PENDIDIKAN HOLISTIK
BAGI PEMBENTUKAN PRILAKU AKHLAKUL KARIMAH
oleh :
YUSUP, S Pd MM
PENGAWAS TK/SD
UPTD DIKDAS KECAMATAN CIPONDOH TANGERANG
A.
Latar Belakang
Pendidikan anak adalah tanggung jawab
bersama antara sekolah dan keluarga. Hal ini mungkin disadari oleh semua pihak.
Namun kenyataan di lapangan membuktikan bahwa tanggung jawab tersebut sering
terlupakan. Walaupun diakui bahwa kualitas pendidikan di sekolah masih
memerlukan banyak perbaikan, namun menurunnya prestasi belajar anak tidak adil
bila ditimpakan seluruhnya pada sekolah.
Perilaku belajar di rumah pun turut berpengaruh pada prestasi belajar
anak. Perbaikan kualitas pendidikan anak di sekolah seyogyanya diimbangi pula
oleh perbaikan tanggung jawab orang tua di rumah. Kekurangan yang terjadi di
sekolah diupayakan tidak terjadi di rumah. Dalam konteks ini, peran serta orang
tua akan berpengaruh pada prestasi belajar anak di sekolah, karena cara belajar
anak di rumah akan mempengaruhi cara belajar anak di sekolah.
Sistem pendidikan modern ialah sistem
pendidikan yang berbasis pada nilai prilaku yang dilembagakan secara modern
seperti model pendidikan barat tetapi dengan substansi akhlak yang
diproyeksikan menghasilkan lulusan yang kuat
iman dan kepribadiannya sekaligus mampu menghadapi
tantangan zaman. Pendidikan Holistik itu
memadukan pengetahuan Akhlak/Budi Pekerti dan pengetahuan umum, sekaligus
memadukan kemampuan holistik (menyeluruh) antara keimanan dan kepribadian
dengan dengan kemampuan-kemampuan intelektual, praktikal, dan sosial.
Dengan pendidikan yang modern dan holistik
itu telah melahirkan generasi terpelajar
yang kuat iman dan kepribadiannya sekaligus mampu menjawaqb tantangan zaman,
karena itu pendidikan yang mengintegrasilkan iman dan kemajuan. Iman bukan
hanya dogma tetapi diaktualisasikan dan menjadi basis bagi kemajuan, sekaligus
kemajuan itu memiliki keterpaduan dengan keimanan. Jilka di belakang hari semakin
berkembang generasi terpelajar yang
masuk ke berbagai struktur kehidupan
karena mereka terbina oleh sistem
pendidikan modern yang holistik.
Karena itu, sesungguhnya jika ingin
mengembangkan pendidikan yang lebih unggul
saat ini, sesungguhnya spirit dan
kandungan isi pendidikan itu sejatinya
merupakan sistem pendidikan yang menyeluruh atau holistik. Kini yang diperlukan
ialah revitalisasi seluruh aspek dalam sistem pendidikan di berbagai jenis dan jenjang pendidikan.
Seluruh unsur atau elemen dalam sistem pendidikan dari aspek nilai, kurikulum,
pengajar, infrastruktur, dan berbagai aspek lainnya harus diperkuat dan
diperkaya sehingga memiliki nilai lebih dalam berbagai hal. Model pendidikan dapat bermacam ragam baik yang umum seperti
sekolah maupun khusus seperti madrasah, tetapi spirit dasarnya ialah sistem pendidikan
modern yang holistik, yang mengintegrasilkan nilai-nilai dan kehidupan yang berkemajuan.
Pendidikan yang harus melahirkan generasi
cerdas dan berakhlak dalam segala bidang kehidupan. Pribadi yang dilahirkan dari sistem pendidikan
Holistik ini pun sebagaimana konsep dasar tadi tentang manusia terpelajar, ialah yang berkemampuan
dalam seluruh bidang ilmu, sehingga mereka yang disebut Pribadi berakhlak itu
benar-benar yang berilmu dan mengamalkan ilmunya itu untuk kejamuan hidup.
Pribadi yang berpikiran maju, yang apresiatif terhadap kemajuan, dan mampu
menghadirkan atau mewujudkan nilai-nilai itu untuk kemajuan hidup umat manusia. Bukan
Pribadi tradisional, yang terbatas pada
ilmu , berpikiran konservatif, sehingga
di masa lampau alergi bahkan, menentang Pendidikan plus Akhlak yang
berkemajuan.
