Menangkal
Budaya Konsumerisme
(dalam
rangka Tahun baru 2014)
Oleh : Yusup. S.Pd. MM
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ
الرَّحِيمِ
وَالْعَصْرِ {1} إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ {2} إِلاَّ الَّذِينَ
ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا
بِالصَّبْرِ {3}
Demi masa. (QS. 103:1)
Sesungguhnya manusia
itu benar-benar berada dalam kerugian, (QS. 103:2)
kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati
kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. 103:3)
} وَأَنفِقُوا فِي
سَبِيلِ اللهِ وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ {195}
Dan belanjakanlah
(harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri
ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berbuat baik. (QS. 2:195)
Hadrin sidang sholat jum’at
Rokhimakumullah
Marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Illahi
Robi yang mana telah memberikan kita nikmat,diantaranya nikmat iman nikmat
islam dan nikmat yang tidak kalah pentingnya ialah nikmat sehat,sholawat dan salam
marilah kita smapaikan pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW ,selaku khotib
saya berpesan pada diri saya dan hadirin sekalian marilah kita tingkatkan
ketakwaan pada Allah SWT
Hadirin sidang sholat Jumat Rokhimakumullah
Marilah kita perhatikan firman Allah pada Surat Al
A’asyer ayat 1-3 dan Surat Al Baqoroh ayat 195 (Baca dan terjemahkan) Ayat
tersebut dengan jelas mengisyaratkan :
Pertama kerugian yang besar bagi manusia yang telah menyia2kan
waktunya dalam hidup dengan kegiatan konsumeritif dan kegiatan2 yang tak
bermanfaat,sebagaimana yang disinyalir oleh surat albaqoroh ayat 195 yang kedua
orang2 yang beruntung yaitu yang mnegerjakan amal sholeh nasehat menasehati
supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati dalam kesabaran
Menjelang tahun baru 2014 ada baiknya kita introsfeksi tentang
kondisi umat islam saat ini ,menurut hemat khotib umat islam menjadi umat yang
menjadi obyek kavitalis,sejak dahulu sampai sekarang objek kavitalis,pada umat
islam tidak berhenti kala itu kavitalis menebarkan pengaruhnya lewat produk-produk
dengan kemasan dan cara sederhana sedangkan sekarang semakin canggih,sehingga
kita semua memiliki ketergantungan dengan mereka sangat sulit untuk
menghindar,jadi kita menjadi umat yang memilki mental konsumerisme,
Saat menjelang hari raya idul fitri,saat libur2 nasional
semua mereka manfaatkan menciptakan produk2 yang menarik yang sulit kita
hindari,karena kita membutuhkan,karena kita bangga menggunakan produk-produk
mereka disamping itu karena kita bertepuk sebelah tangan mau mencintai atau
membeli produk karya bangsa kita sendiri tidak ada atau tidak berkualitas ,saat
bukan momen-momen tertentu sat-sat hari-hari biasa atau bulan-bulan lainpun
kita semua tergilas oleh budaya konsumerisasi(budaya membeli,menyewa,menikmati,atau
mendatangi untuk mengkonsumsi, semuanya adalah budaya konsumerisme) contoh
dahulu orang bekerja untuk menghadiri undangan dengan menggunakan surat
menyurat,lalu sekarang ini para pegawai menerima informasi lewat sms setelah,
kita hadir ditempat undangan baru bukti fisiknya berupa surat pemberitahuan, baru
diberikan kepada kita ini artinya pegawai atau pekerja harus memiliki hande
phone bila tidak mereka akan kehilangan informasi,bahkan sekarang ini pegawai
yang mau dilantik harus mengaktifkan hand phonnya karena pemberitahuan tersebut
lewat HP,pegawai yang mau ikut tes calon pemimpin atau tenaga honor yang ingin
menjadi PNS juga harus memahami yang namanya internet karena informasi tersebut
