Selasa, 10 Maret 2015

Pendidikan holistik



PENDIDIKAN HOLISTIK
BAGI PEMBENTUKAN PRILAKU AKHLAKUL KARIMAH
                                                                             oleh :
YUSUP, S Pd MM 
PENGAWAS TK/SD
UPTD DIKDAS KECAMATAN CIPONDOH TANGERANG

 
A.    Latar Belakang
Pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama antara sekolah dan keluarga. Hal ini mungkin disadari oleh semua pihak. Namun kenyataan di lapangan membuktikan bahwa tanggung jawab tersebut sering terlupakan. Walaupun diakui bahwa kualitas pendidikan di sekolah masih memerlukan banyak perbaikan, namun menurunnya prestasi belajar anak tidak adil bila ditimpakan seluruhnya pada sekolah.  Perilaku belajar di rumah pun turut berpengaruh pada prestasi belajar anak. Perbaikan kualitas pendidikan anak di sekolah seyogyanya diimbangi pula oleh perbaikan tanggung jawab orang tua di rumah. Kekurangan yang terjadi di sekolah diupayakan tidak terjadi di rumah. Dalam konteks ini, peran serta orang tua akan berpengaruh pada prestasi belajar anak di sekolah, karena cara belajar anak di rumah akan mempengaruhi cara belajar anak di sekolah.  
Sistem pendidikan modern ialah sistem pendidikan yang berbasis pada nilai prilaku yang dilembagakan secara modern seperti model pendidikan barat tetapi dengan substansi akhlak yang diproyeksikan menghasilkan lulusan yang kuat
iman dan kepribadiannya sekaligus mampu menghadapi tantangan zaman. Pendidikan Holistik  itu memadukan pengetahuan Akhlak/Budi Pekerti dan pengetahuan umum, sekaligus memadukan kemampuan holistik (menyeluruh) antara keimanan dan kepribadian dengan dengan kemampuan-kemampuan intelektual, praktikal, dan sosial.
Dengan pendidikan yang modern dan holistik itu telah melahirkan generasi  terpelajar yang kuat iman dan kepribadiannya sekaligus mampu menjawaqb tantangan zaman, karena itu pendidikan yang mengintegrasilkan iman dan kemajuan. Iman bukan hanya dogma tetapi diaktualisasikan dan menjadi basis bagi kemajuan, sekaligus kemajuan itu memiliki keterpaduan dengan keimanan. Jilka di belakang hari semakin berkembang generasi  terpelajar yang masuk ke berbagai struktur kehidupan  karena mereka  terbina oleh sistem pendidikan  modern yang holistik.
Karena itu, sesungguhnya jika ingin mengembangkan pendidikan  yang lebih unggul  saat ini, sesungguhnya spirit dan kandungan isi pendidikan  itu sejatinya merupakan sistem pendidikan  yang  menyeluruh atau holistik. Kini yang diperlukan ialah revitalisasi seluruh aspek dalam sistem pendidikan  di berbagai jenis dan jenjang pendidikan. Seluruh unsur atau elemen dalam sistem pendidikan dari aspek nilai, kurikulum, pengajar, infrastruktur, dan berbagai aspek lainnya harus diperkuat dan diperkaya sehingga memiliki nilai lebih dalam berbagai hal. Model pendidikan  dapat bermacam ragam baik yang umum seperti sekolah maupun khusus seperti madrasah, tetapi spirit dasarnya ialah sistem pendidikan modern yang holistik, yang mengintegrasilkan nilai-nilai  dan kehidupan yang berkemajuan.
Pendidikan yang harus melahirkan generasi cerdas dan berakhlak dalam segala bidang kehidupan. Pribadi  yang dilahirkan dari sistem pendidikan Holistik ini pun sebagaimana konsep dasar tadi tentang  manusia terpelajar, ialah yang berkemampuan dalam seluruh bidang ilmu, sehingga mereka yang disebut Pribadi berakhlak itu benar-benar yang berilmu dan mengamalkan ilmunya itu untuk kejamuan hidup. Pribadi yang berpikiran maju, yang apresiatif terhadap kemajuan, dan mampu menghadirkan atau mewujudkan nilai-nilai  itu untuk kemajuan hidup umat manusia. Bukan Pribadi  tradisional, yang terbatas pada ilmu , berpikiran  konservatif, sehingga di masa lampau alergi bahkan, menentang Pendidikan plus Akhlak yang berkemajuan.