Pendidikan Konvensional di mana pun saat
ini sedang berhadapan dengan kehidupan yang kompleks dan berada dalam zaman
modern. Oleh karena itu tidak boleh gagap dan kemudian secara salah kaprah
ingin kembali ke masa lampau hanya karena kecemasan menghadapi tantangan zaman
modern. Pendidikan Holistik justru harus dihadirkan sebagai ajaran alternatif
dalam dunia modern, bukan malah melarikan diri dari dinamika zaman. Karena itu,
pendidikan dalam berbagai jalurnya,
termasuk melalui pendidikan model Bording shcool, harus memancarkan spirit awal
pendidikan yakni pendidilkan modern yang holistik. Pendidikan yang mampu
melahirkan generasi terpelajar yang
kokoh iman dan kepribadiannya, sekaligus berpikiran maju dan mampu menjawab
tantangan zaman.
Memang
tidak mungkin dipisahkan dengan dunia masa perintisan sudah mulai kerja pencerdasan generasi baru . Saat
dunia pendidikan formal masih dikelola oleh pemerintah kolonial dan steril dari
nuansa agama,
Upaya ini ternyata membawa dampak yang cukup
besar. Para Priyayi yang selama itu tidak kenal agama (meskipun secara formal
mengaku beragama Islam) menjadi tahu agama dan tertarik untuk lebih mendalami
dan menjalankanya. Upaya pendidikan memang sangat strategis mengubah sebuah bangsa.
Ketika seseorang menjadi terpelajar, jiwa rasiorial jadi akan terbuka.
Oleh karena itu, ketika kita menyelenggarakan program pendidikan tujuannya harus jelas. Yaitu untuk memfasilitasi
terciptanya generasi yang terpelajar dan
berakhlaq. Generasi baru yang beriman kokoh namun sadar akan kemajuan.
Akhlak dan Kemajuan adalah dua hal yang
tidak boleh terpisahkan dalam setiap penyelenggaraan pendidikan . Apa pun jenis
pendidikan yang diselenggarakan, baik itu Pendidikan Dasar, SMA, SMK, dan jenis
pendidikan yang lainnya, harus ada misi penanaman Akhlak yang berkemajuan dalam
diri setiap anak didik. Materi Akhlak atau Pelajaran Budi Pekerti yang tidak hanya
dihafal dan terhenti sebagai ilmu, akan tetapi
tercermin teraktualisasikan dalam setiap perilakunya.
Walaupun tidak terteorikan dan dijelaskan
dalam nama lembaga pendidikannya, menerapkan
pendidikan holistik, pendidikan terpadu yang memadukan akhlaq dan kemajuan.
Dari lembaga pendidikan holistik seharasnya
bangsa ini bisa berharap lahirnya generasi-generasi baru yang cerdas dan
tercerahkan. Generasi baru yang menguasai teknologi tinggi, berwawasan luas,
dan berakhlak .
Pendidik tidak selayaknya hanya mengejar
nilai dan prestasi akademik yang tinggi namun abai pada penanaman nilai-nilai Akhlak.
Sekolah harus memotivasi untuk berprestasi tinggi namun juga harus memantau
secara detail dan mendalam bagaimana akhlak peserta didiknya. Bagaimana
kejujuran, ketawadhuan, kesabaran, dan keistiqamahannya juga harus terpantau
dan terevaluasi secara rinci.
Sekolah tidak cukup hanya menyuruh anak didiknya
menghafal Undang – undang Peraturan Pemerintah Peraturan Daerah Tata Tertib di
Sekolah dan lain lain . Namun juga, harus membimbingnya supaya bisa diejawantakan
dalam kehidupan nyata. Dan dengan pendidikan holistik, mereka akan menjadi
manusia yang berwatak, manusia yang memiliki integritas pribadi, tangguh dan
sanggup memenangkan masa depan.
B. Permasalahannya
1. Mengapa lembaga – lembaga pendidikan
di Indonesia sepertinya hanya menghasilkan ratusan ribu, atau bahkan jutaan penganggur
setiap tahun?
2. Mengapa lembaga pendidikan di Indonesia
sepertinya hanya menghasilkan banyak manusia atau pemimpin yang pintar tetapi
culas, curang dan merasa tidak berdosa kalau korupsi itu menyengsarakan umat
atau rakyatnya
3. Mengapa lembaga pendidikan di negara kita
sepertinya hanya menghasilkan manusia-manusia penurut, mudah ditundukkan oleh
kekuatan kapitalis global, oleh kekuatan pemuja pasar besar global (kaum
neolib), dan mudah didekte oleh pengendali adikuasa politik, ekonomi, budaya dan
militer global?