dilakukan secara one line lewat google internet,bahkan sekarang tidak cukup
punya HP yang bisa SMS karena untuk menyampaikan gambar dan video yang seketika
terjadi langsung diinformasikan kepada orang lain detik itu juga maka
diperlukan HP yang lebih canggih yaitu dengan media BBM akhirnya orang agar tidak
ketinggalan informasi dari atasannya atau temannya maka mereka harus ganti HP
lagi kita semua terjerat dengan budaya kavitalis,maka tidak heran kalau budaya
konsumerisme di masyarakat kita semakin meningkat ketimbang budaya berproduksi
,Konsumerisme telah melanda semua lapisan ,tidak hanya yang kaya tetapi juga
yang miskin juga terjangkiti,tidak hanya pejabat tetapi rakyat jelatapun ikut
serta,untuk hari libur nasional yang jatuh pada hari kerja maka pemerintah
mendekatkatkan dengan hari akhir kerja supaya menyambung dengan hari
liburan,atau dengan menggandengkan dengan hari cuti dgn hr libur nasional dg
cara cuti bersama supaya uang beredar pada kampung2 halaman agar pegawai tadi
bisa pulang kampung atau berwisata,sehingga uang beredar pada tempat2 wisata.Untuk
menyambut tahun baru orang-orang berduit membeli kembang api sampai puluhan
jutaan rupiah bahkan ratusan juta dengan pesta makan-makannya walau mereka ada
yang bergelar haji tiada perduli sengaja disediakan produk-produk yang serbah
wah yang dapat memuaskan dan merangsang masyarakat diciptakan oleh
produsen,rakyat jelatapun menggunakan terompet dan kembang api,mereka lakukan
pada intinya budaya konsumerisme terus berlanjut pada hari hari di luar hari2
besar
Hadrin
sidang sholat jum’at Rokhimakumullah
Hukum ekonomi yang menyatakan bahwa
peningkatan konsumsi dengan adanya pendapatan adalah 0,733 % artinya jika
pendapatn meningkat Rp.1000 maka pengeluaran atau konsumsi meningkat Rp.730
maka yang Rp.270 disaving/ditabung teori ini tidak berlaku bagi masyarakat kita
sekarang ini malah jadinya besar pasak dari pada tiang penghasilan Rp.2,5 Juta
pengeluaran Rp.4 juta,maka banyak yang terjadi anak-anak merongrong
orangtuanya,orangtua melakukan penyimpangan-penyimpangan di tempat
kerjanya,budaya konsumerisme telah merubah pola hidup umat islam seperti :
a. Tujuan ajaran
islam diperintahkannya manusia untuk mengkonsumsi makanan, pakaian semata mata
untuk mempertahankan hidup tetapi ternyata mereka membeli produk untuk menjaga
status, penampilan, dan gengsi.
b. Memakai sebuah
produk karena adanya unsur konformitas terhadap model yang sedang gencar dan
ngetrent mengiklankan produk tersebut. Televise telah menjadi berhala bagi
orang yang sesat
c.
Adanya
penilaian bahwa dengan memakai atau membeli produk dengan harga yang mahal akan
menimbulkan rasa percaya diri. Ini yang keliru
d.
Membeli
produk dengan pertimbangan harga bukan karena manfaat dan kegunaannya.
e.
Membeli karena kemasan produk yang menarik. dan
f.
Membeli produk karena iming-iming hadiah. Bukan karena kebutuhan
Budaya konsumtivisme menimbulkan ”compulsive buying disorder”
(penyakit kecanduan belanja). Penderitanya tidak menyadari dirinya terjebak
dalam kubangan metamorfosa antara keinginan dan kebutuhan yang tdk pernah puas
bahkan selalu kehausan terus menerus hal Ini bisa menyerang siapa saja,
perempuan atau laki-laki. Susahnya, kita
terjebak dalam kehidupan konsumeristik yang dibawa pasar kapitalisme. Jadi
ritual itu dipaket begitu rupa oleh pasar kapitalisme menjadi lebih konsumtif
dan menjadi bagian dari budaya populer. Kehidupan kaum muslimin saat ini berada
di tengah arus kapitalisme. Pada akhirnya perilaku konsumtif bukan saja
memiliki dampak ekonomi, tapi juga dampak psikologis, sosial bahkan akhlaq.
Inilah yang akhirnya kita menyimpang
dari tujuan ajaran islam
Hadrin
sidang sholat jum’at Rokhimakumullah
Khotib
mengajak marilah kita :
1.Stop Gaya Hidup Konsumtif!!
Kaum muslimin memiliki gaya hidup yang unik yang sangat
berbeda dengan peradaban manapun. Gaya hidup ini akan menyelamatkan manusia
dari kerusakan umat manusia. Kebahagiaan kaum muslimin diukur dari keridhaan
Allah SWT. Kita bisa meneladaninya dari kehidupan rasul, sahabat, dan para
pengikutnya.
2.Membelanjakan harta (Infaq)
Menginfaqkan harta adalah memberikan harta dengan tanpa kompensasi apapun. Allah SWT berfirman :
“Dan nafkahkanlah (harta kalian) di jalan Allah.” (QS. Al-Baqarah:195)
Membelanjakan harta (infaq) bisa berbentuk wajib, sunnnah, mubah, bahkan haram. Wajib dalam hal nafkah kepada anak- isteri, zakat, dll. Sunnah dalam hal shodaqoh, memberi hadiah, wasiat, dll. Mubah dalam hal rekreasi, dll.
2.Membelanjakan harta (Infaq)
Menginfaqkan harta adalah memberikan harta dengan tanpa kompensasi apapun. Allah SWT berfirman :
“Dan nafkahkanlah (harta kalian) di jalan Allah.” (QS. Al-Baqarah:195)
Membelanjakan harta (infaq) bisa berbentuk wajib, sunnnah, mubah, bahkan haram. Wajib dalam hal nafkah kepada anak- isteri, zakat, dll. Sunnah dalam hal shodaqoh, memberi hadiah, wasiat, dll. Mubah dalam hal rekreasi, dll.
3.Tuntun remaja karena remaja rentan terjebak dalam
gaya hidup konsumtif
Remaja yang bergaya hidup konsumtif rela mengeluarkan duitnya hanya untuk jaga gengsi dalam pergaulan. Baik itu masalah makanan dan minuman, pakaian, juga masalah hiburan (Food, Fashion, and Fun). Hal ini merupakan perwujudan dari gharizah al baqa (naluri mempertahankan diri). Setiap orang ingin dianggap eksis dalam lingkungan pergaulannya.
Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja.
Saat remaja sedang gandrung dengan gaya hidup mewah, para pengusaha yang tak bertanggung jawab malah memberikan saluran untuk menampung gelegak nafsu konsumtif remaja. Produk-produk makanan, minuman, pakaian, sampai hiburan dikemas begitu rupa supaya remaja betah dan merasa nyaman dengan gaya hidup konsumtif yang selalu identik dengan kemewahan tersebut.
Setiap keluarga harus membuat perencanaan keuangan bulanan secara baik, dengan melakukan skala prioritas terhadap kebutuhan pokok, seperti pangan, sandang, papan, listrik/air, pendidikan, silaturrahmi dan shodaqoh. Besarnya perencanaan pengeluaran tersebut harus disesuaikan dengan pendapatan.
Selanjutnya, jika berbelanja harus disesuaikan dengan perencanaan tersebut. Dalam berbelanja kita harus dapat membedakan antara kebutuhan dengan keinginan. Jika ada kelebihan, gunakan untuk keperluan yang waktunya masih lama.
Untuk keperluan mubah harus diperhatikan dan dipertimbangkan agar mendukung pendidikan anak dan dakwah.
Islam memang mengajarkan pola hidup sederhana alias tidak bermegah-megahan. Alangkah lebih baiknya bila kita mengeluarkan uang untuk barang-barang yang lebih bermanfaat atau produk halal yang lebih murah harganya. Kelebihannya bisa kita sumbangkan untuk pendidikan dan dakwah, masjid atau fakir miskin.
Remaja yang bergaya hidup konsumtif rela mengeluarkan duitnya hanya untuk jaga gengsi dalam pergaulan. Baik itu masalah makanan dan minuman, pakaian, juga masalah hiburan (Food, Fashion, and Fun). Hal ini merupakan perwujudan dari gharizah al baqa (naluri mempertahankan diri). Setiap orang ingin dianggap eksis dalam lingkungan pergaulannya.
Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja.
Saat remaja sedang gandrung dengan gaya hidup mewah, para pengusaha yang tak bertanggung jawab malah memberikan saluran untuk menampung gelegak nafsu konsumtif remaja. Produk-produk makanan, minuman, pakaian, sampai hiburan dikemas begitu rupa supaya remaja betah dan merasa nyaman dengan gaya hidup konsumtif yang selalu identik dengan kemewahan tersebut.
Setiap keluarga harus membuat perencanaan keuangan bulanan secara baik, dengan melakukan skala prioritas terhadap kebutuhan pokok, seperti pangan, sandang, papan, listrik/air, pendidikan, silaturrahmi dan shodaqoh. Besarnya perencanaan pengeluaran tersebut harus disesuaikan dengan pendapatan.
Selanjutnya, jika berbelanja harus disesuaikan dengan perencanaan tersebut. Dalam berbelanja kita harus dapat membedakan antara kebutuhan dengan keinginan. Jika ada kelebihan, gunakan untuk keperluan yang waktunya masih lama.
Untuk keperluan mubah harus diperhatikan dan dipertimbangkan agar mendukung pendidikan anak dan dakwah.
Islam memang mengajarkan pola hidup sederhana alias tidak bermegah-megahan. Alangkah lebih baiknya bila kita mengeluarkan uang untuk barang-barang yang lebih bermanfaat atau produk halal yang lebih murah harganya. Kelebihannya bisa kita sumbangkan untuk pendidikan dan dakwah, masjid atau fakir miskin.
Hadrin sidang
sholat jum’at Rokhimakumullah
Secara konsep
umat islam punya cara yang jelas untuk menangkal budaya konsumerisme yaitu dengan :
Budaya zuhud
tetapi budaya ini sekarang memang tidak banyak laku dan umat islam sendiri
banyak yang tidak mau menggunakannya
Di Muhammadiyah
menangani budaya konsumerisme dengan theologi Al maun dengan mempedulikan
fukara dan masakin
Berikutnya
dengan cara persuasif dari pintu kepintu dan face to face ,disamaping itu
pembinaan umat lewat ceramah, khutbah-khutbah,pengajian-pengajian semuanya itu
sudah dilakukan namun tetap saja kita
tak mampu memiliki kekuatan yang signifikan
Maka khotib
mengajak marilah kita menempuh langkah2 efektif untuk menangkal budaya
konsumerisme yaitu :
1.Melakukan
hegemoni budaya islam seperti yang mereka lakukan terhadap kita
2.Melakukannya
dengan kultural islam pada masyarakat seperti mereka melakukannya
3.Melakukan
infiltirasi islam dengan media sebagaimana mereka melakukannya pada kita
Hanya dengan
agenda besar itu yang dapat menangkal budaya konsumerisme akibat korban
kavitalis yang telah melanda pada umat islam ,hegemoni hanya bisa dilawan
dengan hegemoni,kultural dilawan dengan kultural,dan media hanya bisa dilawan
dengan media oleh sebab itu umat islam harus mengambil peran dalam bidang
politik dan ekonomi,karena jika mengandalkan da’wah bil lisan paling2 jamaah
hanya tidur dan termangu-mangu,dan jika sudah di dalam politik dan ekonomi
jangan korupsi,dan bela kepentingan umat islam
Barokallah..................