Pendidikan Konvensional di mana pun saat ini sedang berhadapan dengan kehidupan yang kompleks dan berada dalam zaman modern. Oleh karena itu tidak boleh gagap dan kemudian secara salah kaprah ingin kembali ke masa lampau hanya karena kecemasan menghadapi tantangan zaman modern. Pendidikan Holistik justru harus dihadirkan sebagai ajaran alternatif dalam dunia modern, bukan malah melarikan diri dari dinamika zaman. Karena itu, pendidikan  dalam berbagai jalurnya, termasuk melalui pendidikan model Bording shcool, harus memancarkan spirit awal pendidikan  yakni pendidilkan  modern yang holistik. Pendidikan yang mampu melahirkan generasi  terpelajar yang kokoh iman dan kepribadiannya, sekaligus berpikiran maju dan mampu menjawab tantangan zaman.
 Memang tidak mungkin dipisahkan dengan dunia masa perintisan  sudah mulai kerja pencerdasan generasi baru . Saat dunia pendidikan formal masih dikelola oleh pemerintah kolonial dan steril dari nuansa agama,
Upaya ini ternyata membawa dampak yang cukup besar. Para Priyayi yang selama itu tidak kenal agama (meskipun secara formal mengaku beragama Islam) menjadi tahu agama dan tertarik untuk lebih mendalami dan menjalankanya. Upaya pendidikan memang sangat strategis mengubah sebuah bangsa. Ketika seseorang menjadi terpelajar, jiwa rasiorial jadi akan terbuka.
Oleh karena itu, ketika kita  menyelenggarakan program pendidikan  tujuannya harus jelas. Yaitu untuk memfasilitasi terciptanya generasi  yang terpelajar dan berakhlaq. Generasi baru yang beriman kokoh namun sadar akan kemajuan.
Akhlak dan Kemajuan adalah dua hal yang tidak boleh terpisahkan dalam setiap penyelenggaraan pendidikan . Apa pun jenis pendidikan yang diselenggarakan, baik itu Pendidikan Dasar, SMA, SMK, dan jenis pendidikan yang lainnya, harus ada misi penanaman Akhlak yang berkemajuan dalam diri setiap anak didik. Materi Akhlak atau Pelajaran Budi Pekerti yang tidak hanya dihafal dan terhenti sebagai ilmu, akan tetapi   tercermin teraktualisasikan dalam setiap perilakunya.
Walaupun tidak terteorikan dan dijelaskan dalam nama lembaga pendidikannya,  menerapkan pendidikan holistik, pendidikan terpadu yang memadukan akhlaq dan kemajuan.
Dari lembaga pendidikan holistik seharasnya bangsa ini bisa berharap lahirnya generasi-generasi baru yang cerdas dan tercerahkan. Generasi baru yang menguasai teknologi tinggi, berwawasan luas, dan  berakhlak .
Pendidik tidak selayaknya hanya mengejar nilai dan prestasi akademik yang tinggi namun abai pada penanaman nilai-nilai Akhlak. Sekolah harus memotivasi untuk berprestasi tinggi namun juga harus memantau secara detail dan mendalam bagaimana akhlak peserta didiknya. Bagaimana kejujuran, ketawadhuan, kesabaran, dan keistiqamahannya juga harus terpantau dan terevaluasi secara rinci.
Sekolah  tidak cukup hanya menyuruh anak didiknya menghafal Undang – undang Peraturan Pemerintah Peraturan Daerah Tata Tertib di Sekolah dan lain lain . Namun juga, harus membimbingnya supaya bisa diejawantakan dalam kehidupan nyata. Dan dengan pendidikan holistik, mereka akan menjadi manusia yang berwatak, manusia yang memiliki integritas pribadi, tangguh dan sanggup memenangkan masa depan.




B.     Permasalahannya
1. Mengapa lembaga – lembaga pendidikan di Indonesia sepertinya hanya menghasilkan ratusan ribu, atau bahkan jutaan penganggur setiap tahun?
 2. Mengapa lembaga pendidikan di Indonesia sepertinya hanya menghasilkan banyak manusia atau pemimpin yang pintar tetapi culas, curang dan merasa tidak berdosa kalau korupsi itu menyengsarakan umat atau rakyatnya
3.  Mengapa lembaga pendidikan di negara kita sepertinya hanya menghasilkan manusia-manusia penurut, mudah ditundukkan oleh kekuatan kapitalis global, oleh kekuatan pemuja pasar besar global (kaum neolib), dan mudah didekte oleh pengendali adikuasa politik, ekonomi, budaya dan militer global?