4. Mengapa pendidikan di
Indonesia sepertinya menghadapi jalan buntu?
Jawabnya sederhana. Karena pendidikan
dan lembaga pendidikan kita tidak menggarap atau abai dalam menggarap karakter
manusia, kurang menggarap pribadi sehingga memiliki integritas yang kuat. Dan
pendidikan di Indonesia cenderung alpa menggarap manusia agar menjadi manusia
tangguh, kritis, relijius produktif dan memiliki visi jauh ke depan.
Pendidikan di Indonesia,
direduksi atau terjerembab menjadi sekadar pengajaran belaka. Pendidikan, hanya sekadar menjadi proses
ta'lim, proses transfer pengetahuan. belum sampai pada level tarbiyah, yang
menjelaskan pengetahuan atau ilmu telah mewujud menjadi perilaku.
Pendidikan di Indonesia masih belum mampu
menjadikan manusia terdidik dan beradab. Pendidikan di Indonesia baru
menghasilkan manusia pintar, manusia terpelajar. Padahal, pembentukan manusia
terdidik dan beradab itu dapat dijadikan fondasi bagi pembentukan bangsa yang
berkarakter. Dan bangsa yang berkarakter akan memiliki peluang untuk
memenangkan masa depan. Sedang, bangsa yang tidak memiliki karakter hanya akan
berada pada posisi sebagai pecundang.
Tanda-tanda akan terjerumusnya bangsa
Indonesia menjadi bangsa pecundang, karena pendidikannya tidak beres, sudah
kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Moral, etika, kejemihan berfikir dan
dialog untuk memecahkan masalah sekarang sepertinya tercabik-cabik oleh
kepentingan, kekerasan dan keinginan untuk memuaskan hawa nafsu.
Tentu saja, keadaan ini membuat para
pemimpin di semua level gelisah. pendidikan belum mampu memperbaiki keadaan?
Apakah Lembaga Pendidikan gagal melakukan transformasi pendidikannya sehingga
apa yang dihasilkan kurang tepat atau kurang nyambung dengan tuntutan kehidupan
hari ini?
Melihat kebanyakan pendidikan masih
bersifat dikotomik, yaitu membedakan antara pendidikan umum dan pendidikan
Akhlak, antara pelajaran umum dan pelajaran agama, antara ilmu umum dan ilmu
agama. Dikotomisasi tersebut anehnya, selama ini juga terlihat juga terjadi di
lembaga – lembaga Pendidikan . Pandangan dikotomik itu menjadikan Islam dilihat
hanya sebatas sebagai agama atau agama dipisahkan dari persoalan-persoalan lain
seperti ekonomi, politik, sosial, hukum, dan juga ilmu pengetahuan."
Di lingkungan pendidikan sendiri cara memandang ilmu secara dikotomik
itu juga masih tampak. Selain itu di banyak sekolah terdapat Pelajaran Agama
dan Budi pekerti, tetapi terpisah dan tidak terintegrasi ke dalam pelajaran
pelajaran umum Sehingga seolah-olah, disadari atau tidak, Akhlak diposisikan
secara terpisah dari bangunan keilmuan lainnya. Jadi, di Pendidikan belum dilihat secara holistik.
Pandangan
dikotomik seperti itu sesungguhnya sangat tidak relevan. Karena Ilmu itu
sendiri mestinya berisi berbagai aspek kehidupan. Jika selama ini kajian yang
baru menyentuh aspek aqidah, hukum,Peraturan Tata tertib,sangsi fiqh, seterusnya, tidak berarti bahwa Ilmu hanya
sebatas itu. Masih ada aspek lain yang sedemikian luas yang seharusnya dikembangkan,
Selanjutnya, Pendidikan memiliki acuan Refleksi sikap. yang sangat tepat.
