Bu.” “menuntut ilmu”
Guru bertanya lagi, “misal kalian telah berhasil mendapatkan nilai baik, apa yang kalian dapatkan dari orangtua?”
Anak mungkin menjawab, “hadiah, Bu”
Baiklah hadiah yang kalian dapatkan merupakan hak yang kalian dapatkan setelah kalian memenuhi kewajiban yaitu belajar.
5.    Menginformasikan tema yang akan di pelajari yaitu ”Perilaku disiplin disekolah”

10 menit
Inti
1.    Siswa memperhatikan informasi yang disampaikan guru tentang pengertian disiplin disekolah.
2.    Siswa diminta mengamati beberapa  poster mengenai peraturan/disiplin di lingkungan sekolah
3.    Siswa diminta untuk menguraikan isi dari teks poster tersebut.
4.    Siswa diminta untuk menyebutkan contoh lain yang dapat mereka temukan di luar lingkungan sekolah
5.    Guru membagi siswa dalam kelompok yang terdiri dari 4 – 5 orang
6.    Siswa diberikan penjelasan mengenai langkah-langkah pengerjaannya. Selain itu guru juga memberitahukan sepintas tentang penilaian yang akan dilakukan dalam kerja kelompok, misal kekompakannya, kerjasama, saling menghargai dan lainnya.
7.    Siswa diminta mendiskusikan tentang disiplin disekolah.

8.    Siswa diminta menuliskan perilaku disiplin dilingkungan sekolah.
9.    Siswadimintauntuk mendeskripsikan pengertian disiplin.
10.   Siswa menyampaikan hasil diskusi di depan kelas (perwakilan kelompok).
11.   Siswa diminta untuk membuat poster yang berkaitan dengan peraturan yang ada di lingkungan sekolah      
12.   Perwakilan kelompok menyampaikan hasil kerja kelompok masing-masing.
13.   Kelompok yang tidak menyampaikan hasil kerja kelompok menanggapi hasil dari kelompok penyaji.
14.   Hasil dari kelompok terbaik di pajang di  kelas, sebagai motivasi untuk siswa lain.
15.   Setelah semua kelompok selesai menyampaikan hasil kerja kelompok, guru melakukan konfirmasi.
16.   Bertanya jawab tentang materi yang telah dipelajari. Misal salah satu kelompok mengajukan pertanyaan yang belum dipahami kepada kelas, kemudian guru mempersilakan kepada teman lain yang sudah mengerti untuk menjawab. Jika tidak ada yang berani, guru sebisa mungkin membujuk siswanya agar keberanian untuk menjawab meningkat.
17.   Guru meluruskan pemahaman siswa yang kurang tepat.

150 menit
Penutup
1.    Siswa bersama guru membuat kesimpulan tentang apa yang sudah mereka pelajari hari ini.
2.    Melakukan penilaian hasil belajar.
3.    Siswa diberi penguatan materi yang telah dipelajari dengan menekankan pada hal-hal yang penting.
4.    Siswa diberi motivasi agar rajin belajar
5.    Pembelajaran ditutup dengan berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing

15 menit


H. Sumber dan Media.
·         Buku siswa tematik kelas V tema 3
·         Lingkungan sekolah
·         Gambar
·         Buku lain yang relevan.


I.Penilaian
1.     Prosedur Penilaian
a.      Penilaian proses
Menggunakan format pengama
b.      Penilaian hasil belajar
Menggunakan intrumen penilaian hasil belajar dengan tes tertulis,

2.     Instrument Penilaian
a.    Penilaian proses
*Penilaian Produk,
b.    Penialaian Hasil Belajar
* Esai atau Uraian

Evaluasi!
1. Penilaian Produk
    Buatlah poster yang menggambarkan kegiatan yang berhubungan dengan perilaku disiplin disekolah !
2. Penilaian Hasil Belajar
    Jawablah pertanyaan di bawah ini denganbenar!
1. Apa yang dimaksud dengan disiplin.
2. Sebutkan 2 contoh  perilaku disiplin disekolah !
                                                                                                                                                              Mengetahui,                                                           Cisarua,....................2014                                                         
            Kepala Sekolah,                                                       Guru  Kelas,




NIP                                                                                NIP



LAMPIRAN

Penilaian Produk

No
Nama Siawa
Aspek yang dinilai
Nilai
Ket
Ketetapan dengan tema
kejujuran
Hasil
1






2






3






4






5






6






7






8






9






10






11






12






13






15






dst