4. Mengapa pendidikan di Indonesia sepertinya menghadapi jalan buntu?

Jawabnya sederhana. Karena pendidikan dan lembaga pendidikan kita tidak menggarap atau abai dalam menggarap karakter manusia, kurang menggarap pribadi sehingga memiliki integritas yang kuat. Dan pendidikan di Indonesia cenderung alpa menggarap manusia agar menjadi manusia tangguh, kritis, relijius produktif dan memiliki visi jauh ke depan.
Pendidikan di Indonesia, direduksi atau terjerembab menjadi sekadar pengajaran belaka. Pendidikan, hanya sekadar menjadi proses ta'lim, proses transfer pengetahuan. belum sampai pada level tarbiyah, yang menjelaskan pengetahuan atau ilmu telah mewujud menjadi perilaku.
Pendidikan di Indonesia masih belum mampu menjadikan manusia terdidik dan beradab. Pendidikan di Indonesia baru menghasilkan manusia pintar, manusia terpelajar. Padahal, pembentukan manusia terdidik dan beradab itu dapat dijadikan fondasi bagi pembentukan bangsa yang berkarakter. Dan bangsa yang berkarakter akan memiliki peluang untuk memenangkan masa depan. Sedang, bangsa yang tidak memiliki karakter hanya akan berada pada posisi sebagai pecundang.
Tanda-tanda akan terjerumusnya bangsa Indonesia menjadi bangsa pecundang, karena pendidikannya tidak beres, sudah kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Moral, etika, kejemihan berfikir dan dialog untuk memecahkan masalah sekarang sepertinya tercabik-cabik oleh kepentingan, kekerasan dan keinginan untuk memuaskan hawa nafsu.
Tentu saja, keadaan ini membuat para pemimpin di semua level gelisah.  pendidikan belum mampu memperbaiki keadaan? Apakah Lembaga Pendidikan gagal melakukan transformasi pendidikannya sehingga apa yang dihasilkan kurang tepat atau kurang nyambung dengan tuntutan kehidupan hari ini?
Melihat kebanyakan pendidikan masih bersifat dikotomik, yaitu membedakan antara pendidikan umum dan pendidikan Akhlak, antara pelajaran umum dan pelajaran agama, antara ilmu umum dan ilmu agama. Dikotomisasi tersebut anehnya, selama ini juga terlihat juga terjadi di lembaga – lembaga Pendidikan . Pandangan dikotomik itu menjadikan Islam dilihat hanya sebatas sebagai agama atau agama dipisahkan dari persoalan-persoalan lain seperti ekonomi, politik, sosial, hukum, dan juga ilmu pengetahuan."
Di lingkungan pendidikan  sendiri cara memandang ilmu secara dikotomik itu juga masih tampak. Selain itu di banyak sekolah terdapat Pelajaran Agama dan Budi pekerti, tetapi terpisah dan tidak terintegrasi ke dalam pelajaran pelajaran umum Sehingga seolah-olah, disadari atau tidak, Akhlak diposisikan secara terpisah dari bangunan keilmuan lainnya. Jadi, di Pendidikan  belum dilihat secara holistik.
 Pandangan dikotomik seperti itu sesungguhnya sangat tidak relevan. Karena Ilmu itu sendiri mestinya berisi berbagai aspek kehidupan. Jika selama ini kajian yang baru menyentuh aspek aqidah, hukum,Peraturan Tata tertib,sangsi fiqh,  seterusnya, tidak berarti bahwa Ilmu hanya sebatas itu. Masih ada aspek lain yang sedemikian luas yang seharusnya dikembangkan, Selanjutnya, Pendidikan memiliki acuan Refleksi sikap. yang sangat tepat. Semestinya bila konsisten dengan pola itu, Pendidikan seharusnya tidak dikotomik, tetapi holistik yang tercermin dalam lembaga pendidikannya,"
Jika, konsisten dengan ilmu, maka semestinya  segera memposisikan diri menjadi pelopor sebagai pribadi  yang lebih utuh atau holistik itu. Lebih lanjut keutuhan dan atau holistisitas dalam melihat materi pelajaran juga tergambar dalam penyelenggaraan pendidikannya. Jika pendidikan masih membedakan antara ilmu umum dan ilmu agama, fakultas umum dan fakultas agama, orang umum dan agama, maka Lembaga pendidikan pun, masih masuk pada kategori kelompok yang memandang ilmu secara dikotomik
Berangkat dari pemahaman itu maka, semestinya di Iingkungan pendidikan  tidak mengenal pelajaran Budi pekerti secara terpisah dari mata pelajaran lainnya. Mata pelajaran  Budi Pekerti masuk pada seluruh bidang studi pada umumnya.dan secara tersendiri untuk materinya Yang membedakan antara pelajaran  bukan terletak pada jenis mata pelajaran atau bidang studi, melainkan pada sumber ilmu yang digunakannya.