Semestinya bila konsisten dengan pola itu, Pendidikan seharusnya tidak
dikotomik, tetapi holistik yang tercermin dalam lembaga pendidikannya,"
Jika, konsisten dengan ilmu, maka
semestinya segera memposisikan diri
menjadi pelopor sebagai pribadi yang
lebih utuh atau holistik itu. Lebih lanjut keutuhan dan atau holistisitas dalam
melihat materi pelajaran juga tergambar dalam penyelenggaraan pendidikannya. Jika
pendidikan masih membedakan antara ilmu umum dan ilmu agama, fakultas umum dan
fakultas agama, orang umum dan agama, maka Lembaga pendidikan pun, masih masuk
pada kategori kelompok yang memandang ilmu secara dikotomik
Berangkat dari pemahaman itu maka, semestinya
di Iingkungan pendidikan tidak mengenal
pelajaran Budi pekerti secara terpisah dari mata pelajaran lainnya. Mata
pelajaran Budi Pekerti masuk pada seluruh
bidang studi pada umumnya.dan secara tersendiri untuk materinya Yang membedakan
antara pelajaran bukan terletak pada
jenis mata pelajaran atau bidang studi, melainkan pada sumber ilmu yang
digunakannya.
Kajian-kajian keilmuan pada umumnya hanya
mendasarkan pada sumber-sumber berupa hasil observasi, eksperimen dan penalaran
logis, sedangkan di lembaga pendidikan
selain itu menggunakan sumber yang berasal dad kitab suci Al-Qur'an dan .
Pendidikan di lingkungan selalu
menempatkan ayat-ayat qawliyah dan ayat-ayat kauniyah secara padu. Kedua-duanya
digunakan sebagai instrument untuk mendapatkan kebenaran yang dicari untuk
mendapatkan keselamatan dan mendekatkan diri pada Allah SWT.
Tatkala para siswa atau mahasiswa belajar
tentang biologi, fisika, kimia dan lain-lain selalu melihat bagaimana AlQur'an dan
Hadits Nabi berbicara tentang hal itu. Demikian pula tatkala siswa dan atau
mahasiswa belajar ilmu sosial, yaitu sosiologi, psikologi, sejarah dan budaya,
selain melakukan observasi, eksperimen dan penalaran logis juga melihat
bagaimana Al-Qur'an dan Hadits berbicara tentang itu, Demikian pula halnya
dalam studi-studi humaniora, seperti filsafat, bahasa sastra dan seni.
Dalam konteks kekinian,pendidikan diharapkan tidak hanya mampu melahirkan
kecerdasan namun ia juga harus mampu
melahirkan kader-kader bangsa yang terkendali emosional dan akhlaknya. Untuk
itu hendaknya lembaga pendidikan di lingkungan Muhammadiyah harus berorientasi
akademik dan sekaligus berorientasi pada ideologi Inilah kunci pendidikan yang holistik model . Lantas
model lembaga pendidikan yang seperti apa yang mampu mengakomodasi orientasi
akademik dan ideologi Muhammadiyah? Jawabnya terletak pada, upaya pertama,
menyelenggarakan pendidikannya dengan sistem full day school (waktu
pembelajaran hingga sore hari) dan menggunakan metode-metode baru dalam
pembelajaran. Kedua,
melakukan perumusan filsafat dan pengembangan kurikulum pendidikan alternatif
serta modifikasi kurikulum. Ketiga, melakukan tafsiran Al-Qur'an dengan
pendekatan sistem, atau Tafsir Sistem. Satu konsep kunci yang harus dirumuskan,
yakni ide fitrah berupa tauhid. Artinya, orientasi filsafat dan kurikulum
pendidikan bertitik tolak dari konsep Tauhid.
Keempat, menggunakan paradigma pendidikan Islam
dengan mengaksentuasikan nilai-nilai tauhid sebagai tujuan yang paling prinsipil
dan substansial. Dan kelima, berikhtiar membangun kurikulum berbasis tauhid
(KBT) sebagai program khusus pada tingkat SD.
"Selain lima butir di atas, perlu
pengaktifan siswa dan mahasiswa dalam rangka mewujudkan ukhuwah Islamiyah demi
pemantapan syariat Islam bagi umat Islam dan keaktifan dalam kegiatan dakwah
dan organisasi .
Pada
masa awal, pendidikan merupakan proyek
besar spiritual learning sebagai praksis pembaharuan yang menyatukan Islamic Studies dan Secular
Studies. Dari sini tumbuh tradisi masyarakat pembelajar (learning society)
setelah tradisi masyarakat pembelajar demikian mendasari berbagai kebijakan
pendidikan masa kemerdekaan terutama bagi warga muslim. "Disini Materi
Budi pekerti mestinya bisa mengembangkan pendidikan di dalam satu nafas dalam dinamika negara
bangsa," ungkapnya.
Dengan mengembalikan pada spirit spiritual
learning dapat diandalkan untuk mendobrak jalan buntu sejarah pendidikan kita
sekarang. Masalahnya, siapkah kita semua?
C. Pembahasan
Metode Pendidikan Holistik
Yang Reflektif, Transmitif, Dan Progresif
Seorang lulusan SMK Otomotif sedang diuji
kemampuannya untuk praktek las membuat pagar dari besi. Sebelum menyalakan las,
dia mengawali pekerjaan dengan bacaan basmalah. Sesudah itu, sebagaimana biasa,
dia melafazkan doa. Tapi lama ditunggu-tunggu temyata dia belum juga
mengerjakan praktek mengelas pagar besi. Rupanya doa yang dilafazkannya cukup
panjang. Sampai waktu praktek
hampir habis, dia baru saja memulai pekerjaan. Hasil praktek pun tidak begitu
memuaskan. Temyata, lulusan SMK Otomotif iebih piawai berdoa ketimbang
menguasai praktek mengelas pagar besi.
Seorang akan menunaikan ibadah haji. Tetangganya titip
pesan supaya dibelikan sebuah kitab. Nama kitabnya, "Kasyful Izaar"
(?) Ia langsung tanggap. Dia menyatakan bersedia, akan mencarikan kitab
tersebut. Dia yang tidak
paham tradisi keIslaman di pesantren meyakini saja dengan nama kitab tersebut.
Sesampai di tanah suci dan setelah selesai menunaikan ibadah haji, aktivis tersebut
langsung mencari kitab pesanan demi tetangganya. Lama dia berkeliling ke toko-toko
kitab, tetapi tidak menemukan kitab "Kasyful Izaar." Bahkan dia berkali-kali
jengkel karena beberapa penjual kitab malah menertawakannya. Setelah sampai di
kampung halaman, aktivis tersebut menemui
tetangganya dan minta maaf tidak dapat mengusahakan kitab pesanannya. Dia
mengaku sudah berkeliling toko-toko di tanah suci, tetapi tidak mendapati nama
kitab yang dimaksud. Sambil menahan kecut, ia menanyakan, "Memang isi
kitab itu tentang apa tho ? Artinya apa ? " Setelah dijawab oleh tetangga,
ia baru sadar akan kelemahan dan keteledorannya. Itu tadi joke yang sering dilontarkan
oleh kalangan Islam tradisionalis untuk menyindir kelemahan kalangan Islam
modernis. Memanfaatkan kelemahan kaum modernis yang tidak begitu paham bahasa
Arab dan kitab-kitab klasik (kitab kuning), kaum tradisonalis membikin joke
tentang kitab yang bernama "Kasyful lzaar." Padahal, tak ada kitab yang bernama "Kasyful
Izaar." Apalagi, arti kata "Kasyful Izaar" sangat seronok.
Artinya "menyingkap kain " (sarung). Jelas saja tak ada toko kitab,
yang menyediakan kitab ini.
Ia sudah cukup meresahkan kalangan guru
atau pendidik apalagi joke kitab
"Kasyful Izaar" yang begitu tandas menyindir kualitas sumber daya
manusia di perguruan ini. Tampak jelas ketidakseimbangan antara ilmu-ilmu ke Islaman,
ilmu-ilmu umum, dan penguasaan teknologi pada output pendidikan Identitas pendidikan sudah tergerus oleh zaman dan tidak mampu
melahirkan sumber daya manusia Islami yang tanggap menghadapi perubahan zaman.
Tampaknya, spirit zaman kembali berulang.
Zaman memang tak dapat diputar kembali ke titik nol derajat, tetapi spirit
zaman kembali lagi dengan tantangan yang berbeda.
Pada akhir abad ke-19, memahami umat Islam
dalam kondisi terbelakang. Kauman, seabad silam, adalah perkampungan Muslim
yang dikenal konservatif Ketika sekelompok mitelektual elite sedang menintis pergerakan
dalam rangka memajukan kaum boemipoetra, umat Islam di Kauman cenderung mengisolasi
diri, acuh tak acuh melihat penindasan kolonial Belanda. Dalam kondisi
tertutup, umat Islam larut dalam budaya taklid.
Untuk mengatasi kemunduran umat Islam akibat
kejumudan dalam berpikir dan terbelakangan dalam ekonomi-politik. melakukan sebuah eksperimen genuine. Ia
meminjam model pendidikan Belanda untuk keperluan pengajaran agama Islam.
Dengan tetap mempertahankan identitas pendidikan Islami, pendiri ini berhasil mensintesiskan kurikulum
pendidikan di pesantren dan sekolah gouverbement. Jadilah madrasah diniyah Islamiyah
di serambi rumah Masyarakat Islam di
Kauman yang masih asing dengan kehadiran model sekolali gouvernement menyebut
madrasah diniyah Islamiyah dengan nama Sekolah Kiyai."
Madrasah diniyah Islamiyah merupakan
prototype sekolah yang bercirikan keIslaman yang kuat dan dipadukan dengan
kemodeman. Atas jasa pengurus Boedi Oetomo cabang Yogyakarta, "Sekolah
Kiyai" mendapat subsidi dari pemerintah kolonial. Status sekolah kyai
disetarakan dengan volkschool dengan masa pendidikan 2,5 tahun. Guru bantu didatangkan dan
Kweekschool di Jetis. Murid-murid Kweekschool Jetis juga banyak membantu proses
belajar mengajar di sekolah Kiyai.
Memasuki tahun 1919, hasil eksperimen
genuine-nya. Beberapa sisa murid volkschool digembleng kembali dengan pelajaran agama Islam secara mendalam.
Kelas inilah yang kemudian dikenal dengan Qismul Arqa. Kelas ini berkembang pesat
hingga berubah menjadi Pondok. Pada tahun 1921, Pondok dipersiapkan sebagai Kweekschool Kurikulum
Kweekschool Islam pertama ini mengacu pada model integralisme ilmu-ilmu umum
dan agama. Misalnya, untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran agama Islam
dirancang pelajaran bahasa Arab. Adab. Tarikh Anbiya. Fiqh, Tauhid, Imla, Al-Qur'an dan Tafsir al-Qur'an, dan
Hadits. Untuk mengikuti kemodernan dan mengimbangi kualitas output
sekolah-sekolah Belanda, Kweekschool Islam mengajarkan materi seperti. Sejarah
Tanah Jawa dan Hindia. Berhitung, Ilmu Bumi, Natuirkennis (Psikologi), Ilmu Guru.
Bahasa Jawa, Bahasa Melayu dan Menulis serta Mengambar.
Itulah formula pendidikan
integralisme yang sejak awal
dilaksanakan. Dengan model pembelajaran integgral. kualialitas output sekolah-sekolah
mampu bersaing di pentas nasional dengan
tidak menghilangkan karakter keislamiannya. Sekalipun para lulusan
sekolah-sekolah dikenal Islami (santri),
tetapi mereka tidak kolot dan tertutup. Sekalipun tampak modern, tetapi mereka
tak dapat disetarakan dengan para lulusan sekolah-sekolah boemipoetra yang tidak
mengajarkan agama Islam.
Melintasi zaman memasuki model pendidikan kembali diuji. Kali ini tantangan yang dihadapi berbeda. Abad
globalisasi memang penuh tantangan baru. Apakah kata kunci yang tepat untuk
menjawab problem pendidikan saat ini?
Kkepeloporan
harus menjadi ciri khas pendidikan Hanya
saja, kepeloporan itu terjadi hanya sekali dan terhenti begitu gagasan inovatif
yang diusungnya segera diadopsi oleh pihak lain. Kepeloporan di bidang pendidikan di Indonesia telah
memunculkan lembaga-lembaga pendidikan maupun perorangan sebagai golongan early
adopter atas ide pendidikan dan sistem sekolah.
"Komunitas pesantren yang semula
termasuk golongan lagard akhirnya juga menjadi golongan late adopter dengan
menyelenggarakan two in one system, yaitu sistem sekolah berdampingan dengan
sistem pesantren" kata Muhajir mengakhiri ceramahnya.
Akan tetapi, sungguh sangat disayangkan,
fenomena dewasa ini menunjukkan bahwa kepeloporan di bidang pendidikan itu tinggal
memori kejayaan di masa lalu. Peran dominan di bidang pendidikan kini tidak
lagi di tangan tetapi telah diambil alih
oleh negara.
Kata kunci pendidikan saat ini adalah "kemampuan
mengantisipasi; mengerti dan mengatasi; mengakomodasi; dan mereorientasi
terhadap tantangan, tuntutan, dan perubahan masa depan."
Dengan begitu, pendidikan yang dijiwai
semangat "Al-Islam harus bersifat
reflektif, transmitif, dan progresif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar