MODEL PEMBELAJARAN GOOD NEWS CLASS
MEETING
BAGAIMANA MEN-ERICHMENT/MEMPERKAYA KE
LANGKAH-LANGKAH SCIENTIFIC
( materi ini di ambil dari Diklat di Puncak Bogor Pemateri Bpk Supandi,M Pd)
( materi ini di ambil dari Diklat di Puncak Bogor Pemateri Bpk Supandi,M Pd)
1. Model Good News Class Meeting.
Menurut
Prof. Dr. UdinWiranataputra, 2007, PertemuanKelasMembahasBeritaBaru (Good News Class Meeting),merupakan model
pembelajaranmelaluipertemuankelasgunamembahasmasalah (problem) beritaaktual, menarikuntukdipelajaridanbermaknabagisiswa
yang ada di media
massasepertisuratkabar, televisi, radio atau internet
Tujuan model pembelajaraniniadalahuntukmembangunsiswaakan rasa
ingintahudanpekaterhadapmasalahaktual yang terjadi di lingkungannya.
Langkah-langkahpembelajaran:
1. Memilihberitabaru yang
aktualdanmenarikuntuk di bahasberasaldari media massa, sepertisuratkabar,
berita di televisi, radio dsb. MisalkasusSAMPAH, kerusakanlingkungan,
bencanabanjir, pencemaran air sungai, dsb.
2. Siswadikelompokkan,
danmasing-masingkelompokbebasmembahasdarisudutpandangmasing-masing, misalnya: “
Kerusakanlingkungan “ bisadarisudutpandangmengidentifikasikerusakanlingkungan,
faktorpenyebab, dampakkerusakanterhadapmasyarakat, upayapenanggulangan,
responmasyarakatdalamupayapenanggulangan,
dsbTiapkelompokmempresentasekanhasilmelaluiwakilkelompoknya, sedangkankelompok
lain memperhatikandanmeresponsibiladiperlukan
3. Guru mengamatidanmengklarifikasibilaterjadikesalahan
4. Membuat
kesempakatan rangkuman hasil pembahasan kelas
5. Penutup.
Misal :
KD
3.4 Memahami norma-norma yang berlaku dalam
kehidupan bermasyarakat dan bernegara
4.4 Menyaji hasil pengamatan tentang norma-norma
yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa
1.1 MenghargaiperilakuberimandanbertaqwakepadaTuhan
YME danberakhlakmuliadalamkehidupan di sekolahdanmasyarakat
2.2 Menghargai perilaku sesuai norma-norma dalam
berinteraksi dengan kelompok sebaya dan
masyarakat sekitar
1.Amatidambardanbacalahwacanaberikutinidancatathal-hal
yang pentingdanbermaknabagi kalian. (mengamati)
|
LautanSampah di
PesisirPantaiBuktiPemkabTangerangTakCakap
Model pembelajaran
GOOD NEWS CLASS MEETING
|
REPUBLIKA.CO.ID,
TANGERANG -- Tumpukansampahdisepanjang 51 Kilometer
garispantaiTangerangmenimbulkanreaksidaripengamatlingkungan.PemerintahKabupatenTangerangharusbertanggungjawabmengatasimasalahini.Inibisajadibukti,
ngurus yang sepertiinisajatidakbisa," kata
KepalaDepartemenAdvokasiWahanaLingkunganHidup Indonesia (WALHI) MukriPriyatna,
Rabu (27/2) Mukri.
Kader PKS Kundur
Bersihkan Pantai Lubuk - PKS KARIMUN
|
2.Buatlah/munculkanpertanyaan-pertanyaanterkaitdengangambardanwacana di atas. Sebanyak-banyaknya.(MENANYA)
|
Buatlahkelompokdanjawabanpertanyaan
yang kalian ajukan (MENALAR)
|
3.Kumpulkaninformasi/data yang
dapatmenjawabpertanyaan yang diajukanolehsiswa(mengumpulkaninformasi/data)
|
4.Siswadimintauntukmengasosiasi/mengolahhasilinformasi(menalar)
|
Jateng Time - SampahMenumpuk, Ratusan PNS BrebesBersihkanPantai
MODEL PEMBELAJARAN
Disusun: Drs. Supandi, M.Pd
Naskah ini disajikan pada Diklat Guru PKn Tingkat
Nasional 2008
Di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik
dan Kependidikan PKn dan IPS Malang.
A. Pendahuluan
Pengembangan instruksional adalah terminologi
yang berkembang sejak kurang lebih dua puluh lima tahun yang lalu. Penerapannya
di Indonesia mulai populer dengan penggunaan Prosedur Pengembangan Sistem
Intrsuksional (PPSI) pada permulaan tahun 1970, khususnya dalam mengiringi
munculnya Kurikulum 1975. Dalam perkembangannya, PPSI tidak hanya diikuti di
sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, di lembaga-lembaga Diklat, baik di bawah
departemen maupun swasta telah berkembang pula kegiatan yang serupa. Tenaga
pengajar, pelatih, pengembang kurikulum ditambah tenaga khususyang mereka
miliki memberikan perhatian lebih besar terhadap kegiatan pengembangan
instruksional.
Demikian juga, Kurikulum 2004 yang menjadi
perhatian utama dalam pembelajaran yang berbasis kompetensi adalah bagaimana
perencanaan dan kesiapan pengajar untuk mengelola pembelajarannya agar tercapai
kompetensi yang diinginkan dalam diri siswa, diperlukan model pengembangan
instruksional atau model pembelajaran.
Secara konseptual barangkali kurikulum
berbasis kompetensi dapat diakui sebagai
salah satu sarana bagi persekolahan untuk memberikan dan memperluas wawasan
siswa tentang pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai dasar lainnya dengan
harapan dapat direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Akan tetapi
siswa mempunyai ketergantungan yang sangat kuat tentang bagaimana ia
diperlakukan oleh pengajar (guru). Artinya keberhasilan siswa menguasai
kompetensi berkenaan dengan bagaimana pengajar (guru) mempraktekkan sistem
pembelajaran di sekolah yang berdasarkan kompetensi.
Secara umum model atau tipe pembelajaran
yang berlangsung di sekolah dapat dibagi dua: yaitu pembelajaran berorientasi
guru (teachers oriented) dan
pembelajaran berorientasi siswa (learners
oriented). Kurikulum berbasis kompetensi menggunakan konsep berkenaan
dengan kemampuan dan kehandalan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks
melalui proses pembelajaran agar mampu mencapai suatu standar yang terukur
melalui kinerjanya. Hal ini berarti bahwa selama proses pembelajaran
berlangsung siswa memegang peran utama (learners
oriented) sementara pengajar (guru) menjadi fasilitator, dinamisator
ataupun pengarah serta evaluator.
Di sisi lain Mata Pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada
pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan
kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, terampil, dan
berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.
Menjadi warga negara Indonesia dan warga
dunia yang efektif merupakan tantangan berat karena masyarakat global selalu
mengalami perubahan setiap saat. Untuk itulah, Pengetahuan Sosial dirancang untuk membangun dan
merefleksikan kemampuan (competence)
siswa dalam kehidupan bermasyarakat,
yang selalu berubah dan berkembang secara terus menerus (Kurikulum
2004:5-6).
Pada hakikatnya, PKn sebagai suatu mata
pelajaran yang menjadi wahana dan alat untuk menjawab pertanyaan–pertanyaan
antara lain: Siapa saya? Pada masyarakat apa yang berada?
Persyaratan–persyaratan apa yang diperlukan diri saya untuk menjadi anggota
suatu kelompok masyarakat dan bangsa? Apakah artinya menjadi anggota suatu
kelompok masyarakat bangsa dan dunia? Bagaimanakah kehidupan manusia dan
masyarakat berubah dari waktu ke waktu? (Kurikulum 2004:6)
Pertanyaan–pertanyaan di atas perlu dijawab
oleh setiap siswa dan menjawabnya telah dirancang dalam Pengetahuan Sosial
secara sistematis dan komprehensif. Dengan demikian, Pengetahuan Sosial
diperlukan bagi keberhasilan siswa dalam kehidupan di masyarakat dan proses
menuju kedewasaan.
Johnson dalam Suparno, 2000:22 menyatakan
bahwa pengajaran berdasarkan kompetensi merupakan suatu sistem di mana siswa
baru dianggap menyelesaikan pelajaran apabila ia telah melaksanakan tugas yang
dipelajari, untuk melakukannya.
Johnson memandang kompetensi sebagai
perbuatan (performance) yang rasional
yang secara memuaskan memenuhi tujuan dalam kondisi yang diinginkan. Dikatakan performance yang rasional, karena orang
yang melakukannya harus mempunyai tujuan atau arah dan ia tahu apa dan mengapa
ia berbuat demikian? (Suparno, A. S, 2000:23)
Untuk melakukan suatu kompetensi seseorang
memerlukan pengetahuan khusus, ketrampilan proses, dan sikap. Setiap kompetensi
yang satu berbeda dengan kompetensi yang lain dalam hal jumlah dan
bagian–bagiannya. Ada kompetensi yang lebih tergantung pada pengetahuan (knowledge), ada yang lebih tergantung pada proses (process). Johnson
memberi contoh, untuk menjalankan proyektor
film tidak diperlukan keragaman
pengetahuan, seperti misalnya pada
kompetensi
Dengan demikian disimpulkan semakin
kompleks kompetensi yang diharapkan dikuasai dan dimiliki siswa semakin sulit
dan kompleks pula pencapaiannya. Mungkin sangat tergantung pada pengetahuan,
ketrampilan dan sikap yang dipersyaratkan. Atas dasar itulah diperlukan standar kompetensi agar dapat diamati
dan diukur hasil belajar. Untuk mengukur ketercapaian standar kompetensi
digunakan indikator hasil belajar. Oleh karena itulah standar kompetensi di SD
dan MI telah kelas berbeda, sesuai dengan tingkat perkembangan dan
karakteristik siswa.
Kompetensi merupakan pengetahuan,
keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaaan
berpikir dan bertindak (Depdiknas, 2002). Menurut Burke, 1995 dalam Efendi,
2003 mengemu-kakan ada 3 kriteria kompetensi, yaitu: 1) mampu melaksanakan
keseluruhan tugas–tugas pekerjaan yang sifatnya spesifik; 2) sesuai dengan
standar yang diharapan dalam pembelajaran; 3) dalam lingkungan pekerjaan nyata
yang memberi tekanan dan berkaitan dengan seluruh pekerjaan dan variasi–variasi
pekerjaan yang sebenarnya.
Standar kompetensi mata pelajaran adalah
kompetensi yang harus dikuasai siswa setelah melalui proses pembelajaran
Pengetahuan Sosial (Kurikulum 2004:9). Standar Kompetensi Pengetahuan Sosial,
harus dijabarkan lebih lanjut menjadi Kompetensi Dasar. Kompetensi Dasar adalah
kompetensi yang minimal yang harus dikuasai dan dimiliki siswa setelah
mengikuti proses pembelajaran.
B. Pengertian
Model Pembelajaran
Istilah model pembelajaran dikembangkan
dari strategi instruksional. Menurut Degeng, 2000, ada tiga macam strategi,
yaitu strategi mengorganisasi isi pembelajaran, strategi penyampaian dan
strategi pengelolaan. Model pembelajaran terkait dengan ketiga strategi
tersebut.
Dengan penyusunan model pembelajaran yang tepat,
dapat membantu ketercapaian tujuan atau kompetensi dasar yang ditetapkan. Menurut Joice (1992) dalam
Efendi (2003), mengemukakan model
pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan
sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam
tutorial dan untuk menentukan perangkat–perangkat pembelajaran serta
mengarahkan kita dalam mendesain pembelajaran untuk membantu siswa sedemikain
rupa hingga tujuan atau kompetensi pembelajaran yangtelah ditetapkan dapat
tercapai.
Sedangkan menurut Richey (1986) model
adalah gambaran yang ditimbulkan dari kenyataan yang mempunyai susunan dari
urutan tertentu. Oleh karena itu rancangan pembelajaran yang dipersiapkan oleh
guru juga merupakan model pembelajaran, dimana di dalamnya terdapat urutan
tertentu yang telah dipilih dan ditetapkan mulai dari pendahuluan, kegiatan
inti dan penutup.
Clarence Schauer (1971) menyebutnya model
instruksional atau model pembelajaran sebagai perencanaan secara akal sehat
untuk mengidentifikasi masalah belajar dan mengusahakan pemecahan tersebut
dengan menggunakan suatu rencana terhadap pelaksanaan, evaluasi, uji coba,
umpan balik dan hasilnya. (dalam Suparman, 2001:29).
Hamreus (1971) menyebutkan secara singkat
model instruksional atau model pembelajaran sebagai proses yang sistematis
untuk meningkatkan kualitas kegiatan pembelajaran atau instruksional. Sedangkan
Buhl (1975) menyebutnya sebagai suatu set kegiatan yang bertujuan meningkatkan
kondisi belajar bagi siswa atau mahasiswa (dalam Sumparman, 2001:30).
Twelker, Urbach dan Buck (1972)
mendefinisikan sebagai cara yang sistematis untuk mengidentifikasi,
mengembangkan, dan mengevaluasi satu set bahan dan strategi belajar dengan
maksud mencapai tujuan atau kompetensi tertentu (Suparman, 2001:30)
Sedangkan American Telephone &
Telegraph (ATT) mendefinisikan desain instruksional sebagai resep dalam
menyusun peristiwa dan kegiatan yang diperlukan untuk memberikan petunjuk ke
arah pencapaian tujuan atau kompetensi belajar tertentu.
Bila memperhatikan beberapa pendapat ahli
tersebut di atas, model pembelajaran atau model instruksional merupakan suatu
siklus lengkap kegiatan instruksional yang terdiri dari tahap-tahap, yaitu: tahap pengembangan instruksional – tahap
pelaksanakan kegiatan instruksional dan tahap evaluasi instruksional (
Sumparman, 2001:33)
Lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan
berikut ini.
Umpan balik
Dengan demikian, rencana pembelajaran (instructional design) yang dibuat oleh
guru atau team kerja guru merupakan model pembelajaran, yang tidak lain disusun
dan dikembangkan berasarkan model pengembangan instruksional serta tahap-tahap
tersebut di atas dan berfungsi sebagai pedoman, arah, petunjuk dalam rangka
mencapai tujuan atau kompetensi dasar pembelajaran yang telah ditetapkan.
Ketika Rencana Pembelajaran dilaksanakan
oleh guru, tentu guru juga mengevaluasi kekurangan atau kendala-kendala yang dihadapi guna memperbaiki kegiatan
pembelajaran berikutnya (feedback).
Sebaliknya umpan balik (feedback)
yang ditemukan berupa kendala-kendala dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran,
dapat digunakan sebagai acuan pengembangan atau penataan kembali penyusunan
rencana pembelajaran berikutnya.
C Kedudukan Model Pembelajaran
Reigeluth dan Stein
(1983 dalam Degeng, 1997) mengemukakan bahwa variabel pembelajaran meliputi
kondisi (conditions), metode (methods) dan hasil pembelajaran (outcomes). Berikut ini akan digambarkan
ketiga variabel pembelajaran:
Kondisi adalah faktor yang berbeda yang
mempengaruhi pemilihan metode atau cara-cara pembelajaran yang berbeda
(termasuk pemilihan model pembelajaran) dalam rangka mencapai kompetensi dasar
pembelajaran yang telah ditetapkan. Yang termasuk di dalam kondisi antara lain
meliputi tujuan atau kompetensi pembelajaran, motivasi belajar, minat belajar,
status sosial , keadaan ekonomi orang siswa, tingkat kecerdasan, dan sebgainya
Metode adalah
cara-cara yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda dalam rangka mencapai
kompetensi dasar pembelajaran yang telah ditetapkan. Yang termasuk metode
seperti penggunaan media, penggunaan
metode pembelajaran, penggunaan sumber belajar, penggunaan cara mengajar, dan
sebagainya.
Hasil belajar
adalah efek yang timbul akibat penggunaan metode yang berbeda di bawah kondisi
yang berbeda, antara lain prestasi belajar, nilai tes, hasil pengamatan
terhadap perilaku, dan sebagainya.
Sedangkan
menurut Brigss, pengembangan model pembelajaran berawal dari pemikiran pokok
terhadap pertanyaan yaitu ”mau kemana”?,
” dengan apa ” dan ” bila mana sampai ”. Pertanyaan ”mau kemana” terkait
dengan tujuan atau kompetensi pembelajaran. Pertanyaan ” dengan apa” terkait
dengan materi, media dan kegiatan yang akan dilakukan dalam pembelajaran,
serta pertanyaan ” bila mana sampai”
terkait dengan penilaian.
Kedudukan model
pembelajaran berada dalam konteks penataan cara-cara /metode yang tepat dalam pembelajaran
(Reigeluth dan Stein dalam Degeng, 1997) serta bagaimana sudah memikirkan alat
ukur yang digunakan untuk mengetahui ”bilama mana sampai” (Briggs dalam
Suparman, 2001) terkait dengan tujuan atau kompetensi dasar yang telah
ditetapkan.
Konteks variabel
metode/cara-cara terkait dengan strategi mengorganisasi materi, pemilihan
media, evaluasi, kondisi pembelajaran atau aktivitas belajar yang dilakukan
oleh siswa, baik di kelas, di luar kelas bahkan di luar sekolah. Penataan
urutan yang sistematis (setting)
tersebut dituangkan dalam bentuk rencana pembelajaran (instructional design).
Dengan demikian
kedudukan model pembelajaran sangat penting dalam kegiatan pembelajaran, yang
selalu memperhatikan ketiga variabel kondisi, metode dan hasil pembelajaran.
Model inilah yang akan dijadikan pedoman dan acuan bagi guru dan siswa dalam
melaksanakan kegiatan pembelajaran.
observasi, tes.
E. Macam-Macam Model
Pembelajaran.
1. Model Jigsaw
Model
pembelajaran kooperatif teknik JIGSAW
(Model Tim Ahli) dikemukakan oleh Aronson, Blanney, dan Stephen, Sikes dan
Snapp, tahun 1978
1) Pengertian
Pembelajaran
kooperatif teknik Jigsaw adalah suatu pembelajaran kooperatif dimana dalam
proses pembelajaran setiap siswa dalam kelompok disilang dan memperoleh tugas
yang berbeda. Anggota kelompok yang memperoleh tugas sama dikumpulkan jadi satu
dan membahas tugas tersebut (kelompok
kooperatif). Tiap anggota setelah selesai mengerjakan harus kembali ke
kelompok semula untuk menyampaikan hasil pembahasan (ahli informasi), sehingga kelompok pembahas kembali ke kelompok
semula dengan membawa berbagai permasalah yang berbeda untuk disampaikan kepada
teman sejawat dalam kelompok.
2) Langkah–langkah Pembelajaran
(1). Siswa dibagi
dalam kelompok kecil, @ 3 – 5 orang siswa.
(2). Setiap anggota
kelompok diberi tugas yang berbeda.
(3). Tiap siswa
dalam kelompok membaca bagian tugas yang diperolehnya.
(4). Guru
memerintahkan siswa yang mendapat tugas yang sama berkumpul membentuk kelompok
baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan tugas tersebut.
(5). Setiap siswa
kelompok-kelompok baru mencatat hasil diskusinya untuk di laporkan pada kelompk
semua (kelompok lama).
(6). Selesai diskusi
sebagai tim ahli, masing-masing kembali ke kelompok asal (semula) untuk
menyampaikan hasil diskusi ke anggota kelompok asal dan secara bergilir atau bergantian dari tim ahli
yang berbeda tugasnya.
(7). Setelah seluruh
siswa selesai melaporkan, guru menunjukkan salah satu kelompok untuk
menyampaikan hasilnya, dan siswa lain diberi kesempatan untuk menanggapinya.
(8) Guru dapat
mengklarifikasi permasalahan serta disimpulkan
2. Model Numbered Heads Together
(Kepala Bernomor)
Spencer
Kagan, tahun 1992 mengembangkan pembelajaran kooperatif tteknik Number
Head Together (NHT) atau kepala bernomor. Artinya setiap siswa dalam
berkelompok diberi kartu nomor
Langkah-langkah Pembelajaran:
1) Siswa dibagi
dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor kepala.
2) Guru memberikan
tugas, diupayakan setiap kelompok mendapat tugas yang berbeda, dan
masing-masing kelompok mengerjakannya.
3) Kelompok
mendiskusikan jawaban, tiap anggota kelompok mencatat hasil diskusi.
4) Setiap anggota
kelompok memiliki tanggung jawab dan kesempatan yang sama untuk melaporkan
hasil diskusinya.
5) Guru memanggil
salah satu nomor siswa dalam kelompok untuk melaporkan hasil diskusinya di
depan kelas.
6) Kemudian
kelompok lain dapat memberikan masuikan/meresponsi dari hasil diskusinya (menyempurnakan);.
7) Guru
selanjutnya dapat mengulangi beberapa kali dari kelompok yang berbeda.
8) Guru mengklarifikasi apabila timbul
permasalahan dan menarik kesimpulan.
3. Model
Pembelajaran Think Pair And Share
Frank
Lyman, tahun 1985 telah mengembangkan
pembelajaran kooperatif teknik Think Paire and Sharre (berpikir
berpasang-pasangan dan curah pendapat).
1) Pengertian
Model pembelajaran
kooperatif dimana siswa dalam satu kelas dibagi dalam kelompok kecil (4-6
orang) atau lebih saling berpasangan untuk tukar pendapat serta saling membantu
satu sama lain dalam rangka mencapai kompetensi yang ditetapkan.
Kurikulum
2004 menitikberatkan pada pencapaian kompetensi dasar yang harus dimiliki dan dikuasai siswa.
Kompetensi tersebut dapat diukur dan diamati berdasarkan indikator
pembelajaran. Indikator pembelajaran akan dicapai dan dikuasai melalui
pengalaman pembelajaran. Pengalaman pembelajaran berdasarkan tuntutan kurikulum
2004 lebih menekankan pada aktivitas siswa yang konkret dalam proses belajar,
karena itu guru harus pandai menciptakan kondisi belajar seoptimal mungkin.
Peran guru hanya sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu
model pembelajaran demikian itu memerlukan strategi pembelajaran (instruction strategic) yang tepat. Salah satu
strategi yang dipandang mendekati harapan tersebut adalah pembelajaran
kooperatif. Banyak ragam pembelajaran kooperatif, diantaranya adalah
tehnik Think Pair- Share.
Slavin (dalam Arends, 1997) hasil penelitian sebanyak
45 kali terhadap pembelajaran kooperatif menunjukkan bahwa hasil belajar akademik lebih tinggi,
dibanding kelas kontrol.
Johnson & Johnson (dalam Lie, 2000) mengemukakan bahwa suasana
belajar kooperatif menghasilkan prestasi belajar lebih tinggi, hubungan positif
dan penyesuaian psikologis dan suasana belajar yg penuh persaingan
Selanjutnya Johnson dan Johnson (1996), juga menekankan bahwa
cooperative learning (CL) sebagai pembelajaran dalam
kelompok-kelompok kecil di mana siswa belajar dan bekerjasama untuk mencapai
tujuan seoptimal mungkin. Esensinya terletak pada tanggung-jawab individu
sekaligus kelompok, sehingga dalam diri setiap siswa tumbuh dan berkembang
sikap-laku saling ketergantungan (interdependensi)
secara positip. Dengan demikian
menjadikan belajar melalui kerjasama dalam kelompok akan berjalan
seoptimal mungkin. Kondisi ini dapat
mendorong siswa untuk belajar, bekerja dan bertanggung-jawab secara
sungguh-sungguh sampai tujuan dapat diwujudkan.
2). Tujuan
¨ Meningkatkan
hasil belajar akademik
¨ Meningkatkan
kesadaran untuk menerima terhadap keragaman
¨ Mampu
meningkatkan dan mengembangkan ketrampilan sosial
3) Manfaat
Pembelajaran
dengan cooperative learning akan
memberikan manfaat bagi siswa dalam:
·
Meningkatkan kemampuannya untuk bekerjasama dan berso–sialisasi
·
Melatih kepekaan diri, empati melalui variasi perbedaan sikap-laku selama
bekerjasama
·
Upaya mengurangi rasa kecemasan dan menumbuhkan rasa percaya diri
·
Meningkatkan iklim belajar siswa yang lebih aktif dan membangun masyarakat
belajar yang saling ketergantungan dan bekerjasama.
·
Meningkatkan motivasi belajar (partisipasi dan minat), harga diri dan
sikap-laku yang positip
·
Memupuk rasa tanggung jawab baik individu maupun
kelompok.
4. Langkah-Langkah Pembelajaran:
1) Guru menyampaikan
pokok materi dan kompetensi yang ingin dicapai.(konfirmasi)
2) Siswa diminta
membentuk kelompok pasngan kecil @ 2 orang (usahakan genap, karena akan
dipasang-pasangkan)
3) Siswa diminta untuk berpikir dan memecahkan
permasalahan yang disampaikan guru terkait dengan pokok materi.(eksplorasi)
4) Siswa diminta untuk berpasang-pasangan saling
mengemukakan hasil pemikiannya terhadap permasalahan yang diberikan oleh guru..(elaborasi)
5) Kemudian setelah selesai memecahkan masalahan
secara pasangan, selanjutnya disiswa diminta memilih pasangan hingga terbentuk
kelompok kecil @ 4 orang
6( Tiap anggota kelompok kecil diminta untuk
saling berbagi pendapat atau curah pendapat hasil pemecahan masalah secara
pasangan. (elaborasi)
6) Guru memimpin pleno diskusi dan tiap kelompok
diberi kesempatan untuk mengemukakan hasil diskusinya. (konfirmasi)
7) Berawal dari kegiatan tersebut mengarah pada
pembicaraan pokok permasalahan dan guru dapat menambah materi yang belum
diungkap para siswa.(konfirmasi)
8) Guru memberi
kesimpulan.
4. Model Pembelajaran Student Teams Achievment
Divisions (STAD)
1)
Pengertian
Model pembelajaran Student Teams Achivement Devissions (STAD)
atau tim Siswa Kelompok Berprestasi dikembangkan oleh Slavin tahun 1994. Di dalam kelompok belajar, pasti ada murid
pandai dan kurang pandai atau siswa berprestasi dan kurang berprestai.
Menyadari kondisi seperti Slavin mengembangkan model pembelajaran, di mana
tiap-tiap kelompok tim belajar terdapat siswa yang memiliki prestasi lebih
dibanding dengn teman sejawatnya.
Di dalam proses
pembelajaran, bagi siswa yang sudah menguasai atau memahami bahan/materi pembelajaran yang sedang di bahas dalam
kelompok, diharapkan mampu membelajarkan kepada teman sejawat dalam satu tim, sehingga timbul proses interaksi di
antara siswa..
Pembelajaran
kooperatif teknik STAD adalah model pembelajaran kooperatif, dimana proses
pembelajaran siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok kecil (4 - 6 )
berdasarkan kelompok siswa berprestasi. Dalam berkelompok diantara temannya
saling bertukar pendapat, sehingga siswa yang merasa kurang, akan bisa belajar
melalui teman sebaya dalam kelompok tersebut.
2) Langkah-Langkah Pembelajaran
(1) Membentuk kelompok @ 3 – 5 orang siswa secara heterogen (menurut
prestasi, jenis kelamin, suku, dsb).
(2) Guru menyajikan/menyampaikan materi pembelajaran.
(3) Guru memberi tugas kepada kelompok untuk
dikerjakan. Anggota kelompok yang sudah menguasai diminta menjelaskan pada
anggota kelompoknya sampai anggota dalam kelompok itu mengerti atau memahami.
(4) Guru memberi kuis/pertanyaan kepada
seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis teman kelompok tidak boleh membantu.
(5) Guru memberi evaluasi.
Langkah-langkah
Pembelajaran:
1). Guru
membagi siswa untuk berpasang-pasangan.
2). Guru
membagikan wacana/materi kepada setiap pasangan untuk dibaca dan membuat
ikhtisar (ringkasan).
3). Guru
dan siswa menetapkan pasangan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan
siapa yang berperan sebagai pendengar.
4). Pembicara
membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide dalam
ringkasannya.
Sementara
pendengar (anggota pasangannya):
= Memperhatikan,
mengoreksi, menunjukkan ide-ide yang kurang lengkap.
=Membantu mengingat, menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lain.
5). Bertukar
peran, semula sebagai pembicara, sebaliknya pendengar sebagai pembicara dan
dilakukan seperti di atas.
6). Guru
menyimpulkan pokok-pokok hasil
pembahasan
7). Penutup.
7. Make A Match (Mencari Pasangan)
Dalam
rangka membina ketrampilan menemukan informasi dan kerjasama dengan orang lain serta membina
tanggung jawab untuk memecahkan masalah yang dihadapi melalui kartu
permasalahan, maka Lorna
Curran, tahun 1994 mengembangkan model
pembelajaran kooperatif teknik “ make a match “ atau mencari pasangan.
Langkah-langkah
Pembelajaran:
1). Guru
menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok
untuk sesi review. sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu
jawaban.
2). Setiap
siswa mendapat satu buah kartu.
3). Tiap
siswa memikirkan jawaban soal dari kartu yang dipegang.
4). Setiap
siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartu jawabannya.
5). Setiap
siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi point. Hadiah.
6). Setelah
satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari
sebelumnya.
7). Demikian
seterusnya.
8). Guru
menyimpulkan secara keseluruhan dari isi materi pembelajaran melalui
kartu-kartu tersebut.
9). Penutup.
9. Model Pembelajaran Kooperatif Tehnik Think Paire Share And Talking Chip
Model pembelajaran berpikir
berpasangan dan curah pendapat melalui kartu bicara bertujuan untuk membina
ketrampilan berpikir dan bekerjasama dalam memecahkan permasalahan yang
dihadapinya melalui kartu-kartu bicara.
Langkah-langkah pembelajaran:
1) Guru membagi siswa dlm kelompok kecil (4 org)
2) Setiap kelompok mendapatkan tugas dan
mengerjakan tugas tsb.
3) Setiap siswa mengamati/mengkaji tentang tugas
tersebut
4) Siswa
berpasangan dgn rekan kelompoknya mengecek pemahaman berdasarkan hasil
pengamatan/kajian
Contoh Kartu
bicara/permasalahan.(disiapkan guru dan dikerjakan siswa)
![]() Kartu Bicara disiusun dan harus relevan dengan materi yang dibahas dalam
mata pelajaran.
10. Model Pembelajaran Pencapaian Konsep.
Model
pembelajaran pencapaian konsep (concept attaiment) difungsikan untuk
menemukan konsep dan perumusan pengertian tentang suatu konsep.
1) Pengertian
Model
pembelajaran pencapaian konsep adalah cara pembelajaran dimana siswa dalam
pembelajaran mampu menemukan suatu
konsep (concept attaiment) atau mengembangkan konsep (concept
development) sehingga pada kegiatan proses selanjutnya hingga akhir suatu
pelajaran seorang siswa akan mampu berpikir kritis dalam menyikapi fenomena
disekitarnya.
Berdasarkan naskah kerjasama antara UNICEF
melalui Global Dialogue Institute
dengan Direktorat Pendidikan Dasar Depdiknas, (2000) dan Bahan Penataran
Instruktur tentang Pendekatan dan Metode Pembelajaran, (M. Rianto, 1999/2000)
disebutkan bahwa dalam mengimplementasikan pembelajaran pencapaian konsep (concept attainment/CA) dimaksudkan agar
siswa terlatih dalam membangun sekaligus mengembangkan konsep sendiri dalam
kerangka berpikirnya berdasarkan realita yang di alami dan atau ciri-ciri suatu
peristiwa.
Kurikulum
2004 menitik beratkan pada pencapaian kompetensi dasar yang harus dimiliki dan
dikuasai siswa. Kompetensi tersebut dapat diukur dan diamati berdasarkan
indikator pembelajaran. Indikator pembelajaran akan dicapai dan dikuasai
melalui pengalaman pembelajaran. Pengalaman pembelajaran berdasarkan tuntutan
kurikulum 2004 lebih menekankan pada aktivitas siswa yang konkret dalam proses
belajar, karena itu guru harus pandai menciptakan kondisi belajar seoptimal
mungkin. Peran guru hanya sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Oleh
karena itu model pembelajaran demikian itu memerlukan strategi pembelajaran (instructional strategic) yang tepat.
Banyak
bahan ajar yang berupa konsep-konsep, namun tidak semua siswa memahami
konsep-konsep tersebut. Oleh karena itu pembelajaran konsep merupakan strategi
pembelajaran yang tepat untuk membelajarkan dimana bahan kajian berupa
konsep-konsep. Artinya melalui pembelajaran konsep siswa menemukan sendiri
konsep yang dimaksud sesuai topik materi pembelajaran.
Dengan demikian model pembelajaran pencapaian konsep, digunakan manakala kita menduga secara konseptual siswa belum memahaminya.2). Tujuan pembelajaran Pencapaian konsep.
Tujuan
pembelajaran Pencapaian konsep, tentu hasil belajar yang diharapkan adalah
pemahaman suatu konsep, Disamping itu dalam rangka pengembangan konsep–konsep
lain.
3). Keuntungan Pembelajaran Konsep
Keuntungan
yang diperoleh dari model pembelajaran pencapaian konsep antara lain:
¨ Pembelajaran
menjadi aktif, dimana siswa secara cermat mengidentifikasi ciri–ciri khusus
sebagai paramteri dari konsep
¨ Membangun
ketrampilan sosial dalam mengembangkan konsep
¨ Membina
berpikir kritis, melalui tukar pendapat antar teman belajar (sharring) dengan teman
¨ Tanggung
jawab individual dan kelompok
4) Langkah-langkah
pembelajaran pencapaian konsep:
(1) Guru memajang gambar-gambar yang memiliki
cirri-ciri yang mendukung konsep dan tidak mendukung konsep yang akan
dipelajari siswa..
(2). Siswa diminta untuk mengamati gambar dan
kemudian menyebutkan atau mengemukakan kata yang ditemukannya dari hasil
pengamatan
(3) Siswa diminta untuk menggali kata-kata atau
cirri-ciri dari gambar yang mendukung
konsep diberi kode “ ya “ , sedangkan yang tidak mendukung cirri-ciri
konsep diberi kode “tidak “.
(4) Siswa diminta untuk mengelompokkn
kata-kata atau cirri-ciri yang memiliki
kode “ ya ”.
(5) Selanjutkan siswa diminta merangkai
kata-kata dari cirri-ciri yang diberi kode “ ya “ dalam suatu kalimat
menjadi sebuah pengertian, atau definisi.
(6) Penutup.
11. Model
Pembelajaran Kontektual (Contextual
Teaching and Learning)
1) Pengertian CTL
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning – CTL )
sebagai model pembelajaran untuk membangun pengetahuan dan ketrampilan berpikir
melalui bagaimana belajar dikaitkan dengan situasi nyata di lingkungan sekitar siswa, sehingga
hasilnya lebih bermakna. Pengembangan
model pembelajaran ini mengakomodasi motto belajar (CTL Academy Fellow, 1999)
bahwa cara belajar terbaik apabila siswa mengkonstruksikan sendiri secara aktif
pemahamannya.
Pembelajaran CTL adalah konsep
belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan
situasi dunia nyata siswa dan mendorong mereka untuk membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupannya sehari-hari,
(Direktorat PLP Ditjen Dikdasmen Depdiknas, 2003). Pembelajaran yang dikembangkan menggunakan
pendekatan substansi (content) pelajaran
dikontekskan pada situasi kehidupan di sekitar siswa ini dengan pertimbangan
akan memperlancar proses belajar mereka sekaligus memahami dan menyadari bahwa
pengetahuan yang didapatkan di sekolah sesuai dengan apa yang dibutuhkan,
sehingga akan memberikan manfaat bagi kehidupannya. Hal ini akan menjadikan
pendorong mereka untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam
kapasitasnya sebagai anggota keluarga dan warga masyarakat.
Pembelajaran kontekstual ini disamakan dengan
pembelajaran berdasarkan pengalaman (experiencial
learning), pendidikan dunia nyata (real
worlf education), pembelajaran aktif (active
learning), pembelajaran berpusat pada siswa (learner centered instruction), dan pembelajaran dalam konteks (learning in context).
2) Tujuan CTL
Pembelajaran
kontekstual dirancang dengan tujuan untuk meningkatkan minat dan prestasi
belajar, di samping membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel
dapat diterapkan/ditransfer antar permasalahan dan antar konteks.
3) Komponen CTL
Ada tujuh komponen utama
pembelajaran yang melandasi penerapan pembelajaran kontekstual, yaitu (1)
konstruktivistik, (2) bertanya, (3) menemukan, (4) masyarakat belajar, (5)
permodelan, (6) refleksi, (7) penilaian yang sebenarnya.(Nurhadi, dkk: 2003:33)
3) Prinsip Pembelajaran CTL
Untuk
melaksanakan pembelajaran kontekstual menurut Zahorik (1995) ada lima elemen yang perlu
diperhatikan, yaitu:
·
Pengaktifan
pengetahuan yang sudah ada (activating
knowledge)
·
Pemerolehan
pengetahuan baru (aquiring knowledge)
dengan mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan detailnya
·
Pemahaman
pengetahuan (understanding knowledge)
dengan
·
cara menyusun konsep
sementara (hipotesis), melakukan sharing
kepada orang lain agar mendapat tanggapan (validasi),
dan atas dasar tanggapan suatu konsep direvisi dan dikembangkan
·
Mempraktekkan
pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying
knowledge)
·
Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi
pengembangan pengetahuan tersebut.
4) Karakateristik CTL
Karakteristik
pembelajaran berbasis CTL menurut Blanchard (2001), meliputi:
·
Menekankan pada pentingnya pemecahan masalah (problem solving)
·
Kegiatan pembelajaran perlu dilakukan dalam berbagai konteks, seperti
rumah, masyarakat dan tempat kerja
·
Selama pembelajaran perlu memantau dan mengarahkan siswa agar dapat belajar mandiri
·
Pembelajaran perlu ditekankan pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda
·
Mendorong siswa untuk dapat belajar dari temannya dan belajar bersama dalam
kelompok
·
Menggunakan
penilaian autentik yang mencakup proses maupun hasil.
Kata kunci pembelajaran berbasis CTL, meliputi:
kerjasama, saling menunjang, menyenangkan/tidak membosankan, belajar dengan
bergairah, pembelajaran terintegrasi antar disiplin, menggunakan berbagai
sumber, siswa aktif, sharing dengan
teman, siswa kritis dan guru kreatif, dinding kelas dan lorong-lorong penuh
dengan hasil karya siswa (seperti: peta-peta, gambar, artikel, humor, dan
sebagainya), dan laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya
siswa (seperti: laporan hasil praktikum, karangan, dan sebagainya).
5). Langkah-langkah Pembelajaran CTL
Gambaran sederhana penerapan ketujuh kompoen pembelajaran
kontekstual dalam kelas adalah sebagai berikut:
a) Kembangkan
pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja,
menemukan, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
Filosofi konstruktivisme ini yang melandasi CTL, yaitu pengetahuan dibangun
oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang
terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Selama pembelajaran siswa
dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi
dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua
pengetahuan kepada siswa. Untuk itu mereka sendiri yang harus mengkontruksikan
pengetahuan dibenaknya, menemukan dan mentransformasikan suatu informasi ke
situasi lain. Dalam pembelajaran menurut pandangan konstruktivis bahwa strategi
memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan
mengingat pengetahuan. Selama pembelajaran guru tugasnya menjadikan pengetahuan
bermakna dan relevan bagi siswa, memberi kesempatan siswa menemukan dan
menerapkan idenya sendiri, dan menyadarkan siswa agar menerapkan strategi
mereka sendiri dalam belajar.
b) Laksanakan
sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik. Pengetahuan dan ketrampilan
yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi
hasil dari menemukan sendiri. Apapun bahan ajar yang disajikan, guru hendaknya
menciptakan kegiatan yang memungkinkan siswa dapat menemukan melalui siklus
kegiatan, yaitu merumuskan masalah, observasi (observation), bertanya (questioning),
mengajukan dugaan (hiphotesis),
pengumpulan data (data gathering),
dan penyimpulan (conclusion).
c) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. Pengetahuan
yang dimiliki seseorang selalu berawal dari bertanya. Dalam pembelajaran
kegiatan bertanya yang produktif amat berguna untuk menggali informasi,
mengecek pemahaman siswa, membangkitkan respon siswa, mengetahui sejauhmana
sifat keingintahuan siswa, mengetahui
hal-hal yang sudah diketahui oleh siswa, memfokuskan perhatian siswa,
membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, dan menyegarkan kembali
pengetahuan siswa.
d) Ciptakan masyarakat belajar (learning
community) atau belajar dalam kelompok-kelompok. Melalui masyarakat
belajar, maka hasil belajar diperoleh melalui cara kerjasama, sharing antar teman baik di dalam kelas
maupun di luar kelas.
e) Hadirkan model, pemodelan (modeling)
sebagai contoh pembelajaran, sehingga siswa dapat meniru sebelum melakukan atau
bertanya segala hal yang ingin diketahui dari model dan guru bukanlah
satu-satunya model.
f) Lakukan refleksi di akhir pertemuan. Hal ini merupakan cara
berpikir tentang apa yang baru dipelajari, karena siswa akan mengendapkan
pengetahuan ke dalam kerangka berpikirnya untuk kepentingan jangka panjang (long term memory) sebagai pengayaan
atau revisi atas pengetahuan sebelumnya.
g) Lakukan
penilaian yang sebenarnya (authentic
assessment) dengan berbagai cara untuk memberikan gambaran tentang
perkembangan belajar siswa. Hasil penilaian ini yang lebih penting untuk
membantu agar siswa mampu belajar (learning
how to learn), bukannya diperolehnya sebanyak mungkin informasi. Adapun
karakteristik penilaian autentik, meliputi: dilaksanakan selama dan sesudah
proses pembelajaran; bisa digunakan untuk tes formatif dan sumatif; yang diukur
ketrampilan dan performansi, bukannya mengingat fakta; berkesinambungan, dan
dapat digunakan sebagai feed back.
Sedangkan hal-hal yang dnilai, antara lain: proyek/kegiatan dan laporannya, PR,
kuis, presentasi/penampilan, demonstrasi, laporan, jurnal, hasil tes tertulis,
karya tulis, dan sebagainya.
F. Kriteria
Pemilihan Model Pembelajaran.
Untuk memilih suatu model pembelajaran yang dirancang oleh guru diperlukan kriteria-kriteria tertentu. Reigeluth
dan Merril, 1978; 1979; Reigeluth, 1979a; 1983, mengklasifikasi variabel yang
saling terkait dan saling mempengaruhi menjadi tiga, yaitu kondisi
pembelajaran, metode pembelajaran dan hasil
pembelajaran (dalam Degeng 1997)
1. Kondisi Pembelajaran,
Kondisi pembelajaran adalah faktor
yang mempengaruhi efekt metode dalam meningkatkan hasil pembelajaran. Ia
berinterkasi dengan metode pembelajaran, dan hakekatnya tidak dapat
dimanipulasi. Model pembelajaran yang dipilih dan disusun guru yang kemudian
dituangkan dalam Rancangan Pembelajaran (RP), harus selalu memperhatikan dan
mempertimbangkan kriteria kondisi pembelajaran.
Reigeluth dan Merril 1979
mengelompokkan variabel kondisi pembelajaran menjadi tiga kelompok, yaitu
(1) Tujuan atau kompetensi
pembelajaran serta karakteristik bidang studi/ mata pelajaran, sangat erat
kaitannya dengan strategi pengorganisasian isi/materi pembelajaran.
(2) Kendala atau kterbatasan
sumber, waktu, media dan personalia sangat erat kaitanyya dengan pemilihan
strategi penyampaian
(3) Karakteristik si belajar atau
aspek/kualitas perseorangan si belajar seperti bakat, motivasi, dan hasil
belajar yang telah dimiliki sebelumnya.. Hal ini sangat erat kaitannya dengan
pemilihan strategi pengelolaan pembelaajran.
2. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran adalah cara-cara
yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi
yang berbeda. Pada dasarnya semua cara dapat dimanipulasi oleh perancang
pembelajaran. Bila dalam suatu situasi, metode pembelajaran tidak dapat dimanipulasi,
maka ia berubah menjadi kondisi, sebaliknya bila suatu kondisi dapat
dimanipulasi, ia menjadi metode.
Apapun model pembelajaran yang akan
dipilih, harus selalu memperhatikan cara-cara yang akan digunakan dalam
pembelajaran. Cara-cara yang digunakan pada Kelas A akan berbeda dengan Kelas B
atau C. Hal ini disebabkan karena kondisi yang berbeda.
Degeng, 1997 mengelompokkan variabel metode pembelajaran menjadi tiga
jenis, yaitu:
(1) Strategi pengorganisasian
pembelajaran (organizational strategy)
(2) Strategi penyampaian
pembelajaran (delivery strategy)
(3) Strategi pengelolaan
pembelajaran (management strategy)
3. Hasil Pembelajaran
Hasil pembelajaran adalah semua efek
yang timbul yang dapat dijadikan
indikator terhadap penguasaan dan penampilan perilaku si-belajar dari suatu
tujuan atau kompetensi yang telah ditetapkan. Karena itu hasil pembelajaran
dapat berupa hasil nyata (actual outcomes)
dan hasil yang diinginkan (disired
outcomes)
Actaul outcomes dapat berupa prestasi belajar dalam bentuk nilai hasil
tes atau ujian hasil dari pengukuran. Sedangkan disired outcomes berupa
harapan-harapan yang di kelak kemudian dapat ditampilkan si – belajar dalam
perilaku sehari-hari.
Juga oleh Degeng, 1997, bahwa variabel hasil pembelajaran dapat dikelompokkan
menjadi tiga, yaitu
(1) Keefektifan (effectiveness)
Biasanya diukur dengan tingkat
pencapaian si-belajar. Ada empat aspek yang dapat dijadikan indikator
keefektifan pembelajaran, yaitu:
(a) kecermatan penguasaan perilaku yang dipelajari,
(b) kecepatan unjuk kerja (ketrampilan yang ditunjukkan)
(c) tingkat alih belajar (transfer) pengetahuan yang dipelajari
(d) tingkat retensi (daya tahan
ingatan) dari apa yang dipelajari
(2) Efisiensi pembelajaran.
Biasanya diukur dengan rasio
antara keefektifan dan jumlah waktu yang dipakai si belajar dan/atau jumlah
biaya pembelajaran yang digunakan.
(3) Daya tarik.
Biasanya diukur dengan
mengamati kecenderungan siswa untuk tetap/terus belajar.
Secara tegas dan jelas, hasil belajar dapat dilihat pada Standar Kompetensi
Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial Sekolah Dasar. Melalui indikator-indikator
yang dituntut untuk ditampilkan oleh si-belajar, berarti kompetensi dasar telah dicapai.
F. Contoh Penerapan
Model Pembelajaran dalam Rancangan Pembelajaran
1. Teknik Pencapaian Konsep (Concept Attaiment)
Model Rancangan
pembelajaran (RP) pencapaian konsep ini, disusun berdasarkan langkah-langkah
pembelajaran pencapaian konsep. Dasar pemikiran yang melatar belakangi
penyusunan model ini adalah guru dalam mengaplikasikan Kurikulum berbasis
kompetensi selalu berpedoman pada Rancangan Pembelajaran (RP). Oleh karena itu
sebelum pembelajaran di mulai, guru harus mendesain atau merancang pembelajaran
yang akan diciptakan di dalam kelas, di luar kelas, bahkan di luar sekolah.
RENCANAPEMBELAJARAN
Nomor 1 I. Identitas matapelajaran1. Matapelajaran : Pengetahuan Sosial2. Materi Pokok : Penduduk & Sistem Pemerintahan3. Topik Bahasan : Konsep Penduduk Di Indonesia4. Kelas/Semester : V/I5. Pertemuan Minggu Ke : 36. Waktu : 2 X 40 menitII Standar Kompetensi:
Kemampuan memahami wawasan nusantara, keadaan penduduk dan pemerintahan serta kerja
keras para tokoh kemerdekaan.
III. Kompetensi dasarKemampuan Memahami Keadaan Penduduk & Pemerintahan Di IndonesiaIV. Indikator¨ Menjelaskan pengertian, perkembangan jumlah, penggolongan, persebaran dan kepadatan penduduk.
¨ Mengintepretasikan berbagai grafik penduduk
¨ Menjelaskan permasalahan penduduk di
Indoensia
V langkah-langkah pembelajaran§ Konsep Penduduk dan pengembangannyaA. PENDAHULUAN1 Menyajikan lagu “Satu Nusa Satu Bangsa”2 Menyampaikan topik pembahasan hari ini
3. Coba amati gambar yang ada pada lembar informasi di bawah ini Catat dan pikirkan hal-hal penting terkait
dengan tugas-tugas berikutnya.
B. KEGIATAN INTI.1. Tanya jawab tentang lagu Nusa Satu Bangsa untuk diidentifikasi ciri konsep penduduk sebagai parameter (ya)2. Tanya jawab tentang asal-usul, suku bangsa untuk mendata ciri /parameter konsep penduduk (ya).4. Tanya jawab tentang lagu tersebut untuk mendata ciri-ciri dari konsep yang bukan termasuk konsep penduduk sebagai parameternya (tidak).5. Meminta siswa untuk membedakan antara ciri-ciri konsep penduduk ( ya) dan bukan (tidak) cirri-ciri konsep penduduk.6. Meminta siswa untuk menyusun ciri-ciri dari konsep penduduk sebagai parameter menjadi suatu kalimat (DEFINISI)7. Kembangkan konsep teersebut dengan sub konsep lain, seperti penduduk menurut penggolongan menurut jenis kelamin, tempat tinggal, usia, persebaran penduduk, perpindahan penduduk dsb.5. Memberi penguatan dan mengklarifikasi (pembenaran) agar tidak terjadi salah konsep.C. PENUTUP1. Menyimpulkan dan mengadakan evaluasi.2. PR. Secara kelompok (4 orang) untuk mendapat keberadaan penduduk menurut ia, jumlah, usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan.3. Salam penutupVI. Sarana/Alat Dan Sumber Pembelajaran1. Lembar Informasi2. Lembar Tugas3. Lembar Pengamatan
4. Peta Indonesia
VII. Penilaian & Tindak Lanjut1. Penilaian Kognitif melalui tes lisan dan tugas.2. Penilaian Afektif melalui pengamatan3. Penilaian Tugas
Mengetahui …………………………….
Kepala SD….. Guru
PS/KN Kelas V
……………………….. ………………………….
NIP. NIP
Lampiran:
LEMBAR INFORMASI1. Amatilah gambar kelompok orang–orang dan gambar burung dibawah ini. Kemudian identifikasi ciri–ciri khusus dari masing-masing gambar tersebut.
TUGAS KELOMPOKBerdasarkan lembar informasi di atas, maka bahas/kajilah beberapa permasalahan berikut ini:
1. Tentukan ciri-ciri masing-masing gambar dengan menggunakan format
berikut ini:
2. Identifikasi ciri-ciri khusus yang mendukung pada konsep penduduk,3. Ciri-ciri tersebut kemudian rangkaikan dalam bentuk kalimat menjadi suatu pengertian atau suatu definisi tentang konsep penduduk..
4. Selanjutnya, pengembangkan konsep penduduk.
5. Bacalah dengan cermat data
dan grafik di bawah ini,.
Perkembangan Jumlah Penduduk di 6 propinsi
(Sumber: Badan Pusat Statistik Nasional: 2001Penggolongan Penduduk Menurut Usia
(Sumber: Badan Pusat Statistik Nasional: 2001)Penggolongan Penduduk Menurut Tempat Tinggal
(Sumber: Badan Pusat Statistik Nasional: 2001)4. Akibat ledakan penduduk membawa dampat negatif. Identifikasi permasalahan yang ditimbulkan akibat ledakan penduduk yang cepat di Indonesia.5. Berdasarkan data di atas penduduk kebanyakan bertempat tinggal di pedesaan. Agar tidak terjadi urbanisasi, langkah-langkah apa yang perlu ditempuh?6, Persebaran penduduk yang tidak merata membawa dampak kurang menguntungkan (dampat negatif) bagi pembangunan. Jelaskan menurut pendapatmu?7. Berdasarkan grafik diatas, maka prioritas pembangunan dibidang apa yang diperlukan dalam rangka mengatasi gejolak pertumbuhan penduduk?
Penilaian Kognitif
Penilaian kognitif, dapat dalam bentuk tes harian,
tugas individu atau kelompok.
Penilaian afektif
Afektif secara spesifik ketika proses
pembelajaran dilakukan melalui kelompok, individual, dan dapat digunakan format
pengamatan sebagai berikut:
Format Lembar Pengamatan (Penilaian afektif)
Keterangan:
Nilai Rerata
Afektif (NRA) = (1) + (2) + (3) + (4) +
(5) + (6) + (7) + (8) : 8
A = Baik sekali
(skor 4)
B = Baik (skor 3)
C = Cukup (skor
2)
D = kurang (skor
1)
Model penilaian afektif ini bukan harga mati, artinya masih dapat
dikembangkan sesuai dengan situasi dan kondisi serta kebutuhan sekolah serta
evaluasi pembelajaran..
Penilaian Psykomotor
Khusus pada penilaian psykomotor, karena karakteristik materi adalah
membangun suatu konsep, maka hasil belajar siswa yang diharapkan adalah
memiliki kompetensi atau kemampuan untuk membangun pengetahuan tentang konsep,
yaitu konsep penduduk. Maka aplikasi penilaian ranah psikomotor belum nampak.
Sehingga tidak semua bahan pembelajaran harus ada penilaian psikomotor.
Namun karena setiap kompetensi dasar mengandung keutuhan dari kognitif,
afektif dan psykomotor, maka penilaian psykomotor akan dapat dilakukan berdasarkan
pada indikator berikutnya yang masih dalam satu kompetensi dasar
Tugas Pekerjaan Rumah
Bentuklah kelompok terdiri dari 4 orang,
kemudian lakukan observasi di kantor Keluruhan/ Balai Desa tempat tinggal
atau Ketua RW setempat untuk mendata keberadaan penduduk menurut : jumlah,
usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan. Penilaian psykomotor dilakukan ketika
anak melakukan observasi dan membuat laporan.
2. Teknik Think Paire and Share
RENCANA
PEMBELAJARAN
Nomor: …….
I. IDENTITAS MATA PELAJARAN:
1. Mata Pelajaran :
Pengetahuan Sosial
2. Materi Pokok :
Penduduk dan sistem pemerintahan
4. Kelas/Semester :
V/……
5. Pertemuan ke : 3
6. Waktu :
2 X 45 menit
II. STANDAR KOMPETENSI:
Kemampuan memahami wawasan
nusantara, penduduk, dan peme-rintahan serta kerja keras para tokoh kemerdekaan
III. KOMPETENSI DASAR:
Kemampuan memahami keadaan
penduduk dan pemerintahan di Indonesia.
IV. INDIKATOR
·
Menjelaskan permasalahan penduduk di Indonesia
·
Mengidentifikasi bentuk, sebab dan akibat
perpindahan penduduk yang terjadi di Indonesia
V. TUJUAN PEMBELAJARAN
·
Menjelaskan permasalahan penduduk di Indonesia
dibidang social
·
Menjelaskan permasalahan penduduk di bidang
kesehatan
·
Menjelaskan permasalahan penduduk di bidang
pendidikan
·
Menjelaskan permasalahan penduduk di bidang keamanan
·
Mengidentifikasi bentuk perpindahan penduduk
yang terjadi di Indonesia.
·
Mengidentifikasi sebab perpindahan penduduk yang
terjadi di Indonesia
·
Mengidentifikasi akibat perpindahan penduduk
yang terjadi di Indonesia
V. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
* Kooperatif
learning teknik Think Pair and Share
A. Pendahuluan
1. Hening sejenak (berdo’a) untuk memusatkan
pikiran
2. Menyampaikan tujuan kegiatan hari ini
3. Mari kita sejenak menyanyi bersama “ Rayuan
Pulau Kelapa “.
4. siswa mengamati gambar melalui lembar
informasi yang dise-diakan guru.
B. Kegiatan Inti
1. Guru menyampaikan pokok materi pembahasan
2. Membagi siswa dalam bentuk pasangan
(dua orang)
3. Setiap pasangan siswa
memikirkan dan mengerjakan tugas antara lain:
a. Dampak/akibat ledakan (pertambahan
yang cepat) penduduk dan upaya mengatasinya.
b. Jenis-jenis migrasi/perpindahan
penduduk dan faktor penyebabnya
c.
Dampak/akibat
negatif migrasi/perpindahan penduduk
d.
Upaya penanggulangan dampak negatif dari
migrasi/perpin-dahakan penduduk.
3. Kemudian selesai memikirkan dan
mengerjakan tugas secara berpasangan, diperintahkan setiap pasangan mencari
pasangan lain sehingga membentuk kelompok kecil terdiri dari 4 orang,
4. Setiap anggota kelompok kecil
saling bertukar pikiran (sharring)
dari hasil tugas yang sudah dikerjakan siswa.
5. Kemudian salah satu anggota
kelompok kecil diminta mempersentasikan hasil diskusi yang telah dikerjakan
secara bergiliran sedangkan kelompok lain memperhatikan, mendengarkan,
mengamati dan bila diperlukan merespon hasil presentasi kelompok presenter.
6. Siswa mempunyai kesempatan
untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat.
7. Guru mengklarifikasi
(memperjelas) bila terjadi kesalahan konsep, prosedur maupun prinsip.
C, Penutup
1. Klarifikasi tiap kelompok (Kesimpulan) dan
evaluasi
2. Tugas/PR secara kelompok 4 orang untuk
mendata permasalahan penduduk yang pernah terjadi di lingkungan tempat tinggal
melalui data di Desa/ Kelurahan setempat.
3. Salam penutup
VI. SARANA/ALAT DAN SUMBER PEMBELAJARAN
1. Lembar informasi
2 Lembar Tugas
3. Lembar pengamatan
VII. PENILAIAN DAN TINDAK LANJUT
1. Penilaian Kognitif (terlampir) melalui tes
2. Penilaian afektif (terlampir) melalui
observasi
3. Penilaian tugas
Mengetahui Malang,
...........................
Kepala SDN..................... Guru
PS
______________ ____________
NIP NIP
Lembar informasi
Amati gambar dan catat hal-hal penting yang bisa kalian tangkap terkait
dengan pembahasan materi pembelajaran hari ini.
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
5.Tayangkan/presentasikanhasilpemecahanmasalahdankelompok
lain dipersilahkanmemberirespon/tanggapanterhadaptayangan. (MENGKOMUNIKASIKAN
DAN MEMBUAT JEJARING)
|
6.Buatlahkesimpulanbersama
guru kalian. (MENYIMPULKAN)
|
7.Buatlahrencanaaksi demi
kelestarianlingkungansekitarAnda.(MENCIPTA)
|
Langkah-langkahpembelajaran:
1.
Memilihberitabaru
yang aktualdanmenarikuntuk di bahas (berartiterkaitdengan KD-3/pengetahuan) berasaldari
media massa, sepertisuratkabar, berita di televisi, radio dsb. MisalKD3.4 Memahami norma-norma yang berlaku dalam
kehidupan bermasyarakat dan bernegara “ kaitkan dengan
kontekstual di sekitar nya seperti SAMPAH, kasuskerusakanlingkungan, bencanabanjir, pencemaran air
sungai, dsb. (mengamati)
2.
Siswadikelompokkan,
danmasing-masingkelompokbebasmembahasdarisudutpandangmasing-masing, misalnya: “
SAMPAH “bisadarisudutpandangMASING-MASING KELOMPOK
inibisadilakukanmelaluipertanyaan-pertanyaan yang diajukananggotakelompoknya(melalui proses menanya)
ttgidentifikasimasalahsampah, faktorpenyebab, dampakterhadapmasyarakatkesehatan,
upayapenanggulangan, responmasyarakatdalamupayapenanggulangan, dsb..(menalarmelaluikerjakelompok).
3.
Tiapkelompokditugaskanuntukmengumpulkaninformasi/data-data
untukmenemukanjawabanterhadappertanyaan-pertanyaan yangiaajukan. (mengumpulkaninformasi)
danditeruskanuntukberdiskusikelompokmemecahkanpermasalahanmelaluipertanyaantersebut.
(menalar/mengasosiasai/mengolahinformasi)
4.
Tiapkelompokmempresentasekanhasilmelaluiwakilkelompoknya,
(mengkomunikasikan)
sedangkankelompok lain memperhatikandanmeresponsibiladiperlukan (membuatjejaring)..
5.
Guru
mengamatidanmengklarifikasibilaterjadikesalahan (penilaianaotentik).
6.
Membuat kesempakatan rangkuman hasil
pembahasan kelas (menyimpulkan).
7.
Buatlah projek untuk melestarikan lingkungan
sekolah misalnya membawa tanaman untuk penghijauan, keindahan di sekolah (mencipta)
8.
Penutup.
Catatan:
Setiap model pasti ada sintak (urutan langkah-langkah
model pembel, dan itu sudah given dari
si pembuat model. Tinggal bagaimana memperkaya (me-erichment) model tsb sesuai
dengan pendekatan scientifik.
HASIL
KERJA
KELOMPOK
GURU PKn SD
RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK
DIINTEGRASIKAN
DENGAN PENDIDIKAN ANTI KORUPSI
KELAS
V
SEMESTER
I
TEMA :
HIDUP RUKUN
OLEH :
1.
SUPARDI,S.Pd.I
2.
SUBHAN, S.Pd.
3.
HERDIWATI NAPITU, S.Pd
4.
HARYANTI,S.S.Ag
5.
NURHAYATI,S.Pd.
WORKSHOP MODEL PENGINTEGRASIAN PENDIDIKAN ANTI KORUPSI
PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN
KEWARGANEGARAAN SD DAN SMP
CISARUA, 26-29
AGUSTUS 2014
RPP PENDIDIKAN
PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
BERMUATAN PENDIDIKAN
ANTIKORUPSI
Satuan Pendidikan : SDN PERCONTOHAN
Tema / Subtema : Hidup rukun
Kelas/Semester :
V/I
Alokasi Waktu :
1 Hari ( 1
x pertemuan )
A. Kompetensi Inti:
1.
Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya
2.
Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan
percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya
3.
Memahami pengetahuan faktual dan konseptual dengan cara mengamati, menanya dan mencoba berdasarkan rasa ingin
tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang
dijumpainya di rumah, di sekolah dan
tempat bermain
4.
Menyajikan pengetahuan faktual dan konseptual dalam bahasa yang jelas,
sistematis, logis dan kritis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang
mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak
beriman dan berakhlak mulia.
B. Kompetensi dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
PPKn.
2.1.Menunjukkan perilaku disipilin ,tanggungjawab,percaya
diri,berani mengakui kesalahan,minta maaf dan memberi maaf yang djiwai
keteladanan phlawan kemerdekaan ri dalam semangat perjuangan ,cinta tanah
air,dan rela berkorban sebagai perwujuda nilai dan moral .
Bahasa Indonesia.
3.3. Menguraikan isi tek paparan iklan tentang
ekpor impor sdebagai kegiatan ekonomi antara
banggsa
dengan bantuan guru dan teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulisa dengan
memilih
dan memilah kosa kata baku.
4.3. menyajikan tek paparan iklan tentang ekpor
impor sebagai kegiatan ekonomi antar bangsa
secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan
dan tulisan dengan memilihmemilah kosa
kata
baku.
Ilmu Pengetahuan
Sosial ( IPS )
3.2. Mengenal prubahan dan berkelanjutan yang terjaadi dalam kehidupan
manusia dan
masyarakat
Indonesia pada masa penjajahan masa tumbuhnya rasa kebangsaan serta
perubahan dalam aspek
social,ekonomi, pendidikan dan budaya.
4.2. Menceritakan hasil pengamatan mengenai perubahan
berkelanjutan yang terjadi dalam
kehidupan manusia dan masyarakat Indonesia
pada masa penjajahan ,masa tumbuhnya
rasa
kebangsaan serta perubahan dalam aspek social,ekonomi, pendidikan dan budaya
dalam berbagai jenis media.
C. Indikator
PPKn.
v
Medefinisikan pengertian disiplin
v
Menunjukkan
contoh perilaku disipilin Dilingkungan
sekolah.
v
Meunyebutkan akibat perilaku jika tidak disiplin dilingkungan sekolah
v
Menyebutkan
manfaat disiplin disekolah.
Bahasa Indonesia.
v Menjelaaskan isi tek poster atau iklan tentang
kegiatan ekonomi atau peraturan disekolah .
v Membuat contoh poster atau iklan tentang kegiatan
ekonomi atau peraturan disekolah secara mandiri.
Ilmu Pengetahuan Sosial (
IPS )
v Menyebutkan organisasi-organisasi yang ada sejak jaman
penjajahan sampai sekarang.
D. TujuanPembelajaran.
1. Setelah berdiskusidiskusi siswa mampu menjelaskan
pengertian disiplin.
2. Setelah berdiskusi,siswa mampu memberikan
contoh perilaku disiplin disekolah.
3. Setelah berdiskusi, siswa mampu menunjukkan akibat dari perilaku tidak disiplin disekolah.
4. Setelah berdiskusi mengenai perilaku
disiplin siswa mampu menyebutkan 2 manfaat perilaku disiplin.
E. Materi
Pembelajaran
PPKn
1. Pengertian disiplin
2. Contoh perilaku disiplin disekolah
3. Akibat tedak disiplin disekolah
4. Manfaat perilaku disiplin.
Bahasa Indonesia.
1.
Poster.
2.
Iklan.
Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS)
1.
Organisasi-organisasi yang
ada disekolah.
Pengembangan Materi Pendidikan Antikorupsi
IntegrasiPendidikanAntikorupsi
Di dalam kehidupan
ini, manusia satu dengan lainnya pasti memiliki hak, kewajiban, dan tanggung
jawab. Tahukah kalian, apa yang dimaksud dengan hak, kewajiban, dan tanggung
jawab itu?
Ikutilah
ilustrasi berikut ini :
Wawan,
setiap sore selalu bermain bola dengan teman-temannya. Ia bemain bola di tanah
lapang dengan teman-temannya sampai pukul 17.00.( kebersamaan,
berbagi,disiplin, rajin, kerja keras).
Sepulang dari main bola, ia lalu mandi. Selesai mandi, setelah terdengar
adzan Maghrib, ia menjalankan sholat jamaah dengan semua anggota keluarga
dengan imam ayahnya. Setelah itu bersama semua anggota keluarga lalu makan
bersama. (kebersamaan, kesetaraan, rajin, sportif,). Mulai pukul 19.00 – 21.00 ia belajar. Ia
mempelajari tema Peristiwa dalam kehidupan, sesuai dengan pelajaran yang ada
pada esok pagi. Usai belajar dan setelah membenahi semua peralatan sekolah,
ia menuju kamar tidur untuk tidur.(
disiplin, sportif. Komitmen, konsekuen, tanggung jawab, kerja keras, mandiri). Esok paginya, setelah bangun tidur, menunaikan
sholat Subuh, setelah sebelumnya membenahi tempat tidurnya agar tetap rapi.
Selesai sholat, ia membantu ayah menyapu halaman, agar tetap bersih.
Selanjutnya ia pergi mandi. ( tanggung jawab, rajin, sportif, disiplin, kerja
keras, mandiri, peduli). Sementara itu ibu menyiapkan makanan untuk sarapan
pagi. Setelah sarapan pagi selesai disiapkan ibu, seluruh anggota keluarga siap di ruang makan
untuk bersama-sama sarapan pagi.( tanggung jawab, kebersamaan, konsekuen,
disiplin, kerja keras, peduli). Selesai sarapan pagi, Wawan berangkat ke
sekolah. Ia berangkat agak pagi, karena hari itu ia bertugas piket. Sesampai di
sekolah, Wawan masuk ke ruang kelasnya. Setelah meletakkan tasnya, wawan
langsung membersihkan papan tulus, karena papan tulisnya masih penuh dengan
tulisan. Jam pelajaran terakhir kemarin petugas piket lupa untuk menghapus
papan tulis. Selanjutnya dengan
teman-teman yang bertugas piket, bersama-sama menyapu lantai, membuang sampah
yang ada di kotak sampah ( komitmen, ihlas, berbagi, rajin, sportif, tanggung
jawab, disiplin, kerja keras, mandiri, peduli). Setelah menyelesaikan tugas
piketnya, karena waktu masih pagi, bersama teman-temannya bermain di halaman
sekolah. ( kebersamaan, kesetaraan). Setelah tanda masuk berbunyi, semua siswa
berbaris rapi di halaman sekolah sesuai dengan kelasnya. Kebetulan hari itu
hari Senin, sebelum masuk kelas, selalu diadakan upacara. Sebelum upacara dsi
mulai, Kepala Sekolah dan semua guru sudah hadir di lapangan, tidak ada seorang
gurupun yang belum hadir. Memang di sekolah Wawan sudah menjadi kebiasaan,
bahwa 15 menit sebelum masuk, semua guru sudah berada di sekolah.(kebersamaan,
konsekuen, ihlas, rajin, sportif, tanggung jawab, disiplin),
Cobalah
cermati ilustrasi di atas. Dari ilustrasi tersebut, carilah mana yang termasih
hak, mana yang termasuk kewajiban, dan mana yang termasuk tanggung jawab.
Setelah
kalian temukan, cobalah rumuskan apa pengertian hak, kewajiban, dan tanggung
jawab.
Diskusikanlah
dengan teman-teman kalian dalam satu kelompok:
1. Apakah
yang akan terjadi jika di sekolah atau di lingkungan rumah hak-hak seorang
anggota tidakdiberikan sebagaimana mestinya?
2. Apakah
yang akan terjadi jika dalam lingkungan
sekolah atau lingkungan rumah salah satu anggota tidak bersedia menunaikan kewajiban-kewajiban
yang dibebankan kepadanya?
3. Apakah
yang akan terjadi jika dalam lingkungan rumah atau lingkungan sekolah salah
satu anggotanya tidak menunaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya?
F.Pendekatan Dan Metode
Pendekatan :
Scientific
Metode :
Ceramah, Tanya jawab, diskusi dan penugasan.
Strategi :
Cooperaqtif Learning ( inkuiri)
G.Kegiatan Pembelajaran
|
Kegiatan
|
Deskripsi Kegiatan
|
Alokasi Waktu
|
|
Pendahuluan
|
1. Untuk mengawali kegiatan pembelajaran siswa diajak berdoa menurut
agama dan keyakinan masing-masing
2. Siswa dipresensi guru dengan menyebutkan namanya
3. Menanyakan tentang pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan
sebelumnya
4. Siswa diberi apersepsi oleh guru.
Guru bertanya pada siswa, “Anak-anak, apa kewajiban kalian sebagai pelajar?”
Anak mungkin menjawab, “belajar, Bu.” “menuntut ilmu”
Guru bertanya lagi, “misal kalian telah berhasil mendapatkan nilai
baik, apa yang kalian dapatkan dari orangtua?”
Anak mungkin menjawab, “hadiah, Bu”
Baiklah hadiah yang kalian dapatkan merupakan hak yang kalian dapatkan
setelah kalian memenuhi kewajiban yaitu belajar.
5. Menginformasikan tema yang akan di pelajari yaitu ”Perilaku disiplin
disekolah”
|
10 menit
|
|
Inti
|
1. Siswa memperhatikan informasi yang disampaikan guru tentang pengertian
disiplin disekolah.
2. Siswa diminta mengamati beberapa poster mengenai peraturan/disiplin di
lingkungan sekolah
3. Siswa diminta untuk menguraikan isi dari teks poster tersebut.
4. Siswa diminta untuk menyebutkan contoh lain yang dapat mereka temukan
di luar lingkungan sekolah
5. Guru membagi siswa dalam kelompok yang terdiri dari 4 – 5 orang
6. Siswa diberikan penjelasan mengenai langkah-langkah pengerjaannya.
Selain itu guru juga memberitahukan sepintas tentang penilaian yang akan
dilakukan dalam kerja kelompok, misal kekompakannya, kerjasama, saling
menghargai dan lainnya.
7. Siswa diminta mendiskusikan tentang disiplin disekolah.
8. Siswa diminta menuliskan perilaku disiplin dilingkungan sekolah.
9. Siswadimintauntuk mendeskripsikan
pengertian disiplin.
10. Siswa menyampaikan hasil diskusi di depan kelas (perwakilan kelompok).
11. Siswa diminta untuk membuat poster yang berkaitan dengan peraturan
yang ada di lingkungan sekolah
12. Perwakilan kelompok menyampaikan hasil kerja kelompok masing-masing.
13. Kelompok yang tidak menyampaikan hasil kerja kelompok menanggapi hasil
dari kelompok penyaji.
14. Hasil dari kelompok terbaik di pajang di kelas, sebagai motivasi untuk siswa lain.
15. Setelah semua kelompok selesai menyampaikan hasil kerja kelompok, guru
melakukan konfirmasi.
16. Bertanya jawab tentang materi yang telah dipelajari. Misal salah satu
kelompok mengajukan pertanyaan yang belum dipahami kepada kelas, kemudian
guru mempersilakan kepada teman lain yang sudah mengerti untuk menjawab. Jika
tidak ada yang berani, guru sebisa mungkin membujuk siswanya agar keberanian
untuk menjawab meningkat.
17. Guru meluruskan pemahaman siswa yang kurang tepat.
|
150 menit
|
|
Penutup
|
1. Siswa bersama guru membuat kesimpulan tentang apa yang sudah mereka
pelajari hari ini.
2. Melakukan penilaian hasil belajar.
3. Siswa diberi penguatan materi yang telah dipelajari dengan menekankan
pada hal-hal yang penting.
4. Siswa diberi motivasi agar rajin belajar
5. Pembelajaran ditutup dengan berdoa menurut agama dan keyakinan
masing-masing
|
15
menit
|
H. Sumber dan Media.
·
Buku siswa tematik kelas V
tema 3
·
Lingkungan sekolah
·
Gambar
·
Buku lain yang relevan.
I.Penilaian
1. Prosedur Penilaian
a.
Penilaian proses
Menggunakan format pengama
b.
Penilaian hasil belajar
Menggunakan intrumen
penilaian hasil belajar dengan tes tertulis,
2. Instrument Penilaian
a.
Penilaian proses
*Penilaian Produk,
b.
Penialaian Hasil Belajar
* Esai atau Uraian
Evaluasi!
1. Penilaian Produk
Buatlah poster yang menggambarkan kegiatan
yang berhubungan dengan perilaku disiplin disekolah !
2. Penilaian Hasil Belajar
Jawablah pertanyaan di bawah ini
denganbenar!
1. Apa yang dimaksud dengan
disiplin.
2. Sebutkan 2 contoh perilaku disiplin disekolah !
Kepala Sekolah, Guru Kelas,
NIP NIP
LAMPIRAN
Penilaian Produk
|
No
|
Nama
Siawa
|
Aspek
yang dinilai
|
Nilai
|
Ket
|
||
|
Ketetapan
dengan tema
|
kejujuran
|
Hasil
|
||||
|
1
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
|
|
|
|
|
|
|
6
|
|
|
|
|
|
|
|
7
|
|
|
|
|
|
|
|
8
|
|
|
|
|
|
|
|
9
|
|
|
|
|
|
|
|
10
|
|
|
|
|
|
|
|
11
|
|
|
|
|
|
|
|
12
|
|
|
|
|
|
|
|
13
|
|
|
|
|
|
|
|
15
|
|
|
|
|
|
|
|
dst
|
|
|
|
|
|
|