Kajian-kajian keilmuan pada umumnya hanya mendasarkan pada sumber-sumber berupa hasil observasi, eksperimen dan penalaran logis,  sedangkan di lembaga pendidikan selain itu menggunakan sumber yang berasal dad kitab suci Al-Qur'an dan . Pendidikan di lingkungan  selalu menempatkan ayat-ayat qawliyah dan ayat-ayat kauniyah secara padu. Kedua-duanya digunakan sebagai instrument untuk mendapatkan kebenaran yang dicari untuk mendapatkan keselamatan dan mendekatkan diri pada Allah SWT.
Tatkala para siswa atau mahasiswa belajar tentang biologi, fisika, kimia dan lain-lain selalu melihat bagaimana AlQur'an dan Hadits Nabi berbicara tentang hal itu. Demikian pula tatkala siswa dan atau mahasiswa belajar ilmu sosial, yaitu sosiologi, psikologi, sejarah dan budaya, selain melakukan observasi, eksperimen dan penalaran logis juga melihat bagaimana Al-Qur'an dan Hadits berbicara tentang itu, Demikian pula halnya dalam studi-studi humaniora, seperti filsafat, bahasa sastra dan seni.
Dalam konteks kekinian,pendidikan  diharapkan tidak hanya mampu melahirkan kecerdasan  namun ia juga harus mampu melahirkan kader-kader bangsa yang terkendali emosional dan akhlaknya. Untuk itu hendaknya lembaga pendidikan di lingkungan Muhammadiyah harus berorientasi akademik dan sekaligus berorientasi pada ideologi  Inilah kunci pendidikan yang holistik model . Lantas model lembaga pendidikan yang seperti apa yang mampu mengakomodasi orientasi akademik dan ideologi Muhammadiyah? Jawabnya terletak pada, upaya pertama, menyelenggarakan pendidikannya dengan sistem full day school (waktu pembelajaran hingga sore hari) dan menggunakan metode-metode baru dalam pembelajaran. Kedua, melakukan perumusan filsafat dan pengembangan kurikulum pendidikan alternatif serta modifikasi kurikulum. Ketiga, melakukan tafsiran Al-Qur'an dengan pendekatan sistem, atau Tafsir Sistem. Satu konsep kunci yang harus dirumuskan, yakni ide fitrah berupa tauhid. Artinya, orientasi filsafat dan kurikulum pendidikan bertitik tolak dari konsep Tauhid.
Keempat, menggunakan paradigma pendidikan Islam dengan mengaksentuasikan nilai-nilai tauhid sebagai tujuan yang paling prinsipil dan substansial. Dan kelima, berikhtiar membangun kurikulum berbasis tauhid (KBT) sebagai program khusus pada tingkat SD.
"Selain lima butir di atas, perlu pengaktifan siswa dan mahasiswa dalam rangka mewujudkan ukhuwah Islamiyah demi pemantapan syariat Islam bagi umat Islam dan keaktifan dalam kegiatan dakwah dan organisasi  .
 Pada masa awal, pendidikan  merupakan proyek besar spiritual learning sebagai praksis pembaharuan  yang menyatukan Islamic Studies dan Secular Studies. Dari sini tumbuh tradisi masyarakat pembelajar (learning society) setelah tradisi masyarakat pembelajar demikian mendasari berbagai kebijakan pendidikan masa kemerdekaan terutama bagi warga muslim. "Disini Materi Budi pekerti mestinya bisa mengembangkan pendidikan  di dalam satu nafas dalam dinamika negara bangsa," ungkapnya.
Dengan mengembalikan pada spirit spiritual learning dapat diandalkan untuk mendobrak jalan buntu sejarah pendidikan kita sekarang. Masalahnya, siapkah kita semua?


C.     Pembahasan
Metode Pendidikan Holistik Yang Reflektif, Transmitif, Dan Progresif
Seorang lulusan SMK Otomotif sedang diuji kemampuannya untuk praktek las membuat pagar dari besi. Sebelum menyalakan las, dia mengawali pekerjaan dengan bacaan basmalah. Sesudah itu, sebagaimana biasa, dia melafazkan doa. Tapi lama ditunggu-tunggu temyata dia belum juga mengerjakan praktek mengelas pagar besi. Rupanya doa yang dilafazkannya cukup panjang. Sampai waktu praktek hampir habis, dia baru saja memulai pekerjaan. Hasil praktek pun tidak begitu memuaskan. Temyata, lulusan SMK Otomotif iebih piawai berdoa ketimbang menguasai praktek mengelas pagar besi.
Seorang  akan menunaikan ibadah haji. Tetangganya titip pesan supaya dibelikan sebuah kitab. Nama kitabnya, "Kasyful Izaar" (?) Ia langsung tanggap. Dia menyatakan bersedia, akan mencarikan kitab tersebut. Dia yang tidak paham tradisi keIslaman di pesantren meyakini saja dengan nama kitab tersebut. Sesampai di tanah suci dan setelah selesai menunaikan ibadah haji, aktivis tersebut langsung mencari kitab pesanan demi tetangganya. Lama dia berkeliling ke toko-toko kitab, tetapi tidak menemukan kitab "Kasyful Izaar." Bahkan dia berkali-kali jengkel karena beberapa penjual kitab malah menertawakannya. Setelah sampai di kampung halaman, aktivis  tersebut menemui tetangganya dan minta maaf tidak dapat mengusahakan kitab pesanannya. Dia mengaku sudah berkeliling toko-toko di tanah suci, tetapi tidak mendapati nama kitab yang dimaksud. Sambil menahan kecut, ia menanyakan, "Memang isi kitab itu tentang apa tho ? Artinya apa ? " Setelah dijawab oleh tetangga, ia baru sadar akan kelemahan dan keteledorannya. Itu tadi joke yang sering dilontarkan oleh kalangan Islam tradisionalis untuk menyindir kelemahan kalangan Islam modernis. Memanfaatkan kelemahan kaum modernis yang tidak begitu paham bahasa Arab dan kitab-kitab klasik (kitab kuning), kaum tradisonalis membikin joke tentang kitab yang bernama "Kasyful lzaar." Padahal, tak ada kitab yang bernama "Kasyful Izaar." Apalagi, arti kata "Kasyful Izaar" sangat seronok. Artinya "menyingkap kain " (sarung). Jelas saja tak ada toko kitab, yang menyediakan kitab ini.
Ia sudah cukup meresahkan kalangan guru atau pendidik  apalagi joke kitab "Kasyful Izaar" yang begitu tandas menyindir kualitas sumber daya manusia di perguruan ini. Tampak jelas ketidakseimbangan antara ilmu-ilmu ke Islaman, ilmu-ilmu umum, dan penguasaan teknologi pada output pendidikan  Identitas pendidikan  sudah tergerus oleh zaman dan tidak mampu melahirkan sumber daya manusia Islami yang tanggap menghadapi perubahan zaman.
Tampaknya, spirit zaman kembali berulang. Zaman memang tak dapat diputar kembali ke titik nol derajat, tetapi spirit zaman kembali lagi dengan tantangan yang berbeda.
Pada akhir abad ke-19, memahami umat Islam dalam kondisi terbelakang. Kauman, seabad silam, adalah perkampungan Muslim yang dikenal konservatif Ketika sekelompok mitelektual elite sedang menintis pergerakan dalam rangka memajukan kaum boemipoetra, umat Islam di Kauman cenderung mengisolasi diri, acuh tak acuh melihat penindasan kolonial Belanda. Dalam kondisi tertutup, umat Islam larut dalam budaya taklid.
Untuk mengatasi kemunduran umat Islam akibat kejumudan dalam berpikir dan terbelakangan dalam ekonomi-politik.  melakukan sebuah eksperimen genuine. Ia meminjam model pendidikan Belanda untuk keperluan pengajaran agama Islam. Dengan tetap mempertahankan identitas pendidikan Islami, pendiri  ini berhasil mensintesiskan kurikulum pendidikan di pesantren dan sekolah gouverbement. Jadilah madrasah diniyah Islamiyah di serambi rumah   Masyarakat Islam di Kauman yang masih asing dengan kehadiran model sekolali gouvernement menyebut madrasah diniyah Islamiyah dengan nama Sekolah Kiyai."
Madrasah diniyah Islamiyah merupakan prototype sekolah yang bercirikan keIslaman yang kuat dan dipadukan dengan kemodeman. Atas jasa pengurus Boedi Oetomo cabang Yogyakarta, "Sekolah Kiyai" mendapat subsidi dari pemerintah kolonial. Status sekolah kyai disetarakan dengan volkschool dengan masa pendidikan          2,5 tahun. Guru bantu didatangkan dan Kweekschool di Jetis. Murid-murid Kweekschool Jetis juga banyak membantu proses belajar mengajar di sekolah Kiyai.
Memasuki tahun 1919, hasil eksperimen genuine-nya. Beberapa sisa murid volkschool digembleng kembali  dengan pelajaran agama Islam secara mendalam. Kelas inilah yang kemudian dikenal dengan Qismul Arqa. Kelas ini berkembang pesat hingga berubah menjadi Pondok. Pada tahun 1921, Pondok  dipersiapkan sebagai Kweekschool Kurikulum Kweekschool Islam pertama ini mengacu pada model integralisme ilmu-ilmu umum dan agama. Misalnya, untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran agama Islam dirancang pelajaran bahasa Arab. Adab. Tarikh Anbiya. Fiqh, Tauhid, Imla,          Al-Qur'an dan Tafsir al-Qur'an, dan Hadits. Untuk mengikuti kemodernan dan mengimbangi kualitas output sekolah-sekolah Belanda, Kweekschool Islam mengajarkan materi seperti. Sejarah Tanah Jawa dan Hindia. Berhitung, Ilmu Bumi, Natuirkennis (Psikologi), Ilmu Guru. Bahasa Jawa, Bahasa Melayu dan Menulis serta Mengambar.
Itulah formula pendidikan integralisme yang  sejak awal dilaksanakan. Dengan model pembelajaran integgral. kualialitas output sekolah-sekolah  mampu bersaing di pentas nasional dengan tidak menghilangkan karakter keislamiannya. Sekalipun para lulusan sekolah-sekolah  dikenal Islami (santri), tetapi mereka tidak kolot dan tertutup. Sekalipun tampak modern, tetapi mereka tak dapat disetarakan dengan para lulusan sekolah-sekolah boemipoetra yang tidak mengajarkan agama Islam.


Melintasi zaman memasuki  model pendidikan  kembali diuji. Kali ini tantangan yang dihadapi berbeda. Abad globalisasi memang penuh tantangan baru. Apakah kata kunci yang tepat untuk menjawab problem pendidikan  saat ini?
           Kkepeloporan harus menjadi ciri khas pendidikan  Hanya saja, kepeloporan itu terjadi hanya sekali dan terhenti begitu gagasan inovatif yang diusungnya segera diadopsi oleh pihak lain. Kepeloporan  di bidang pendidikan di Indonesia telah memunculkan lembaga-lembaga pendidikan maupun perorangan sebagai golongan early adopter atas ide pendidikan dan sistem sekolah.
"Komunitas pesantren yang semula termasuk golongan lagard akhirnya juga menjadi golongan late adopter dengan menyelenggarakan two in one system, yaitu sistem sekolah berdampingan dengan sistem pesantren" kata Muhajir mengakhiri ceramahnya.
Akan tetapi, sungguh sangat disayangkan, fenomena dewasa ini menunjukkan bahwa kepeloporan di bidang pendidikan itu tinggal memori kejayaan di masa lalu. Peran dominan di bidang pendidikan kini tidak lagi di tangan  tetapi telah diambil alih oleh negara.
Kata kunci pendidikan  saat ini adalah "kemampuan mengantisipasi; mengerti dan mengatasi; mengakomodasi; dan mereorientasi terhadap tantangan, tuntutan, dan perubahan masa depan."
Dengan begitu, pendidikan yang dijiwai semangat "Al-Islam  harus bersifat reflektif, transmitif, dan progresif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar